Apr 24, 2008

needs theory

Beberapa hari yang lalu saya kedatangan teman lama. Di pertemuan yang jarang terjadi ini, kami mengobrol tentang berbagai hal, hingga ada pemikiran dia yang menarik saya.

Dia menganggap bahwa sebenernya yang namanya temen itu tidak ada. Yang ada cuma rasa saling butuh saja. "Artinya, kalau seseorang merasa butuh lu, baru dia nyamperin lu, ngebaik-baikin lu atau sok-sok asik sama lu. Ya…berlaku juga sebaliknya (lu ke orang lain)," ujarnya. 

Saya sendiri punya pemikiran yang bertolak belakang dengan teman ini. Bagi saya, teman-teman itu adalah keluarga, segalanya. Terserah saja kalau si teman yang punya teori “needs” ini menganggap saya bukan teman, yang jelas saya tetap menganggapnya teman.

Tapi beberapa kejadian belakangan, membuat pendirian saya mulai goyah di atas pemikiran ini. Saya benar-benar berharap kapok untuk memiliki harapan terlalu besar terhadap seorang teman, sahabat atau apalah namanya. Saya berharap jera menganggap bahwa teman adalah segalanya. 

Sayangnya, saya tidak pernah kapok, tidak pernah jera. Ow…come on!!! Butuh berapa kejadian lagi sampe saya bener-bener kapok?

Saya mulai berpikir tentang teori “needs” ini. Apa iya, hubungan di muka bumi ini bisa disimpulkan hanya lewat kata-kata “Saling Butuh”?

Yah, setidaknya kemarin, sekarang dan besok saya punya seorang yang saya sebut “teman”, yang (saya harap) dapat selalu berdamai dengan perasaan dan keinginan saya. A friend, that I call …..MYSELF…

dia, makhluk paling egois...

Dia baru-baru ini ditelpon oleh seorang kawan lama. Lama tak berbincang, mereka saling bertukar kabar dan berbagi banyak hal. 

Kemudian, sampailah temannya pada satu pertanyaan: siapa orang terdekat kamu sekarang? 
Lalu dia menjawab, tidak ada. Dan ketika ditanya lagi kenapa tidak ada? Dia pun akhirnya berkata panjang lebar. "Ya...karena emang gua belum mau memikirkan hal lain selain diri gua. Mikirin diri sendiri aja ga ada habisnya, trus sekarang ditambah mikirin orang lain, yang lu sebut "pacar" itu, hah...kayak ga ada kerjaan lain aja. Hidup gua sekarang hanya untuk bikin diri gua sendiri senang."

Temannya kaget dengan jawabannya, dan berkata  "Kalo lu cuma mau mikirin diri sendiri itu ga akan ada habisnya. Seumur-umur juga akan selalu ada yang namanya masalah di diri kita."
 
 "Justru itu, karena gua sangat menyadari bahwa yang namanya masalah di hidup gua sendiri ga akan ada habisnya, ngapain gua nambahin beban pikiran dengan mikirin orang lain? Mikirin gimana gua sendiri hepi aja udah susah, ngapain sih mikirin orang lain?"
 
Temannya tak henti bertanya "Sampe kapan lu akan kaya gini?"
 
"Ga tau. Yang jelas sekarang hidup gua cuma buat bikin diri gua senang. Dan masalah gimana ke depan, entahlah..."

 "Yah, mudah-mudahan suatu hari lu berubah pikiran"

dan dia diam
telpon ditutup
dia tertegun
menghela napas panjang
sepi...

"tapi aku tak ingin ada siapapun..."


















bdg 2008 

saat perasaan takut gagal itu datang

Pagi ini ada tes kerja.
saya dengan perasaan yg tak menentu bersiap.
saya ingin sekali mengakhiri masa tak produktif ini.
 Ya...emang enak sih menghabiskan seharian dengan makan tidur nonton.
Tapi apa jadinya kalo ini terjadi dalam rentang waktu yang lama.


