Dec 9, 2009

Ingin Bertanya Ini dan Itu

Belakangan saya sedang sibuk bertanya2 saja di dalam hati tentang beberapa orang teman. Sedang bertanya apa gerangan yg terjadi dan apa yang tengah si anu alami, lalu pada teman lain ingin bertanya apa yang ada di pikirannya sekarang dan mau melakukan hal gila apa lagi setelah mengalami beberapa masalah...Dan kepada dia saya ingin bertanya mau sampai kapan akan begini2 saja? Lain lagi pada teman yang satu ini, saya ingin bertanya kenapa dia terlalu memaksakan diri dan tidak belajar dari yang sudah-sudah. Oya, saya juga mau bertanya kabarmu teman, pascakejadian tak mengenakkan beberapa bulan belakangan...dan pada teman yang jauh di sana saya mau bertanya apa kabar? Kapan kita bercengkrama dan bersenang-senang lagi hehe 

Sudahlah...mungkin sebelum saya bertanya ini dan itu pada mereka, sebaiknya saya bertanya pada diri sendiri dulu saja... pertanyaan2 yg sama!

Nov 5, 2009

*ketikasiotakyganehinibegituberisikdisuatupagi

Menginginkan sesuatu yang tidak dibutuhkan. Ternyata otak dan kewarasan itu sulit sekali mengalahkan nafsu dan perasaan yang bikin gila. Meski selama ini kita merasa menjadi orang yg paling logis sedunia tapi ketika nafsu sudah bicara, ya sudah...seolah kita kehilangan kewarasan. Saya ingin saja mengikutinya, si nafsu, apa yg saya inginkan. Tapi kenyataannya (entah harus bersyukur ato tidak) saya masih saja memaksa diri untuk tetap waras dalam kondisi segila apapun, tetap ada yg menahan saya untuk tidak menuruti begitu saja apa yang saya inginkan, menuruti si nafsu... Hasilnya? Saya jadi tidak menentu, setengah waras (setengah gila), setengah mati, tidak bergairah, lemah, letih dan lesu bahahahahah (apeuuu).... Lalu buat apa menjaga kewarasan kalo itu membuat saya tetap gila?!


Oct 19, 2009

Anger Management*

*meski judulnya sama, ini BUKAN tentang film-nya Adam Sandler dan Jack Nicholson hehehe...

Saya rasa hampir setiap orang pernah kehilangan kendali. Terutama saat mereka sedang benar-benar marah, mumet ato apalah. Saya pun pernah. Meski ketika marah dan kehilangan kendali saya ga sampe guling2an ato ngamuk kaya orang gila dan membuat orang memandang kasian pada saya (jangan sampe juga hehehe). Cuma beberapa waktu lalu saya menjadi saksi bagaimana seseorang (yang masih kerabat saya) marah besar dan benar-benar tampak seperti orang yang kehilangan akal sehat ketika menghadapi masalah. Saya mengerti kenapa dia marah besar, saya bahkan tidak hanya mengerti tapi juga sangat memaklumi, hanya saja saya tetap tidak mengerti dan tidak percaya kalo dia bisa ngamuk2 seperti orang kesurupan tanpa melihat situasi dan kondisi saat itu. Marah-marah, teriak, dan menangis histeris di depan orang2 yang tidak ada hubungannya dengan masalah dia, dan di depan anak-anak yang bisa dibilang anak2nya juga, daaaannn tengah malam pula! Hufffttt...menyedihkan! Tak ada satupun orang di dekat dia saat itu yang mampu menenangkannya. Akhirnya baik saya maupun yang lain lebih memilih untuk mendiamkan dan membuatnya melepaskan semua lewat isak tangisnya. Untung saja histerianya tidak berkepanjangan, kalo iya saya udah berpikir untuk mengajak yang lain menggotong dia ke RSJ hehehe...

Saya percaya setiap orang yang baru tertimpa masalah, pasti butuh waktu untuk bisa menenangkan diri agar bisa berpikir lebih normal. Dan cara orang untuk membuat dirinya tenang juga berbeda2, ada yang lebih memilih menyendiri, mengurung diri di kamar, menangis, atau marah2 (dalam batas yang wajar tentunya). Tapi saya shock jika caranya seperti ini. Dalam kasus ini saya tidak hanya shock, tapi juga sedih melihat orang yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri memilih untuk melampiaskan kekalutannya dengan cara yang berlebihan. Dan saya yakin pada akhirnya ketika "kesadarannya" kembali dia hanya akan menyesali perbuatannya. Karena apa yang telah dia lakukan sama saja telah mempermalukan keluarga, terlebih dirinya sendiri. Saya sendiri sering mendengar dia bermasalah dengan anger management-nya (dan mungkin hampir setiap orang bermasalah dengan yang satu ini). Tapi ketika saya melihat langsung betapa parahnya kontrol emosi dia, saya jadi kasihan. Mungkin orang lain pun mengasihaninya. Bukan karena masalah yang dia hadapi, tapi karena ini bukan kali pertama dia mempermalukan diri dengan cara yang kurang lebih sama. Sesaat ketika peristiwa itu berlalu, semua rasa bercampur aduk di diri saya. Sedih, kecewa, bingung, geram dan marah. Rasa yang (saya pikir) kurang lebih sama dengan orang lain yang ada di sekitar saya saat itu. Saya tidak akan peduli kalo dia bukan siapa-siapa saya. Tapi kenyataannya dia siapa-siapa saya, jadi ini jelas mengganggu pikiran saya...

Ternyata tidak peduli sehebat apapun kita di mata orang lain, tapi kalo kita memiliki kontrol emosi yang sangat buruk seperti ini tetap saja pada akhirnya orang akan menganggap kita benar-benar MENYEDIHKAN! Jadi  ingatlah ketika emosi negatif tengah menyergap, jangan pernah kehilangan akal sehat! 

Oct 10, 2009

Niat? Siap? ya.ya..ya...

Ngomongin temen2 yg udah pada nikah, biasanya diakhiri dengan pertanyaan, "giliran lu kapan?" hahahah... Tak terkecuali beberapa waktu lalu. Lewat pembicaraan dunia maya dengan seorang sahabat sejak kecil, dia menanyakan hal yang sama setelah saya memberitahunya kalo ada salah satu temen SMU kami yang baru saja menikah.

