Nov 24, 2014

am i the best (loser)?

sedang dalam masa-masa kesal pada seorang teman, bahkan hanya dengan melihat namanya saja saya kesal sekali. banyak hal yg melatarbelakangi ini. intinya, ini akumulasi perasaan dari sejak dulu dan yaaa sekarang saya lagi PMS.

sebagai seorang teman, saya selalu berusaha jadi yg terbaik. lakukan apapun agar teman saya merasa nyaman. sampai akhirnya saya berada di titik, "kayanya gua berusaha terlalu keras deh, dan dianya biasa aja". akhirnya ya capek sendiri. bahkan saya tidak tahu, apa selama ini saya masih menjadi diri sendiri atau malah sebaliknya di hadapan teman-teman. lalu lahirlah kesal yang menumpuk dan menumpuk.

entahlah, saya tahu konyol saja kalau tiba-tiba saya unfriend teman saya yg satu ini di FB atau unfollow di twitter hanya untuk memuaskan nafsu amarah saya, sementara dia tidak tahu apa-apa. karena sesungguhnya kekesalan ini sumbernya dari saya (ya meski dipicu oleh tingkah dan sifatnya dia juga). tapi saya lebih memilih menyalahkan diri sendiri. kalau pun saya ungkapkan kekesalan ke dia, saya tidak tahu mulai dari mana?!

jadi sekarang gambarannya seperti ini, saya kesal setengah mati di sini dan di sana dia mungkin sedang duduk manis melewati sore ditemani secangkir teh. 

ah kalau sudah bicara tentang teman, kadang saya merasa yg terbaik, tapi kadang saya merasa seperti pecundang. entahlah...

Nov 3, 2014

Saat Rindu Mama dan Rumah

Beberapa hari ini saya cukup intens mengenang Mama. Entah lah, tiba-tiba saya ingat sosoknya sedang duduk di kursi roda. Ingat suaranya di seberang telepon. Bahkan saya rindu rumah dengan Mama di dalamnya.

Jika kehilangan Papa saya merasa terpukul dan baru bisa benar-benar ikhlas setelah beberapa tahun sejak kepergiannya, maka kehilangan Mama rasanya agak berbeda. Saya ikhlas, tapi sedih. Sungguh. Apalagi jika ingat rumah. Karena Mama adalah sosok yg selalu saya dapati jika pulang ke rumah. Saat Papa ditugaskan ke luar kota, saat anak-anaknya satu per satu (termasuk saya) pergi dari rumah untuk menimba ilmu ke luar kota, lalu menikah dan melanjutkan hidup masing-masing di tempat yg berbeda, hanya Mama yang tetap ada di rumah.

Beberapa hari setelah Mama pergi dan saya bersiap kembali ke Bandung, kami sempat gotong royong membersihkan rumah. Dan ya, rasanya sepi dan kosong. Rumah itu tidak benar-benar kosong memang, karena masih ada kakak laki-laki saya yang menempati. Tapi tanpa Mama, rasanya benar-benar berbeda. Rumah ini sudah begitu lekat dengan sosoknya. Saya bahkan bisa mengingat Mama dengan jelas di setiap sudut rumah. Banyak sekali kenangan di rumah itu bersamanya.

Saya memang bukan anak perempuan yg dekat dengan ibunya. Kami bahkan tidak pernah saling mencurahkan isi hati atau sejenisnya. Kami tidak pernah benar-benar sepaham bahkan lebih sering bertengkar. Saling sayang tentu saja, hanya saja kami tidak dekat. Tapi sejak kepergiannya, semua kenangan tak menyenangkan hilang begitu saja. Syukurlah, otak dan hati saya sepakat untuk hanya mengenang masa-masa menyenangkan (kadang juga mengharukan) dengan Mama.

Pascakepergian Mama, membuat saya ingin lebih sering pulang. Sekedar menengok rumah yg di halamannya ada makam Papa dan Mama. Dan oh tentu saja menengok kakak saya yg tinggal sendiri di rumah itu (hehe). Di kampung halaman saya, kebanyakan rumah sayangnya ditinggal begitu saja terutama setelah para orang tua meninggal dunia. Karena itu saya ingin rumah peninggalan Mama dan Papa ini tetap terawat, sehingga kelak kami tetap bisa berkumpul seperti sebelumnya. Jadi Mama dan Papa tetap bisa melihat kami dari tempat peristirahatan terakhir mereka J