Arrrrghhhhh...bisa gila!

Saya melangkah kan kaki sedikit berat ke luar kosan pagi ini. Bukan, bukan karena tes yg membuat saya deg-degan dari kemaren ini. Tapi karena (Sial!!!) sepatu yg baru saja dibeli sedikit kebesaran. Alhasil saya berjalan dengan menyeret langkah dan pelan sekali... Mana sepatunya high heels :|


Karena tidak sempat sarapan saya membeli coklat dan susu di mini market lalu langsung naik angkot menuju tempat tes. Di perjalanan, saya membuka bekal yang tadi saya beli. Karena haus sekali saya dengan napsu minum susu yang ternyata...BASI (Sial lagi). Akhirnya saya hanya makan coklatnya saja...Karena belum menemukan tong sampah, saya simpan saja sampah coklat dan susu basi yg masih bersisa banyak ke dalam tas saya.

Sesampainya di tempat tes, saya duduk menunggu giliran. Sebelumnya ada form yg harus diisi dulu...

Salah satu pertanyaan di form itu, "Apa kelemahan Anda?" lalu dengan tidak terlalu yakin saya tulis "merasa takut gagal".

Kata orang kalau kita takut gagal, lalu kapan kita akan maju? Tapi tetap saja saya tidak bisa meyakinkan diri saya kalau saya bisa melalui segala sesuatunya dengan baik.

Karena saya pernah dihadapkan pada satu situasi dan saya merasa gagal menghadapinya. Sekarang saat berada dalam situasi itu lagi ada perasaan takut bahwa kejadian itu akan berulang lagi. Bahwa kegagalan itu akan berulang lagi...

Saat giliran tes tiba, saya berjanji akan melakukan yg terbaik. Tapi, setelah melewatinya hari ini, saya pikir saya belum melakukan yg terbaik, bahkan jauh dari apa yg sebenarnya ingin saya lakukan. Kenapa ya?
 

Ah, mungkin memang saya tidak perlu berharap terlalu banyak berharap pada tes hari ini...

Saya ingin pulang saja.
Aduh, susu basi itu tumpah di dalam tas saya.
Akhirnya sampah itu saya tinggalkan saja di sana. Saya mau pulang.

aku ditembak (hahahhaa...)

Wah, paling sulit itu utk memilih. dan sebenernya saya tidak mau memilih karena ingin semuanya. 

Tadinya sempet kaget juga, begitu langsung ditanya jawaban iya atau tidak. nah lho? Lama berpikir, dan tidak kunjung ada hasil. Tetap saja tidak bisa memberi jawaban jawaban hingga akhirnya minta waktu beberapa hari.

Lalu setelah  menimang, menerima atau menolak akhirnya dengan sedikit (sedikiiiiiit) berat saya tolak. Ahh ada yang mau lagi ga ya nanti sama saya??? Kalau tidak ada? ya tamat lah!!! Jadi pengangguran saja. 

Hehe ditembaknya sama yang wawancara untuk satu pekerjaan. Ceritanya baru-baru ini ada tawaran kerja, tapi dengan tidak tau diri saya tolak karena satu dan lain hal. Dasar pengangguran tidak tau diri!!! haha.. Tapi ya tak apa. Insyaallah ikhlas. Mudah-mudahan nanti berjodoh dengan kerjaan yang lebih baik. amin.amin.  Ayo semua bareng-bareng bilang AMIIIIIIIIINNNNN ya Allah!!!

it's (not) all bout money


Ada suatu waktu dan di suatu tempat saya berpikir bahwa hidup memang hanya tentang bagaimana mencari uang dan melakukan apapun yang kita mau dengan uang, "it's all bout money".

Itu karena saya merasa hidup akan berarti kalau kita bisa meraih impian dan semua bisa diwujudkan oleh uang. Makanya saya selalu memeras otak bagaimana mendapat uang dengan hasil jerih payah sendiri. 