"Belum tau... belum ada calon, belum ada duit dan BELUM SIAP"

itu jawaban saya dan dijawab dengan,

"Kalo nunggu SIAP mah ga bakal pernah siap, Tha. Tapi kalo udah NIAT mah pasti bisa"

Saya hanya manggut-manggut. Lalu pembicaraan kami berlanjut pada curhatan dia mengenai sang pacar yang baru memacarinya selama sebulan terakhir. Dan ketika maen ke rumah pacarnya, sang camer langsung "nembak" dia dengan menyuruh pasangan ini segera menikah tanpa perlu menunggu lebih lama lagi.

"Trus apa masalahnya?" itu saya.
"Hm..gua masih belum yakin siy, Tha."
"Hoo..ya mungkin lu butuh waktu lebih, berproses saja. Yg pasti jangan dipaksain, tapi dirasain dan dipikirin" hahahah apeuu si Martha.

Trus kembali kita ngobrol ngalor ngidul soal pacarnya hingga kemudian kita kembali ke pembahasan yang sama (lagi).

"Sebenernya siy gua belum siap Tha...Masi pengen maen dan bersenang-senang," katanya lagi.
"Well, apa perlu gua mengutip kembali omongan lu barusan?"
siapa tau dia mengalami apa yang dinamakan Short Term Memory?! kekekkek...
"Apaan tha?" nah nah nah tu kaaan...saya bilang juga dia STM hehehe...

Dengan senang hati saya melakukan so called copy paste omongannya barusan. Dia tertawa dan cuma bilang,
"Dasar lu, bisa aja."

Tapi saya ga puas, saya ingin respon lebih dari dia. Bukaaaaan..bukan membuat dia menarik kembali kalimatnya dan kemudian memojokkannya karena dia telah menggunakan istilah saya (tidak SIAP). Saya hanya ingin mengetahui apa yang ada di pikirannya ketika dia sudah memiliki pasangan, bahkan sudah berkenalan dengan orang tua sang pacar (meski itu bukanlah sesuatu yang WAH), tapi kali ini berbeda karena dia sudah bekerja dan berada di zona yg rawan teror "ayo kapan lu nikah..."

"Jadi ada dua hal. Ga SIAP dan Ga NIAT. Lu ada dimana?"
"Beda tipis siy ya" katanya lagi.

Saya diam sejenak, hingga akhirnya saya ketik begini,

"Mungkin kalo kasus gua, belom SIAP makanya belom ada NIAT, tapi kalo lu barangkali belum NIAT makanya ga SIAP."

Jawaban asal yang kemudian saya sadari bahwa untuk kalimat yang terakhir tampaknya akan lebih tepat begini, "tapi kalo lu barangkali belum NIAT, meski sebenernya udah SIAP."

Blaaaahhhhh...

Wat so evaaaa!!!! Yaa pokonya belum SIAP hahahaha... 

Sep 30, 2009

bencisukasukabenci

Saya sering mendengar kata-kata "benci dan suka itu bedanya tipiiiis sekali"...Sebelumnya saya sekedar percaya saja, tapi kini saya benar-benar percaya...Jika banyak orang yang bilang jangan terlalu benci nanti bisa jadi suka, maka kasus yang dialami seorang teman saya berangkat dari kondisi sebaliknya, awalnya suka skrg malah benci ...

Saya rasa hal ini karena ketika kita sangat menyukai seseorang, selalu ada ekspektasi bahwa kita ingin semuanya serba sempurna dari dia, baik sikap maupun ucapan. Dan ketika kita tidak mendapatkannya, kita jadi kecewa, kecewa itu menumpuk, jadilah sakit dan lama-lama benci... Hahahaha ini siy teori sederhana yang langsung terpikir oleh saya ketika sang teman curhat.

Intinya memang tidak baik bukan kalo segala sesuatu itu berlebihan? Ketika kita sampai pada titik ambang batas atau bahkan melewatinya, maka kita telah memasuki area yang kontradiktif dari sebelumnya... Bagi yg tidak masalah dengan itu yaa sebenernya juga tidak ada yang perlu dirisaukan, tapi pada kasus si teman, dia menjadi bingung sendiri dengan perasaannya. Selama ini karena satu dan lain hal, dia memang selalu berusaha keras menetralkan rasa sukanya menjadi rasa yang disebut "normal", tapi tidak menduga bahwa seiring waktu berjalan, alih-alih berhasil dengan usahanya itu, ia malah "terperosok" ke rasa yang benar-benar berseberangan dari yang ia rasakan sebelumnya.

Saya? Hanya bisa tersenyum sambil memberikannya sedikit kata2 ajaib so called advice...
Well, just be wary of such "overly" word

Sep 15, 2009

saatnya pergi sejenak...saatnya buang penyakit

Tak terasa sudah menjelang lebaran (lagi)...Saya masih ingat setahun yang lalu, detik-detik menjelang mudik ke kampung halaman, persis seperti ini, berkutat di depan komputer, menuliskan apa yang saya rasa ingin saya tuliskan sebelum akhirnya saya akan menghilang selama beberapa lama dari dunia maya ini.

Saat ini, hari-hari menjelang mudik, saat pascamenstrual syndrome pula, saya BENCI sekali dengan apa yang tengah bercokol di hati saya. Dulu saya pikir saya bisa berdamai saja dengannya, tapi lama kelamaan dia menjadi penyakit yang membuat saya tertatih-tatih...dan selama ini saya pasrah saja. Tapi sekarang tidak lagi. Saya akan memakai momen pergi sejenak ini untuk membuangnya, mengenyahkan dan mencampakkannya.

Saya kesulitan bernapas di sini, bahkan di sana sebenarnya lebih buruk. Tapi sekarang saya lebih memilih di sana untuk sementara waktu, setidaknya saya bisa memperbaiki otak dan hati saya akibat penyakit yang saya peroleh di sini, sebelum akhirnya saya kembali lagi ke sini dengan pikiran dan perasaan yang jauh lebih sehat... Hope so...

