Kamis (3/1), kami naik kereta dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.00. Err, sebenernya budget kami utk kereta ekonomi 50rb-an sih, tapi apa daya, yg terbeli adalah tiket ekonomi AC yg harganya 3x lipat :D
Perjalanan 14 jam sempat membuat kami manyun di awal karena bingung mau ngapain selama di kereta. Nyatanya, itu tidak lah masalah kalau dihabiskan dg tidur sodara-sodara :))
Jumat (4/1), Sampai di Stasiun Kota Lama Malang pukul 8.30 lebih lambat setengah jam atau 45 menit dari perkiraan. Dan keluar dari gerbang stasiun, kami sempat terdiam ga tau harus kemana (yeaaahh itu seni nya backpaker-an tanpa peta : kebingungan :p). Sarapan dekat stasiun pilihan pertama. Harganya 7rb saja. Lalu kami naik angkot AMG menuju terminal Arjosari yg mana ternyata rutenya muter2.
Naik bis patas harga 25rb akhirnya kami menuju Probolinggo selama 2,5 jam perjalanan. Dan sesampainya di Probolinggo kami sempat kebingungan nyari Colt atau Elf yg menawarkan jasa angkut ke Cemoro Lawang. Tapi, kebingungannya ndak lama lah, karena si angkutan yg dimaksud langsung kelihatan begitu kami keluar dari gerbang terminal.
Ini sistemnya seperti nyewa Colt. Jadi semakin banyak penumpang, semakin murah lah bayarannya. Biasanya Colt ini nunggu penuh baru berangkat, dan untungnya ada rombongan yg menghemat waktu karena kami hanya perlu menunggu kurang dari setengah jam, ditambah dg bayaran normal, 25 rb.
Sesampainya di kawasan Cemoro Lawang kami ditawari penginapan oleh supirnya. Tapi tiba2 ada penumpang lain yg ternyata juga sama dg kami, sedang cari penginapan. Ya akhirnya kami sepakat untuk tinggal di satu penginapan biar (lagi2) MURAH :D Singkatnya kami cuma bayar 50rb/orang utk semalam dg fasilitas air hangat (ini penting mengingat begitu menjejakkan kaki di Cemoro Lawang semua sepakat kalau di sini, DINGIN SEKALI)
Berikutnya memikirkan bagaimana kami akan mengunjungi Penanjakan demi sunrise di keesokan hariya. JEEP adalah jawabannya. Berhubung kami berenam jadi ya, tidak terlalu mikir begitu harus menyewa JEEP 600rb dg jaminan kami akan diantar ke 4 titik.
Sabtu (5/1)
Penanjakan. Berburu sunrise dan demi dapat tempat parkir JEEP yang tidak terlalu jauh kami harus siap berangkat jam 3 pagi. 20 menit perjalanan kami sudah duduk manis menunggu sunrise. Ehm, ga duduk manis juga sih. Tepatnya jumpalitan gara2 cuaca yg luar biasa dingin, setelah itu baru bisa foto2, nyari makan, kopi dll.
Penanjakan. Berburu sunrise dan demi dapat tempat parkir JEEP yang tidak terlalu jauh kami harus siap berangkat jam 3 pagi. 20 menit perjalanan kami sudah duduk manis menunggu sunrise. Ehm, ga duduk manis juga sih. Tepatnya jumpalitan gara2 cuaca yg luar biasa dingin, setelah itu baru bisa foto2, nyari makan, kopi dll.
Jam 5 subuh sudah mulai terang. Tapi, tunggu! Mana matahari? Mana? Manaaa?! Oh, mungkin belum. Maka kami pun tetap tunggu. Hingga sejam kemudian gerimis turun. Yeap, kami pulang tanpa sunrise. Konon, Bromo begitu indah dilihat dari titik kami berdiri sekarang, KALAU tidak tertutup kabut. KALAU.
Kawah Bromo. Medan yg dilewati Jeep utk destinasi kedua ini cukup 'menantang'. Berkabut, tikungan tajam, dan licin.
Berjalan dari tempat parkir Jeep ke arah kawah Bromo sebenarnya jauh. Tapi ga berasa kalau dilakukan sambil melihat pemandangan di sekitar. Bukit dan pasir. Eksotis dan tiris (Basa Sunda untuk dingin). Well, setidaknya dingin membuat saya tak berkeringat meski harus hiking dan 'ngikngokngikngok' untuk sampai di kawah Bromo. Ok, saya payah dalam kegiatan melibatkan stamina, dan sesaat saya berpikir akan 'tamat' di sana ngahaha. Dan sampai di kawah harus beradaptasi dg aroma belerang. Tapi kawahnya, mengagumkan!