Tapi di suatu tempat dan di suatu waktu, saya malah tersadar oleh suatu kejadian yang membuat berpikir bahwa tidak semua masalah bisa selesai hanya dengan uang. Karena saat hal yang tidak bisa dibeli dengan uang harus dipertaruhkan justru karena uang, ternyata itu lebih mengenaskan dan menyakitkan!

Karena uang saya merasa malah ada yang hilang. Sesuatu yang mungkin tidak disadari saat kita punya, dan baru kita sesali saat dia pergi.

Sesuatu yang tidak bisa dibeli bahkan dengan uang. Sesuatu yang saya sebut "kepercayaan". Lebih menyakitkan lagi saat kepercayaan itu hilang di antara kita dengan orang-orang terdekat.  Membuat saya tersadar bahwa saya jauh lebih memilih kepercayaan ketimbang uang.


Menyakitkannya, uang itu tidak bisa membeli kepercayaan yang sudah terlanjur hilang. Mungkin ada masalah yang bisa diselesaikan dengan uang, yes, it's all bout money! Tapi ada masalah yang timbul karena uang dan ironisnya uang tidak mampu menyelesaikan masalah itu, and it's not all bout money...

kepada teman


teman,
mungkin "suatu hari" nanti
 kita tidak akan bisa menikmati dinginnya malam bersama lagi
 
suatu hari
dimana sekarang kita menyebutnya "masa depan"

masa depan
dimana mungkin kau sudah bersama teman atau orang lain yang duduk bersamamu,

bukan aku
sambil tersenyum kecil kalian akan berbincang tentang masa kini, yang nanti kalian sebut sebagai masa lalu 

aku pun begitu
entah ada dimana kita saat itu
tapi bukankah itu yang sedang kita khayalkan saat ini?
 berandai tentang masa depan yang sempurna dan manis

walaupun rasa takut juga menyelinap di benak kita
 
aku takut bahwa aku tidak cukup kuat untuk menghadapi apa yang ada di depan

bagaimana denganmu?
apa yang kau takutkan?
ah, mungkin kau tidak pernah setakut aku mungkin karena itulah aku berbagi ketakutanku denganmu

teman,
 aku melihat orang-orang meninggalkanku
untuk meraih masa depan
mereka
tadinya mereka sepertiku  
gamang dan takut akan masa depan
tapi aku terlalu lama dalam ketakutan dan kegamangan
 sementara mereka tidak punya waktu untuk menungguku


akhirnya mereka pergi
bodoh, jika aku berpikir
aku dengan mereka atau denganmu
punya nasib yang sama
dan kemanapun akan selalu bersama

kenyataannya nanti kita akan ditinggalkan dan meninggalkan,
karena kita punya jalan sendiri2.

 

ah, sudahlah teman
kita nikmati saja dinginnya malam saat ini

sambil terus berkhayal

saat kita lelah
kita akan kembali dari khayalan
dan menemukan diri kita masih duduk bersama.

dan biarkan esok membuat dinginnya malam ini   
menjadi kenangan yang akan selalu kita ingat

bdg, oktober 2007 

it's all bout money

siapa yang tidak butuh uang? mungkin cuma org gila yang tidak, karena tertawa sendiri itu hingga kini belum didenda :D 

seiring dengan mulai membesarnya rasa malu ketika minta kirimin uang dari kakak, saya mulai berpikir bagaimana caranya agar secepatnya bisa menghasilkan uang.

 hingga suatu saat temen mengajak saya ke suatu acara yang menawarkan cara relatif cepat untuk bisa kaya. 

surpraisingly, saya malah tidak tertarik sama sekali. saya ingat kata-kata pembicara yang ada di acara itu.

"banyak orang kerja seumur hidup untuk bisa kaya, lalu untuk apa Anda bersusah payah, kalo dalam waktu 5-10 thn Anda bisa kaya?"
 
dan spontan dalam hati saya ngejawab "apa salahnya kerja seumur hidup kalo kita enjoy dengan pekerjaan itu, apalagi kalau dibayar. Apa ada yg lebih baik di dunia ini daripada melakukan apa yg kita suka, dan kita dibayar untuk itu?"