Well, happy holidays everyone... Mohon Maaf Lahir Batin ^^

Sep 3, 2009

Cerita Membosankan Tentang Teh

Lagi inget sesuatu (seperti biasa). Tepatnya pas sahur tadi, saat lagi bikin teh. 
Saya bikin teh dengan menyeduh daun teh (bukan pake tea bag) karena bagi saya rasanya lebih nikmat. Lalu apa alat utama yang diperlukan? Tentunya saringan, biar daun-daun tehnya ga ikut keminum ^^

Dan setiap kali menyeduh daun teh ini, saya selalu diingatkan saat masih kuliah. Suatu malam, demi merasakan nikmatnya air seduhan daun teh ini (karena bosen juga sama teh yang tinggal dicelup) saya dan Ipeh nekad membelinya. Kenapa nekad? Karena di kosan saya tidak memiliki saringan teh dan kita ga mikirin gimana nanti bikin teh-nya, yang penting beli aja. 

"Toh daun teh nikmat-nikmat aja koq kalo keminum juga," pikir saya.
Sampai di kosan saya dan Ipeh langsung menyeduh teh itu di sebuah gelas besar. Tapi akhirnya pertanyaan yg harusnya dari tadi kami pikirkan muncul juga.

Gimana cara nuangin air seduhan teh itu ke cangkir tanpa mengikutsertakan daun-daun tehnya yang tenyata terlalu banyak dan terlalu mengganggu untuk dicuekin?

Kami berdua sempat hampir kecewa karena terancam urung menikmati teh ini. Tapi kami memutuskan untuk tidak menyerah. Akhirnya kami berjibaku menyingkirkan daun-daun teh itu sedikit demi sedikit, lalu menuangkan airnya perlahan ke cangkir (tentu saja sedikit2 ada daun yang kebawa, tapi tidak masalah). Setelah beberapa lama berjuang menyingkirkan daun-daun teh itu, jadilah dua cangkir teh, meski tetep ada daun dan batangan teh yang tampak di permukaan teh, tapi itu sudah tidak mengapa karena yang jelas kami sudah bisa menikmatinya. 

Dan aahhhh...rasanya memang nikmat sekali, selain memang karena teh-nya nikmat dan upacara minum teh ini diselingi dengan obrolan konyol di antara kami, tapi yang paling membuat saya ingat kejadian itu adalah momen dimana kami dengan niatnya menyingkirkan daun-daun itu satu persatu saking inginnya menikmati teh ini. Dan ternyata makin berasa nikmat lagi teh itu.

Hingga kini setiap kali melihat saringan teh saya inget kejadian itu. Saya rasa seandainya waktu itu di kosan ada saringan teh tentu kami tidak perlu bersusah payah menyingkirkan daun-daun teh itu dan bisa langsung menikmatinya. Tapi jika cara membuatnya begitu mudah, tentu saya tidak akan tahu betapa besar keinginan kami berdua untuk meminum teh saat itu. Dan betapa saya masih semangat dan bergairah untuk mendapatkan apa yang saya inginkan...

Kini saya sudah punya saringan teh. Dan saya jadi lebih sering menyeduh daun teh ketimbang menggunakan tea bag, karena ga rela ngeliat saringan itu nganggur hahahahah. 

Dari cerita panjang lebar yang membosankan ini yang ingin saya katakan adalah...

Pada hal-hal tertentu dalam hidup saya saat ini, ada yang saya rasakan jadi lebih mudah ketimbang sebelumnya. Tapi seiring dengan itu saya merasa semangat saya memudar, gairah itu tidak ada lagi... Entahlah, mungkin saya sedang butuh tantangan yang bisa menjadi bensin untuk mengobarkan kembali api semangat dalam diri saya? Hahahaha bahasanya... 

Hm, sepertinya saya harus membuang saringan teh itu hihihihi....



Aug 7, 2009

Warna warni 90-an....


Dari FB ke MP... ^^

You've been tagged, you are supposed to write a note about 20 things you did in the 90s. At the end, choose 21 people to be tagged. You have to tag me so really you just need 20 more people. Good Luck!


1. Suka sekali ngoleksi bulu ayam warna warni yang dikasi sahabat gua. Ga ngerti tuh dia dapet dari mana. Tapi dia punya banyak dan ada satu yang gua suka banget tapi dia juga suka. Sampai akhirnya gua tawarin buat barter. Ternyata dia mau, trus gua pulang sambil berpikir keras mau dibarter pake apa. Di rumah gua menemukan magnet gede punya bokap yang entah kenapa menurut gua cukup menarik saat itu, akhirnya gua ambil aja pas bokap tidur siang (maaf papa) :D dan siang itu akhirnya di rumah temen gua, kita pun melakukan transaksi..hehhehe


2. Pernah iseng naro uang koin ke langit2 mulut hingga akhirnya ga bisa dilepas sendiri trus gua panik dan berakhir dengan nangis sejadi2nya, bikin orang2 di sekolah pada panik. Yang nolongin gua akhirnya adalah guru matematika yang galaknya aujubile. Syereeeemmmm.. Setelah berhasil ngeluarin koin itu, dia marah2 ke gua...Hihihi gua mah bodo amat yg penting koinnya bisa lepas, kalo ga, masa iya gua harus ngemut koin mulu seumur2.. :D


3. Suka ngegigitin pita baju sampe pitanya hancur, abis rasanya manis2 gimanaaa gitu hehhehe


4. Dulu rambutnya pengen dikeriting halus ngikutin temen (tampak bagus), tapi jadinya malah krigajel, alias kriting ga jelas dan gua pun nangis sejadi2nya di salon, ngambek sama tukang salon dan nyokap gua. Sampe rumah gua diketawain abis2an sama tetangga, dan rasanya hidup gua berakhir sampe di sana (lebayyy) Eh, gapapa dooonk namanya juga masi kecil heu..


5. Paling seneng gelendotan atau dipangku sama bokap, trus dia suka nyisirin rambut gua, ngebentuk rambut gua seperti rambut dia hahahah, bahkan belahannya juga sama heheheh membuat kita jadi tampak mirip. Itu mah sebelum rambut gua jadi krigajel yaa (naooon deuih)


6. Kelas 6 SD dan kelas 2 SMP mengalami insiden yang mana dimana namanya dinamakan "keceletot" (apeuuu)...maksud gua dislokasi tempurung lutut, nah lho makin bingung... Pokonya tempurung lutut gua bergeser (kata abang gua mesti dibenerin ke tukang pintu niy, baut engsel-nya ada yg lepas mungkin) heheheh


7. Hm ini mah kayanya pas gua masih 4 ato 5 tahunan kalo ga salah hehehhe...Waktu makan jambu biji pernah dengan sok cerdasnya "ngajarin" tante2 tetangga dengan bilang:

"ini bijinya ga boleh kemakan karena nanti bisa susu buntu," tanpa basa basi mereka pun tertawa terbahak-bahak dan aku pun terdiam, hanya hati berkata:

"ih, dibilangin malah ketawa. Emang gua salahnya dimana?"


