anak1: kenapa ya ibuku suka mukul dan nyubit kalau aku
salah.
anak2: mama papaku sering bertengkar, trus suka pukul-pukulan. Kalau aku nangis mereka suka membentak dan berkata "bodoh" sama aku. Papa juga bilang mau ninggalin rumah.
anak3: ...
anak1: (melihat ke anak 3) kamu kenapa diam saja? Oh, aku tahu. Kamu pasti bahagia kan kalau di rumah? Karena ibumu tidak suka memukul.
anak2: dan mama papamu tidak pernah bertengkar.
anak3: tidak
anak 1&2: ???
anak3: (melihat kepada kedua temannya) ibu dan ayahku tidak pernah bertengkar. Ayah kerja di luar kota, dan ibuku sering membawa om itu ke rumah. Mereka sepertinya bahagia, dan ibu bilang akan mukul aku kalau memberitahu ayah.
***
Masih banyak di luar sana anak-anak yang menerima perlakuan tidak pantas dari orangtua mereka. Baik kekerasan verbal, kekerasan fisik, maupun contoh yang benar-benar tidak patut. Trauma adalah "pemberian" orangtua yang akan selalu mengiringi langkah si anak sampai kapanpun.
Saya pernah mendengar salah seorang konsultan anak berkata,
"trauma masa kecil itu, akan berkurang seiring berjalannya waktu, dan bisa hilang. Ibarat luka di tangan, bisa sembuh, mungkin meninggalkan bekas, tapi tidak berasa sakit lagi."
Tapi kalau si saya -yang bukan konsultan anak, dan bukan siapa2 juga.heuhehu- berpikir, bahwa trauma masa kecil, justru kebalikan dari luka di tangan. Jika luka di tangan bisa sembuh seiring waktu, dan paling hanya meninggalkan bekas yang terlihat tapi tidak lagi terasa sakit, kalau trauma, justru tidak meninggalkan bekas yang terlihat, tapi rasa sakit itu tidak akan sembuh begitu saja seiring dengan waktu.
Saya juga berpikir lagi, jika dampak dari rasa sakit yang teramat sangat itu, si anak jadi marah dan membenci orangtua-nya, maka si anak dicap sebagai anak durhaka. Bagaimana dengan orang tuanya yang telah melukai dan membuat si anak trauma? Adakah sebutan "orangtua durhaka"? hahahha...terdengar janggal ya istilah itu...
Sedikit berbelok dari topik, jika Malin Kundang dikutuk jadi batu oleh ibunya karena dia durhaka, mengapa tidak ada yang melihat dari sisi yang lain? Bahwa ibunya juga sama saja teganya telah mengutuk anaknya jadi batu. Ibu durhaka? Hahahhaha....
Kembali kepada orangtua yang menyakiti anak. Saya hanya bingung, mengapa banyak orang yang begitu gampang bikin anak, tapi ketika si anaknya lahir, disia-siakan? Tak hanya disakiti bahkan ada juga yang membuang anaknya. Beuh! Jika mereka memang belum siap, terutama secara mental, kenapa tidak berpikir lagi untuk punya anak?
Belum siap menanggalkan keegoisan, belum siap menanggalkan emosi yang meledak-ledak, belum tahu apa yang terbaik untuk dirinya -apalagi buat anaknya-, maka JANGAN PUNYA ANAK!
Bahkan, sekalipun telah melahirkan, orangtua rasanya tetap tidak berhak membuat masa depan seorang anak jadi kelam dengan hidup di bawah bayang-bayang trauma masa kecil. Apa hanya atas nama "saya yang melahirkan" lalu orangtua bisa melakukan apapun terhadap anaknya? Apa kata dunia?!
Anyway, selamat hari anak (telat sih :D)
anak2: mama papaku sering bertengkar, trus suka pukul-pukulan. Kalau aku nangis mereka suka membentak dan berkata "bodoh" sama aku. Papa juga bilang mau ninggalin rumah.
anak3: ...
anak1: (melihat ke anak 3) kamu kenapa diam saja? Oh, aku tahu. Kamu pasti bahagia kan kalau di rumah? Karena ibumu tidak suka memukul.
anak2: dan mama papamu tidak pernah bertengkar.
anak3: tidak
anak 1&2: ???
anak3: (melihat kepada kedua temannya) ibu dan ayahku tidak pernah bertengkar. Ayah kerja di luar kota, dan ibuku sering membawa om itu ke rumah. Mereka sepertinya bahagia, dan ibu bilang akan mukul aku kalau memberitahu ayah.
***
Masih banyak di luar sana anak-anak yang menerima perlakuan tidak pantas dari orangtua mereka. Baik kekerasan verbal, kekerasan fisik, maupun contoh yang benar-benar tidak patut. Trauma adalah "pemberian" orangtua yang akan selalu mengiringi langkah si anak sampai kapanpun.
Saya pernah mendengar salah seorang konsultan anak berkata,
"trauma masa kecil itu, akan berkurang seiring berjalannya waktu, dan bisa hilang. Ibarat luka di tangan, bisa sembuh, mungkin meninggalkan bekas, tapi tidak berasa sakit lagi."
Tapi kalau si saya -yang bukan konsultan anak, dan bukan siapa2 juga.heuhehu- berpikir, bahwa trauma masa kecil, justru kebalikan dari luka di tangan. Jika luka di tangan bisa sembuh seiring waktu, dan paling hanya meninggalkan bekas yang terlihat tapi tidak lagi terasa sakit, kalau trauma, justru tidak meninggalkan bekas yang terlihat, tapi rasa sakit itu tidak akan sembuh begitu saja seiring dengan waktu.
Saya juga berpikir lagi, jika dampak dari rasa sakit yang teramat sangat itu, si anak jadi marah dan membenci orangtua-nya, maka si anak dicap sebagai anak durhaka. Bagaimana dengan orang tuanya yang telah melukai dan membuat si anak trauma? Adakah sebutan "orangtua durhaka"? hahahha...terdengar janggal ya istilah itu...
Sedikit berbelok dari topik, jika Malin Kundang dikutuk jadi batu oleh ibunya karena dia durhaka, mengapa tidak ada yang melihat dari sisi yang lain? Bahwa ibunya juga sama saja teganya telah mengutuk anaknya jadi batu. Ibu durhaka? Hahahhaha....
Kembali kepada orangtua yang menyakiti anak. Saya hanya bingung, mengapa banyak orang yang begitu gampang bikin anak, tapi ketika si anaknya lahir, disia-siakan? Tak hanya disakiti bahkan ada juga yang membuang anaknya. Beuh! Jika mereka memang belum siap, terutama secara mental, kenapa tidak berpikir lagi untuk punya anak?
Belum siap menanggalkan keegoisan, belum siap menanggalkan emosi yang meledak-ledak, belum tahu apa yang terbaik untuk dirinya -apalagi buat anaknya-, maka JANGAN PUNYA ANAK!
Bahkan, sekalipun telah melahirkan, orangtua rasanya tetap tidak berhak membuat masa depan seorang anak jadi kelam dengan hidup di bawah bayang-bayang trauma masa kecil. Apa hanya atas nama "saya yang melahirkan" lalu orangtua bisa melakukan apapun terhadap anaknya? Apa kata dunia?!
Anyway, selamat hari anak (telat sih :D)