 5-10 tahun? waktu yang relatif singkat untuk jadi kaya, dan waktu yang cukup lama untuk membuat kita tersiksa kalo kita tidak menyukai pekerjaan ini, dan hanya berpikir "tidak apa saya menjalani pekerjaan yang saya tidak suka, asal bisa kaya 5 thn lagi."

iya, kalau kita masih hidup 5thn lagi dan bisa menikmati uang kita. kalo kita keburu innalillahi gara-gara tekanan batin akibat melakukan pekerjaan yang kita tidak suka selama 5-10 thn?

pada akhirnya, saya hanya berharap bisa menghasilkan duit dengan melakukan pekerjaan yang saya suka dan nikmati. masalahnya, saya belum dapat kesempatan untuk membuktikan seberapa pantas kemampuan saya untuk dibayar, dan seberapa besar bayaran yang pantas utk kemampuan gua itu.

gadis itu benar-benar kecil

siang tadi pas lagi di damri, saya lihat ke luar jendela dan ada gadis kecil lagi bediri di pinggir jalan. dari kerincingan yang dia pegang, saya yakin dia pengamen cilik. 

saat bis ini mulai bergerak, dalam hitungan detik dia sudah bediri di sebelah saya. saya duduk dii dekat jendela dan di samping kanan saya ada ibu-ibu yang sepertinya seorang dosen, walau cukup tua juga untuk jadi dosen.

 tanpa basa basi pengamen cilik ini langsung nyanyi dan spontan saya dan ibu di sebelah melihat ke arah dia. dan tanpa janjian juga, kami melihat anak ini dari atas sampai bawah. entah apa yang ada di pikiran si ibu, tapi kalo saya sendiri sudah menduga, bahwa dia memang benar-benar kecil, tidak hanya tubuhnya, tapi umurnya juga saya perkirakan maksimal 6 tahun. kulit coklat, dengan rambut sebahu, dan tampak dekil karena mungkin seharian dia habiskan di jalanan. dia juga menyandang sebuah tas, yang entah apa isinya. saya harap uang receh yang sudah berhasil dia kumpulkan seharian ini.

memang bukan sekali ini saya melihat anak sekecil ini turun ke jalanan buat ngamen... tapi entah kenapa baru sekali ini saya benar-benar mendengarkan anak-anak seperti dia nyanyi angkutan umum. entah karena dia bediri persis di samping kursi saya dan menghadap ke saya, atau memang karena suara dan artikulasi dia cukup jelas dan bagus dibanding anak-anak seumurannya. bahkan menurut saya kerincingan yang dia mainkan selama bernyanyi juga cukup seirama dengan suaranya. ga nabrak seperti yang sering didengar dari pengamen kebanyakan.

 yang membuatdia sama dari pengamen cilik lainnya adalah lagu yang dia bawain. lagu cinta entah siapa penyanyinya, yang saya ragu dia mengerti arti lagunya.
 
saya asik saja melihat ke luar jendela, sambil berpikir emak sama bapaknya lagi ada dimana dan sedang apa? lalu apa uangyang dia peroleh, benar-benar untuk dia semua, atau dia juga tidak luput dari sasaran para preman yang hobi malakin anak-anak jalanan seperti dia?

 tiga lagu pun selesei dia bawain, tanpa basa basi, dia langsung menyodorkan tangannya. dan pas sampai di bangku saya, si ibu di sebelah memberi recehan. sekilas, saya lihat tangannya yang menampung receh dari penumpang.. dan Tuhan, bahkan tangannya yang dihiasi kuku-kuku panjang tak terawat itu pun tidak cukup besar untuk menampung uang receh yang diberi penumpang. sekecil itukah dia?
 
dan ya, dia memang sekecil itu. saya hanya melihat satu contoh "kecil" dimana masih banyak di luar sana ygan sama bahkan mungkin nasibnya jauh lebih memprihatinkan dari dia.