8. Suka manjatin pohon buah, buah apapunlah pokonya yang bisa dimakan langsung di atas pohon, yang pasti mah bukan pohon duren...


9. Kalo jajan seneng beli krip krip, dulu harganya 25 perak, tapi sudah tak ada lagi sekarang, padahal itu ada di top list jajanan jadul gua :( Suka Astor juga dan entah kenapa gua ngerasa yg skrg ga seenak dulu, banyak yang gitu tuh jajanan jadul yang masih eksis sampe skrg, suka beda rasanya.. Oya, dulu juga suka banget sama biskuit berbentuk ikan (lupa namanya), soalnya gua punya ritual khusus untuk memakannya. Biasanya bikin susu dulu di gelas gede (kalo ga mangkok) trus biskuit ikannya di tebarin deh di permukaan susu, kaya berenang hahaha, nah ntar gua pilih deh tu satu2 buat dimakan, gayanya kaya orang lagi mancing (apeuuu).


10. Suka sekali berkunjung ke rumah nenek sama bokap, dan paling seneng kalo udah disuruh makan, karena masakan nenek tak ada yang menandingi, hahahahha RM Padang manapun lewaaaaaaaattttt...


11. Dulu punya musuh, tapi emang dia public enemy siy hahahahah jadi suka dikerjain kalo dia ikut maen di permainan rutin kita, kalo ga salah nama permainannya Benteng. Itu batu bata disusun rapi, trus yg kebagian jaga harus bisa nemuin yg laen yg lagi ngumpet, dan jangan sampe kecolongan, karena kalo ga batu batanya dirubuhin trus dia mesti nyusun lagi dan semakin lama lah dia harus jaga. Nah si public enemy ini sama kita selalu dijebak untuk jaga, trus giliran dia jaga, smuanya (termasuk gua) ngumpet yg jauuuuh banget...Bahkan gua seringnya pulang, makan dan nonton dulu di rumah (kebetulan lapangan bermain depan2an sama rumah gua) hahahaha... Sampe akhirnya dia nyerah trus pulang ngadu sama nyokapnya. Gua sama dua sahabat gua pernah dimarahin abis2an sama nyokap dia, sampe temen2 gua nangis, tapi berhubung gua paling kecil jadinya ga ngerti si tante itu ngomong apa, ya gua lempeng aja! Tapi maap yeee kita mah ga pernah balik ngadu ke emak kita masing2. Cumaaa si pengadu ini sama kita makin dikucilin dan dikerjain lagi ahahahha...


12. Senantiasa berantem sama salah satu abang gua, dan sempat menganggap dia adalah ciptaan Tuhan paling jahat sedunia, karena dalam setiap kesempatan dia selalu ngerjain gua. Berhubung kita cuma beda 2.5 tahun, ya otomatis kita menjadi teman sepermainan. Dia bandel banget, sementara gua adalah adik perempuan yang manis dan imut serta tak berdaya, jadi cuma bisa kesel, kadang ampe nangis saking keselnya. Gua bahkan pernah berkata dengan dramatisnya di depan dia (pas SMP kalo ga salah)

"gua ga akan pernah nganggep loe lagi, ga akan mau bicara sama loe lagi. Jadi mulai dari sekarang kita ga ada urusan!"

Gua sempet merasa di atas angin karena dia sedikit terdiam pas gua ngomong gitu, tapi apa daya itu cuma sekian menit sodara2 karena setelah itu dia berulah lagi...huffff...


13. Pernah pengen kabur dari rumah gara2 mecahin botol parfum (lupa punya bokap apa nyokap ya) padahal baru beli...masih pull! Trus gua langsung ngibrit ke rumah tetangga, berpikir apa gua nginep di sana, ato kemana gitu hehehheh... Ujung2nya balik lagi ke rumah dan mendapati orang tua gua lagi ngeberesin sisa pecahan parfum di lantai kamar mereka sambil marah-marah... Gua kira hidup gua sampe hari itu aja hahahaha (lagi2 lebayyy)


14. Sering keliling naek sepeda. Dan kalau mau ngelewatin salah satu rumah tetangga yang anak perempuannya seumuran gua, gua selalu mengambil ancang2 dari jauh untuk mengayuh sepeda sekencang mungkin, karena dari kejauhan anak nyebelin itu selalu dengan setia menunggu gua dengan sebilah kayu di depan rumahnya.


15. Suka Sailormoon, Ksatria Baja Hitam dan superhero made in Japan lainnya. Trus Monkey King, White Snake Legend, dan film Cina gitulah... Suka juga komik Ashari Chan dan Majalah Bobo. Mulai ABG, MTV is the best hehehhe, karena ga cuma denger musik tapi juga banyak muka2 seger yg wara wiri dan bikin para abege kaya gua klepek2 (cih!).


16. Suka sekali dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Pas SD pernah terpilih jadi perwakilan sekolah untuk ikutan lomba program studi Bahasa Indonesia (somboooonnnggg). Dan pas gua lolos ke babak berikutnya, guru Bahasa Indonesia "membantai" gua dengan sekian banyak buku yang harus dibikin sinopsisnya, dia bilang untuk persiapan menghadapi babak berikutnya..


17. Ga pernah tuntas nonton G 30 SPKI (selalu ketiduran), padahal gua tertarik sama sejarah makanya sampe sekarang masih penasaran sama film itu. Salah satu buku berbau sejarah yang gua baca pas SD itu biografi Bung Hatta dan sejak itu jadi menyukai sosok bung Hatta.


18. Senang sekali berjalan-jalan mulai dari objek wisata buatan kaya Taman Mini, sampe wisata alam kaya pantai dan danau yang banyak banget di Sumatera Barat. Kalau ke pantai yang paling gua inget itu salah satu pantai yang airnya jernih banget, gua sampe bisa ngeliat ikan2 dengan berbagai warna tapi tak ada satu pun yg berhasil ditangkap..huh). Trus ke Pantai Air Manis yang ada Malin Kundangnya, hahahaha gua dulu sampe lama banget berdiri di deket patungnya si Malin dan bertanya2 apa legenda itu benar adanya (halah).


