Jadi, saya baru saja ingat hari ini ternyata 22 Agustus dan baru ingat momen satu tahun lalu.
Waktu itu saya masih libur lebaran di kampung halaman, dan sedang dalam sebuah perjalanan bersama adik. Kemudian saya terima pesan singkat, butuh sejenak untuk kemudian saya membalasnya, lalu tersenyum, dan tersenyum.
Setahun dilalui, ada tawa, juga tangis. Semoga tahun-tahun berikutnya akan lebih banyak tawa :D
Aug 22, 2013
Aug 19, 2013
Langkisau : A Happy Ending
Ajakan untuk mengadakan perjalanan di libur lebaran taun ini
langsung saya iya kan mengingat tahun ini saya bertarget traveling sebanyak
minimal 2 kali lagi. Pilihan jatuh ke Pulau Pagang yg masuk dalam kawasan Pesisir
Selatan, Sumatera Barat.
Ditugas kan lah satu orang teman yang berdomisili di Padang
untuk survey harga dan kondisi di sana. Namun beberapa hari menjelang tgl 11
Agustus, waktu yg disepakati untuk bersenang-senang, Chachai yg melakukan
survey memberi kabar bahwa kapal utk menyeberang ke pulau itu sangat penuh.
Jadi disarankan untuk mengganti destinasi saja. Saya tak keberatan.
Masih di Pesisir Selatan, pilihan akhirnya jatuh ke Pantai
Carocok dan Bukit Langkisau. Tgl 10 Agustus siang saya berangkat dari
Bukittinggi menuju Padang. Jika biasanya jalur yg dipakai melewati Padang
Panjang, kali ini supir travel berinisiatif memakai jalur alternative,
mengingat gilanya kemacetan rute Padang Panjang jika libur lebaran seperti ini. Malalak,
nama jalur alternative itu. Namun karena memakai jalur ini, yang artinya harus sedikit 'memutar', kami dikenai biaya
tambahan 20 ribu meski sebelumnya sudah membayar 40 ribu. Anehnya, biaya
tambahan ini diminta langsung oleh supir dan dibayarkan saat penumpang sampai
di tujuan. Yah, jelas ini uang masuk ke kantong pribadinya sih. Tapi worth it lah. Karena ternyata saudara saya yg hari itu menempuh jalur via Padang Panjang harus menempuh perjalanan 3-4 kali lebih lama (yg artinya tidak kurang dari 8 jam!), sementara kami yg
memakai jalur alternative perlu sekitar 3 jam saja (hanya 1 jam lebih lama dari waktu normal). Kelokan-kelokan tajam di jalur Malalak beresiko jackpot bagi yg tak biasa, tapi setidaknya terhibur dengan melihat ini:
Saya memilih menginap di rumah Chachai sehari sebelumnya agar bisa lebih santai berangkat jalan-jalannya. Karena jarak Pesisir Selatan jauh
lebih dekat dari Padang ketimbang Bukittinggi.
Namun, kabar tak enak datang sejam sebelum kami seharusnya
dijemput. Teman yg punya ide jalan-jalan ini sejak awal, sekaligus juga penanggung jawab
transportasi, batal ikut karena sang ibu sakit. Saya bingung, dan tetap berharap
bisa memakai kendaraan yg sedianya akan dia pakai hari itu. Namun, tak ada balasan
sms. Telpon pun tak diangkat. Kami berdua akhirnya mencoba menghubungi teman
lain yg tadinya juga akan ikut. Sama saja, mereka tak bisa dihubungi. Chachai
yg tak enak karena saya sudah jauh-jauh datang dari Bukittinggi, akhirnya berusaha
mengupayakan agar rencana jalan-jalan tetap terlaksana.
Singkat cerita, orang tua Chachai berbaik hati meminjamkan
mobil untuk kami pakai. Biar rame, Chachai mengajak adik dan juga sepupunya, jadi
lah itu acara keluarga Chachai + saya sebagai outsider :D
Perjalanan Padang - Pantai Carocok kami tempuh selama kurang
lebih 3 jam. Saat sudah memasuki kawasan wisata ini, ternyata antrean mobil ‘mengular’
dan membuat semangat sempat drop. Belum lagi kami berempat kelaparan. Daaan, memasuki kawasan
pantai, pemandangan hampir tak bisa dinikmati saking ramainya pengunjung. Saya
terus saja bergumam ‘ini pilihan yg buruk’. Ya, berkunjung ke tempat wisata di
hari terakhir libur lebaran itu memang ide buruk. Tak ada tempat yg tenang
untuk sekedar bersantai sejenak menikmati pemandangan. Tak ada spot berfoto
tanpa ada orang lain yg ikutan in frame.
Tapi ya, saya juga tak mau menghabiskan
momen ini cuma mengeluh dan kesal. Toh, kalau mau sedikit susah menyeberang
laut selama 5 menit dari pantai ke sebuah pulau kecil dekat situ lalu berkeliling
mencari spot yg ‘sedikit’ sepi, kita bisa tetap enjoy kok :)
Yaa meski niat untuk mencoba banana boat dan wahana lain juga terpaksa diurungkan karena antrean yg masih jauh.
Jadi, kami memutuskan tak berlama-lama di sini dan berencana
melongok Bukit Langkisau sejenak. Fyi, sebelum masuk Carocok, kami sempat
berpikir untuk melewatkan saja bukit ini karena padatnya kendaraan dan rute ke sana
yg cukup membingungkan. Untung saja kami tidak benar-benar melewatkannya.
Karena saya tak akan bisa memaafkan diri sendiri kalau waktu itu sampai
melewatkan INI!!!
Ya ini, sodara-sodara! Kekesalan, kelelahan dan semua yg
menyebalkan hari itu sirna begitu melihat ini. Kalau di drama, film, sinetron
atau apa lah itu, kita sering melihat hal-hal tak menyenangkan sepanjang cerita
dan di akhir cerita baru hal menyenangkan muncul. Kurang lebih begitu lah perjalanan hari itu. ‘Ini yg namanya Happy
Ending,’ kata Chachai. Yeap, jika bagi kebanyakan orang Langkisau itu indah,
memesona dan sebagainya, bagi kami Langkisau itu ya sebuah Happy Ending dari cerita perjalanan kami hari itu..
Cheers :)
Cheers :)
Aug 17, 2013
A Letter to Heaven
Hello Old Man,
It’s been years since I last saw you.
How are you?
Still speaking gibberish?
Or, farting loud?
Or, farting loud?
And hey, do you still asking someone to scratch your back?
I bet they don’t do any better than me. Oh well, u should have been missed me, eh?
No worries, soon I’ll scratch your back again, and give you
back massage, head massage. And I’ll be your best listener when you speaking
gibberish then farting, then speaking and farting again. I’ll just listen to
you. Anything! So you can feel happier to have me..
I just really miss u, Old Man!
-your stubborn little girl-
Subscribe to:
Posts (Atom)