Destinasi berikutnya adalah savana, yang KALAU cuaca sedang cerah akan terlihat indah dengan bukit hijau menjulang seolah menyentuh langit biru. Dan konon, Savana ini sebenernya tidak hanya berwarna hijau, tapi ada bunga-bungi berwarna warni yg memberi nuansa lain KALAU sedang cerah. KALAU, yg artinya realita berkata lain. Mendung masih.Jadi sejauh mata memandang saya ndak melihat warna lain selain hijau. Then again, itu saja sudah cukup mengagumkan lho :)
Pasir berbisik jadi tujuan wisata yg cukup populer sejak film yang dibintangi Christine Hakim dan Dian Sastro. Konon, kl kondisinya tidak gerimis, pasir yang tertiup angin akan menimbulkan suara, err suara yg cukup ada di imajinasi kami masing-masing saat itu.
Pulang ke penginapan, istirahat sejenak, kami berkemas kembali ke Malang. Kali ini kami kurang beruntung karena Elf yang kami tumpangi menunggu penumpang cukup lama. Setiap hari, Elf ini berangkat jam 12 siang, berikutnya jam 3 sore. Saya lupa apa ada keberangkatan pagi.
Di terminal Probolinggo kami kembali ke Malang naik bis ekonomi non-AC. Cuma 14rb sih, beda 9rb dg yg sebelumnya. But hey, you get what you pay for, rite?! Lagian, ini soal pilihan aja sih. Mau murah, yaa harus mau berkorban kenyamanan lah sedikit :D
Tadinya kami berencana ke Pantai Bale Kambang. Tapi ini diurungkan, mengingat kami baru dpt penginapan di Malang jam 8 malam, belum lagi nyari angkot atau apa lah yg bisa mengantar kami ke pantai esok harinya. Kondisi badan yg capai membuat kami akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sisa perjalanan di Malang saja.
Entah, mungkin ekspektasi terlalu tinggi, tapi saya berpikir utk mencoret kota ini sebagai opsi tempat saya akan berdomisili kelak. Hm, saya membayangkan kota yg jalanannya tak terlalu padat, teratur, orang-orang yang ramah dan makanan enak dimana-mana. Dan tak satu pun itu saya temukan selama seharian di sana.
Penginapan sebenarnya tak terlalu sulit, hanya saja kami memang tak bersiap apa2 begitu sampai di Malang, termasuk menyimpan nomor beberapa penginapan juga tidak dilakukan. Jadi lah kami naik angkot muter2 dan melewati macetnya jalanan, hingga akhirnya memilih browsing dan dapat penginapan (kalo ga salah namanya Hotel Palem) dengan kamar cukup luas untuk main bola, kamar mandi dg sarapan roti seiprit + teh manis sekira 60rb per orang semalam. Soal jajanan dan makanan mending cari info dulu saja sebelum ke Malang. Dan hindari makan baso dan jajanan sejenis di taman alun2 karena harganya lumayan bikin keselek, ga worth it. Angkotnya juga mending langsung tanya ke supir angkot saja, karena dr pengalaman kami bertanya ke orang-orang yg ditemui, tak ada satu pun yg akurat dalam memberikan info rute angkot. Hal menarik yg saya temui hanya lah banyaknya bangunan tua yg somehow saya suka dan nikmati, salah satunya Toko Oen. Tak banyak yg kami lakukan di sini. Hanya bersantai sejenak sebelum balik ke stasiun. Roccoco, eskrim yg saya pilih dari menu cukup mengobati kekecewaan. Saya sendiri tak fanatik coklat, tapi es krim dg cita rasa khas ini cukup jadi penyelamat :)
Pukul setengah 2 siang, Minggu (6/1), dari Toko Oen kami bergegas menuju stasiun. Kali ini kami naik angkot AG, yg syukurlah ternyata ga muter2 dulu.
Pukul setengah 2 siang, Minggu (6/1), dari Toko Oen kami bergegas menuju stasiun. Kali ini kami naik angkot AG, yg syukurlah ternyata ga muter2 dulu.
At the end, terlepas dari tarif kereta yg overbudget, Kota Malang yg tak sesuai bayangan, (terlebih) cuaca di Bromo yg tak mendukung, overall it was an amazing trip. Why?! Well, I'll make it simple. Because it's Bromo! :))