19. Pas baru2 masuk SD gua pernah menggila menyanyikan keras2 lagu "I Swear"-nya All 4 One di halaman rumah karena itu lagu orang dewasa berbahasa Inggris pertama yang gua hapal dari awal-akhir, bahkan juga gaya mereka di video klipnya (apeuuu). Selain itu juga sering banget ngedenger lagu2 macam Nirvana, Oasis dan sebagainya yang diputer sama abang gua. Beberapa di antaranya malah tetep nempel terus di otak, meski banyak lagu2 yg kemudian datang dan pergi (termasuk lagu2nya boysband yang menjamur waktu itu) :p

20. Seneng banget liat hujan dari kaca jendela mobil dan liat langit dari lantai atas di rumah, dan sekarang belum menemukan posisi yang pas untuk menikmati langit dan hujan lagi hehehehhe

Aug 6, 2009

Orang seperti mereka itu

orang seperti mereka itu yang membuat saya punya alasan untuk marah
orang seperti mereka itu yang membuat orang lain merasa upayanya disepelekan
orang seperti mereka itu yang bertindak sekenanya tanpa berpikir dampaknya pada orang lain

Tampaknya orang seperti mereka itu sangat sadar bahwa mereka terlalu "besar" untuk melihat yang "kecil". Tapi kepada "orang seperti mereka itu", saya tetap harus menahan diri.  Karena mereka terlalu "besar" untuk dianggap tiada, mereka terlalu besar untuk diperingati hanya dengan sebuah sentilan.

Baiklah, ini memang bukan yang pertama kali, tapi sekarang saya akan ambil saja ini sebagai pelajaran. Yang jelas, ke depan saya hanya akan berpikir dan menulis seperti ini setiap kali saya menerima pelajaran serupa.

Hey kalian yang "besar", lakukan apa saja dan pikirkan apa saja tentang yang "kecil", tapi yang "kecil" tidak akan menyerah, tidak akan berkecil hati hanya karena kalian!!!

Jul 30, 2009

ah...Bandung indah sekali hari ini :)


Saya suka moment di dalam tulisan ini. Yaaa terlihat dari judulnya yg menurut saya cukup mewakili hehehhe. Dan ini tulisan lama, yang kemudian tiba2 ingin saya posting di sini
***
jalan yang sama
waktu yang sama
angkot jurusan yang sama
macet yang sama
duduk di angkot dengan gaya yang sama

tak peduli angkotnya ngetem beberapa kali
tak peduli separah apapun macet jalanan
tak peduli supirnya nyetir dengan sangat menyebalkan (bahkan sering meludah sembarangan)
tak peduli berapa kali harus berhenti di lampu merah

duduk di pojok dan melihat dari jendela angkot ini
ditemani brandy alexander (feist), human & mr.brightside(the killers), trouble is a friend (lenka), dan sebagainya dan sebagainya...

biarkan saja orang itu melihat aneh ke arah saya,
dia juga biarkan saja,
apalagi dia...
hahahhahaha biarkan saja
mungkin mereka belum pernah melihat perempuan duduk sendiri di pojok angkot dan menggoyang2kan tangan & kepalanya sambil tersenyum sepanjang jalan
biarkan saja, karena mereka tidak merasakan hal yang sama seperti saya

"indahnya bandung hari ini"

semuanya karena cahaya senja yang menimpa setiap kendaraan (bahkan yg terjebak macet pun)
semuanya karena pohon-pohon yang bergoyang
semuanya karena angin sore yang sejuk
seperti sebuah lukisan

mungkin kemarin atau kemarinnya atau sebelumnya bandung pernah seperti ini
tapi baru sekarang saya tak henti2nya berkata
ah...bandung indah sekali hari ini:)

-bdg,301208-

Jul 27, 2009

GIMANA CARANYA??!!

Ceritanya berawal dari reunian kecil2an antara saya dengan teman SMA, yang bernama Alcha di BIP Sabtu kemarin. Kita janjian ketemuan di foodcourt dan saya telat setengah jam hehehe. Untungnya Alcha ngebawa temennya bernama Liza, jadi pas nunggu dia dan Liza sempet makan dulu di foodcourt itu, abis makan di foodcourt mereka berdua sempat jalan ke lantai bawah buat liat2.

Pukul 15.00 saya sampai di depan foodcourt dan langsung nge-sms Alcha. Mereka berdua kemudian naik lagi ke atas dan kita akhirnya masuk ke foodcourt. Kita memilih meja paling luar karena cuma itu yang kosong, dan saya hanya memesan jus, sementara mereka tidak pesan apa2. Masih kenyang katanya. Lalu dimulailah kami bernostalgia, sementara Liza yang baru saja saya kenal, memilih untuk meninggalkan kami berdua dan berkeliling sendirian.

Pukul 17.30 saya akhirnya harus mengakhiri temu kangen karena harus segera meluncur ke Sabuga buat liputan sementara Alcha dan Liza mau sholat dulu baru setelah itu pulang. Saat bangkit dari tempat duduk tiba-tiba,

"Lho, tas Alcha mana?"

Saya kaget dan saya pikir dia cuma salah taro. Tapi ternyata saya salah. Karena tas Alcha benar-benar hilang.

Menurut Liza, kronologisnya begini:

Saat mereka makan di foodcourt yang sama mereka memilih meja di pojok lain di foodcourt itu, dan kemudian selesai makan, mereka memutuskan untuk keliling2 ke lantai bawah. Liza yakin saat keluar dari foodcourt itu Alcha masih ngebawa tasnya. Dan  ga mungkin juga hilang di bawah, karena mereka hanya jalan2 dan ga mampir apalagi duduk di suatu tempat. Kesimpulannya, saat naik lagi ke lantai atas dan menemui saya di depan foodcourt pun Alcha masih membawa tasnya, meski saya sendiri ga ingat dia bawa tas atau tidak. Ga merhatiin soalnya, heu... Pas duduk bareng, Alcha naro tas plastik berisi buah di atas meja, dan tasnya sendiri di lantai dekat kaki tepatnya sedikit di bawah meja. Dan itu berarti posisinya di antara saya dan alcha. Sepanjang obrolan kami tidak kemana-mana. Jadi tidak mungkin juga kalo ada yang ngambil.

Saya pikir justru tas saya yang lebih beresiko untuk hilang, karena saya taro di atas kursi yang kosong di sebelah saya, sementara selama ngobrol pandangan saya justru ke arah yang berlawanan, tempat dimana Alcha duduk.

Hufff....

Akhirnya kami melapor ke security terdekat dan oleh security kita dibawa ke markasnya buat bikin laporan. Di perjalanan ke kantor security-nya saya sempet tanya ke Alcha ada apa aja di dalem  tas yang ilang. Untungnya dia ga nyimpen duit cash banyak di dalam dompet. Tapi atm ada di dalam tas itu berikut hape. Akhirnya kita suruh Alcha langsung blokir rekeningnya, dan untungnya bisa langsung diblokir karena jumlah duitnya lumayan banyak. *sigh*

Di markas security-nya Alcha ditanya pertanyaan standar, seperti isi tasnya dan sebagai dan sebagainya. Hanya saja kita ga tau persis kapan persisnya tas itu hilang, karena kita inget terakhir kali tas itu ada pas akan duduk dan ngobrol2, lalu nyadar ilangnya ketika kita akan pergi. Dan itu sekitar um...1.5 - 2 jam-an lah...

Sayangnya setelah dicek, tempat kita duduk tidak terpantau oleh kamera CCTV, dan akhirnya..si bos security cuma bilang,

"Yah diikhlaskan saja kalo begitu, Dek. Tapi saya yakin mereka tidak akan berani keluar dari mall ini. Nanti paling mereka buang tasnya di tong sampah tapi yang pasti tasnya udah kosong. Berhubung lapornya juga diperkirakan sejam setelah kejadian jadi yaa susah kalo kaya gitu, Dek."

Begitulah. Laporan kita ke security diakhiri dengan tukeran no telpon (ya kali aja ada perkembangan). Siapa tau tiba2 para security ini menemukan tas temen saya udah dipajang di salah satu toko tas hahahahha (kan katanya suka cepet barang curian berpindah tangan, bahkan dijual lagi...itu mah hape yak...hihihi tapi kali aja berlaku juga buat tas)  :))

Yang saya ga habis pikir sampe sekarang, koq bisa2nya ada yang ngambil tas itu tanpa kita sadari, sementara posisinya di tengah2 kita berdua? GIMANA CARANYA??!!

Jul 25, 2009

"segala dipikirin"

Saya sepertinya memang tumbuh dengan sifat seperti ini. Sifat yang pada akhirnya malah merepotkan diri sendiri. Sifat yang saya sebut "segalanya dipikirin".


Saya pernah bisa sangat sakit (dalam arti sebenarnya) hanya memikirkan sesuatu. Lalu sembuh ketika saya mulai merasa bisa menghadapi dan melewatinya. Atau di lain kesempatan malah tidak bisa tidur sama sekali akibat selalu terbangun dalam kondisi cemas berlebihan.


Sifat ini tidak diketahui orang di sekitar saya, karena sebisa mungkin saya berusaha untuk terlihat tenang di luar. 


Inginnya bisa seperti "masa bodo ah, males mikirin"...tapi mungkin itu harus dilatih lebih keras lagi, ato harus pasrah saja karena sudah bawaan? entahlah...


Otak ini rasanya tidak terbiasa memilih mana yang penting untuk saya masukkan ke otak lalu diproses...dan mana yang harusnya saya buang saja!

Jul 18, 2009

pengantin oh pengantin

Bukan, ini bukan orang yang duduk di sebelah pasangannya dan menerima banyak ucapan selamat di hari bahagia. Tapi pengantin di sini adalah istilah bagi mereka yang duduk di sebelah bom (yang siap meledak) dan menerima kecaman dari berbagai pihak karena membuat banyak orang menderita. Ini bukan pengantin biasa, karena mereka (pelaku bom bunuh diri) adalah orang2 yang bersedia berkorban nyawa untuk mencapai 'tujuan'.

Semalam saya mendengar pengakuan salah seorang pengantin di sebuah program investigasi di salah satu station TV. Nah, yang kebetulan saya dengar adalah pengakuan seorang pengantin yang pernah "beraksi" sekitar tahun 2000 di Jakarta. Dia mengaku tujuannya saat itu adalah jihad dan berpendapat bahwa melakukan tindakan kekerasan seperti itu adalah salah satu cara yang dibenarkan dan bisa disebut jihad. Saya muslim (walopun tidak bisa juga dibilang tahu segalanya soal agama), tapi saya belajar! Setahu saya yang namanya Jihad memang memerangi hal yang disebut kebatilan dan identik dengan cara mengangkat senjata (baca: perang). Intinya jika tujuan dari tindakan kita adalah menegakkan kebenaran dan memerangi kebatilan maka itu disebut Jihad.

Saya tidak akan memandangnya dari agama, tapi lebih ke perspektif yang sederhana saja. Bahwa jika kita merasa melakukan tindakan yang benar dan diridhai Tuhan, apakah itu termasuk membunuh orang yang tidak bersalah? Menurut pengantin ini mereka sangat menghindari korban salah sasaran, pergerakan mereka itu juga melihat waktu dan target yang tepat, untuk itulah mereka dilatih secara khusus... Tapi tampaknya ada yang tidak sinkron antara statement si pengantin dengan kenyataan yang ada. Mengingat aksi mereka beberapa tahun silam malah lebih banyak memakan korban salah sasaran. Pernahkah mereka membahas dan mengevaluasi ini dalam pertemuan pengantin seluruh dunia? hahahha... (yeah rite!)

Kalau kata Abu Bakar Ba'asyir,
"Saya sangat mendukung niat mereka yang ingin berjihad, tapi saya tidak setuju dengan caranya. Jika ingin memerangi musuh, pergilah ke medan perang, dan ledakkan bom di sana!"

Yes!

Saya pikir harusnya seperti itu. Kenapa mereka yang melatih para "laskar berani mati" ini tidak mengirimkan utusannya ke daerah yang memang sedang bergolak? Gaza misalnya? Kenapa di Indonesia? Memangnya ada apa di sini? Apa salah mereka yang harus terluka/cacat, depresi, bahkan tewas karena aksi mereka?

Bicara mengenai pengeboman di Ritz Carlton dan JW Marriot 17 Juli kemarin, saya sempat lihat di TV, suasana TKP sesaat sebelum terjadi ledakan. Dimana ada seorang laki-laki (yang diduga kuat sebagai pengantin) berpakaian serba hitam tertangkap kamera sambil membawa sebuah travel bag. Pembawaannya yang tenang (tentu dia sudah terlatih) tidak sedikit pun membuat orang2 di sekitar curiga. Tak lama setelah sosoknya berlalu menuju salah satu pojok ruangan, tiba2 terjadi ledakan dari arah sana.

Banyak spekulasi yang berkembang mengenai pelaku. Jika dua kasus pengeboman yang terjadi beberapa tahun silam erat dikaitkan dengan gerakan Islam garis keras, maka pengeboman kali ini salah satunya memunculkan dugaan adanya kepentingan politik (pascapilpres). Walaupun masih simpang siur mengenai TUJUAN di balik tragedi ini, satu hal yang pasti, bangsa ini kembali menangis dan awan gelap kembali bergelayut di sini...

Jul 14, 2009

hormone.hormone.hormone


Namanya Hormon Serotonin

Konon hormon inilah yang mengendalikan mood termasuk emosi kita. Jika kadar hormon ini berkurang di otak, maka biasanya seseorang jadi lebih agresive atao emosian. Nah, ini biasanya terjadi ketika menjelang menstruasi dan mungkin karena itu juga ada istilah Pre Menstruasi Syndrome, dimana salah satu gejalanya perempuan bisa menjadi jauh lebih sensitif dan rada2 labil hehehehe. Saya kadang mengalaminya justru bukan sebelum mens melainkan sesudahnya. Tapi beberapa bulan belakangan malah jadi lebih sering sebelum mens...heu!

Saya sebenarnya sudah sangat berusaha agar saat menjelang mens, bisa mengendalikan emosi. Terus terang saya sedikit tegang karena pengalaman saya sebelum2nya ketika kekurangan hormon serotonin pas PMS ini rada menyeramkan (hahahha lebay). Maksudnya saya tidak hanya jadi makan lebih banyak, tapi juga emosian, gampang marah, gampang tersinggung, dan kalo sendirian gampang nangis (D.A.M.N!). Bagi saya itu menyeramkan! Makanya bulan ini harus berubah, dan saya coba menahan terus karena saya pikir kalo otak saya bilang bisa, maka saya pasti bisa! Ternyata alih-alih ada perubahan, yang ada ketika saya tahan terus akhirnya malah meledak, iya kalau di saat yang tepat (maksudnya ketika sendirian di kamar, jadi bisa nangis sepuasnya) tapi kalo di depan banyak orang kan malu yaaaa...hehehehhe

Dan ya...saya gagal! Sekuat apapun saya bisa menahan untuk tidak terbawa emosi ketika otak saya kekeringan serotonin saya tidak bisa... Kata teman itu sangat perempuan, dan sangat wajar, jadi ya lepaskan saja. Kalau kata saya itu memang sangat perempuan dan sangat wajar, tapi tetap harus dikendalikan. Mungkin bulan depan saya akan coba lagi hahahhaha...Karena memang tidak enak sekali rasanya terlalu berlebihan dalam menghadapi apapun. Bahkan ketika suatu malam (saat seperti biasa saya tidak bisa tidur) di salah satu station tv saya liat film berjudul "Raise Your Voice". Film remaja dengan bintang Hilary Duff dan ceritanya tentang bagaimana ia bisa kembali bangkit dan punya kepercayaan diri pascakecelakaan yang menimpa dia dan abangnya. Dia trauma karena kecelakaan itu merenggut nyawa saudaranya. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa itu dan sempat tidak ingin lagi bernyanyi (padahal dia suka sekali bernyanyi).

Yaaa tidak banyak film yang membuat saya menangis dalam kondisi "normal". Tapi kembali lagi betapa menyebalkan dan menyeramkannya kekurangan serotonin ini. Film ini saja bikin saya nangis dan membuat mata bengkak besok paginya...(D.A.M.N!) ahahhahahha....

"hormone.hormone.hormone"
mendadak jadi suka mengucapkan kata itu...

Jul 3, 2009

bahwa pada dasarnya....

Berpikir bahwa pada dasarnya setiap orang itu baik dan tak ada orang yg benar-benar jahat tampaknya menjadi cara yang ampuh bagi saya untuk lebih introspeksi diri lagi ketika merasa disakiti oleh orang lain... terlebih jika saya merasa disakiti oleh teman...

Saya pernah merasa dijahati oleh dua teman semasa SMP dan SMA, untuk alasan yang saya tidak tahu (hingga kini)...

Dan belakangan peristiwa demi peristiwa semasa sekolah itu kembali berkelebat di benak saya, dan saya semakin tergelitik untuk mengingat lagi apa kira2 yang membuat mereka merasa perlu berlaku jahat pada saya (sementara selama ini saya bersikeras bahwa saya tidak pernah menjahati mereka).

"Emang dasar mereka sirik aja sama loe," begitu komentar kebanyakan teman ketika saya bercerita.

Tapi saya ga puas dengan jawaban itu, meski terkadang akan lebih gampang untuk saya bisa melupakan kejadian2 tidak mengenakkan dulu dengan berpikir bahwa "emang mereka sirik aja" (walaupun saya juga tidak tahu apa bagian dari diri saya dan hidup saya yang membuat mereka sirik). Saya pernah menulis tentang mereka setahun yang lalu dalam blog saya yang berjudul "Kadang Benci itu Tidak Perlu Alasan" dan kenyataannya
selama sekian tahun saya lebih meyakini bahwa memang tidak ada alasan yang benar2 jelas atas sikap mereka itu.

Cuma kembali lagi saya berpikir bahwa sangat aneh jika mereka tidak memiliki alasan sama sekali. Mengingat apa yang telah mereka lakukan (well..saya tidak mungkin juga cerita detailnya apa saja yang telah saya alami bersama mereka selama lebih kurang lima tahun...kepanjangan soalnya heheheh) dan itu sangat-sangat membekas hingga sekarang. Apalagi ketika baru2 ini saya tahu mereka masih menyimpan rasa benci yang sama. Hufffff....

Tapi kini saya sampai pada pemikiran bahwa mungkin dulu memang ada tindakan saya yang (tanpa saya sadari) menyakiti mereka. Entah apa itu yang jelas kalau saya sadar melakukannya saya yakin detik itu juga saya langsung minta maaf, apalagi mengingat mereka tadinya adalah teman dekat saya.

And the point is...

Tak ada satupun orang (termasuk dua teman saya ini) yang benar-benar jahat saya rasa. Karena pasti ada sesuatu yang memicu mereka untuk melakukannya, alias ada penjelasan di balik itu semua. Dan berpikir dengan pola seperti itu saya rasa jauh lebih baik. Karena saya tidak lagi terus-terusan menyalahkan mereka yang sedikit banyak telah meninggalkan trauma (hahahahha) dan mulai melihat ke diri saya sendiri....

Jadi, sebelum saya menyalahkan orang lain karena merasa disakiti, saya akan selalu mengingatkan diri saya untuk melihat ke diri sendiri dulu... Kalau memang saya tidak melakukan apa2...tapi tetap disakiti berarti emang orangnya aja yang sensi (kekkekekek) *apeu*

Jun 19, 2009

pesan, dan otak yang karatan

tak apa
duduk saja di sana
diam saja
akupun akan tetap bergeming di sini
mau sampai kapan?
aku akan ikut saja

tak apa
diam saja padaku dan bicara pada mereka
aku akan tetap bergeming di sini
lakukan
lakukan apa yang otakmu katakan, untuk memberi pesan padaku
yang pasti, aku akan terima pesanmu

sayang saja...
kau tidak pernah menerima pesanku
apapun yang kulakukan

otakku sudah karatan
sehingga sudah tak mampu berpikir apa lagi yg harus kulakukan
agar kau menerima pesanku

tapi...
jika sudah selama ini, dan sudah segala cara
kau masih tak menerima pesanku
mungkin saja otakmu yang karatan!


Jun 3, 2009

comfort zone vs uncomfort zone

Ada yang berkata bahwa seseorang itu tangguh jika dia bisa bertahan di luar zona nyaman (comfot zone)-nya.

Saya awalnya percaya itu. Percaya bahwa jika kita benar-benar ingin merasa hidup, ya cobalah keluar dari comfort zone dan coba taklukkan tantangan yang ada. Tapi saya merasa belum mau beranjak dari zona itu. saya lebih memilih diam saja. Di sini, di tempat saya berada, di comfort zone saya. 

Hanya saja belakangan saya jadi berpikir lagi tentang zona ini. Bukan, bukan bertanya tentang kapan saya keluar dari zona nyaman saya lalu mencoba menghadapi tantangan hidup yang sesungguhnya? Tapi pertanyaan yang selama ini belum pernah saya pikirkan:

Benarkah ada yang namanya comfort zone?

Karena kenyataannya sekalipun saat ini saya berada di comfort zone saya, tapi saya tetap merasa bahwa selama ini (bahkan hingga kini)
dimana pun saya berada selalu ada tantangan tersendiri yang harus saya hadapi.

Dalam pekerjaan misalnya. Kenapa saya memilih kota ini bukan kota itu. Kenapa saya memilih pekerjaan ini bukan pekerjaan itu. Jawabannya, karena saya enjoy!

Kemudian ada nada sinis yang bergema di kepala saya:

Hoo berarti kamu emang mau enaknya saja karena cuma ingin berada di tempat yang membuat kamu nyaman tanpa berpikir untuk mencoba uncomfort zone kamu? Lihat donk temen-temenmu yang sudah menaklukkan berbagai tantangan di luar sana, mereka sudah mendapat banyak hal... Lalu kamu mendapat apa? Dan mau sampai kapan seperti ini?

Lalu ada yang menjawab lagi di kepala saya:

Saya tetap mendapat sesuatu koq. Dan saya akan di sini sampai saya benar-benar tidak punya pilihan lagi...

Kemudian setelah perdebatan dua suara itu saya berpikir lagi. Bahkan di dalam comfort zone saja, saya merasa tetap ada tantangan, ada kendala, ada masalah yang membuat hidup saya tetap fluktuatif. Walaupun lika liku-nya relatif tidak seekstrim orang lain yang bekerja keras di luar sana, dengan tingkat stress yang tinggi, bla.bla.bla lalu dalam waktu singkat wajah mereka tampak lebih tua dan lelah...Huffff!!!

Jika seseorang berkata: enak sekali orang yang bisa memilih tempat yang nyaman untuk mereka, sementara saya tidak punya pilihan dan harus menjalani semua yang sama sekali tidak terpikirkan.

Tapi saya yang (merasa) berada di comfort zone, tetap saja ada kalanya saya merasa stress, hopeless, bosan, bahkan terbebani. Saya pikir sama saja dengan orang lain. Lalu apa bedanya?

Kemudian saya pikir saya menemukan jawabannya.

Ya, tidak ada yang namanya comfort zone. Karena dimana pun kita berada dan se-ideal apapun kondisinya, tetap saja tidak ada tempat yang benar-benar nyaman. Selalu ada tantangan di sana yang harus ditaklukkan. Selalu ada kendala dan masalah yang harus diselesaikan. Jadi bagi saya, tidak ada lagi comfort zone!!!

   

Feb 20, 2009

Tidak Adil, Saudara-Saudara!

kata orang (dan prinsip saya juga) kalo mo dihargain ya mesti ngehargain orang lain dulu
kalo ga mau diremehin, ya jangan remehin orang
Intinya, jangan taunya nuntut, sementara kita ga ngelakuin hal yang sama.

Tapi saya ngerasa diperlakukan tidak adil, saudara-saudara! (heu)
Seinget saya, saya selalu menghargai setiap masalah orang (khususnya mereka yang pernah curhat ke saya)
Saya ga pernah menganggap remeh masalah mereka, terlepas dari besar kecilnya masalah yang mereka hadapi.
Tapi ada oknum yang pernah ngomong gini,

"Ya...masalah loe kalo dibanding dia mah ga ada apa-apanya, kecil lah. Dia itu masalahnya berat banget"

Begitu kata si oknum, yang saya sambut dengan muka melongo, dan sejurus kemudian saya langsung melengos (bah! bahasa apa itu?)

dan ternyata kalo makin dipikirin makin saya sakit hati,

Harusnya saya langsung ngomel aja di depan dia,

"ha? kok bisa2nya loe dengan bodohnya membandingkan masalah gua (yang bahkan loe belom tau apa2) dengan masalah orang lain? Apa karena dia pernah histeris dan nangis2 di depan loe nyeritain masalahnya, sementara gua engga? Widiiiihhh, sori ya gua ga perlu ngelakuin hal2 kaya gitu hanya untuk menarik simpati orang lain, apalagi dari loe. Cih!"

Hufff....Udah pengen muntah niy...