*foto: ilustrasi

cewe satu juta


Pernah nonton program (yang katanya reality show) di TV, ceritanya tentang seorang perempuan memilih satu di antara seratus laki-laki untuk jadi pasangannya?

Saya lihat sudah bagian akhir, dimana si perempuan memilih tiga lelaki untuk kencan dengannya. Dan terpilih tiga lelaki dengan tiga tipe.  

Yang satu pemalu dan kerjaannya nunduk sama ngangguk-ngangguk mulu, trus yang satu gila haha muka arab khas tatapan maut , dan yg terakhir, muka-muka dengan polem alias poni lempar yg ngaku kalau melihat perempuan dari hatinya, dan tampang itu bukan prioritas. 

 Setelah kencan, akhirnya si cewe memilih si polem. Nah, sesi terakhirnya presenter meminta si polem milih antara si perempuan atau amplop yg disediakan (yg tentu saja isinya uang). Saya pikir ya pasti si polem milih perempuan itu, karena dia terlihat sangat senang sama si pere,puan ini.

Saya sempet berpikir kalau dia memilih amplop bakal seru juga. Karena temen saya pernah cerita dia pernah ngeliat salah satu episode program ini, yang akhirnya si laki-laki lebih milih amplopnya.

 Setelah diberi waktu berpikir sambil menatap si cewe dan amplop secara bergantian, dengan lempengnya si polem menjawab "AMPLOP". Ha? Bahkan si presenter kaget dan nanyain si polem sekali lagi, trus dengan tampang (sekali lagi) lempeng, dia jawab "AMPLOP".

 Si perempuan yg tampak berusaha menyembunyikan kekagetannya dan tentu saja rasa MALU serta MURKA hanya bisa menunduk. Bahkan kalo dilihat si perempuan sesaat sempet lupa caranya tersenyum haha.. 

 Trus si polem ternyata disuruh milih amplop yang disedakan dan naratornya sempet bilang

"ya...pemirsa kita liat apakah si pengkhianat cinta ini beruntung dalam memilih amplop".

 Hehehe langsung dikasi julukan "pengkhianat cinta"!!! Ternyata si polem dapet 1 juta. Hahaha dia nuker cewe itu dengan satu juta. Dan si cewe dapet 500rb dengan bonus 3M, Malu, Murka, dan Muka merah :D

Satu pelajaran yang saya ambil dari acara ini adalah...

 Duit satu juta? Bisa beli kulkas ga ya???

kamar 2.5x3 m


Wah...ternyata sedih juga saat hari perpisahan itu datang. Setelah empat tahun bareng teman-teman kosan, dan sudah seperti keluarga, sekarang saatnya untuk pisah. 

Kami sudah punya pilihan tempat kos masing-masing, dan satu per satu pun mulai pindah. Sedihnya, sekitar empat tahun lalu saya adalah orang pertama yang mulai menempati kosan ini. Saya masih ingat saat itu sempat bengong sendirian beberapa hari sampai akhirnya satu per satu anak-anak berdatangan ke kosan ini. Dan akhirnya kami pun berasa lengkap. Sekarang sudah pada pindah semua, dan kembali saya bengong sendirian,  karena baru pindah lusa. 

Haaaaah memang nasibnya datang duluan, pergi belakangan.

Sabtu kemarin saya mendapati kamar teman-teman saya sudah pada kosong. saya dikabari kalau mereka pindahnya mendadak banget, dan itu pas saya sedang tidak di kosan. Melihat kamar mereka kosong dan sedang disiapkan untuk ditempat lagi sama anak baru, tidak saya sangka kalau saya akan sesedih ini. Kenapa ya? Apa karena sudah terbiasa melihat kamar itu dengan mereka di dalam nya? Sekarang kamar itu gelap dan kosong... 

Apa rasanya kalo lusa saya datang ke kosan ini, melihat kamar saya gelap dan kosong... dan ngebayangin kalo tidak lama lagi ada anak lain yang menempati? Meski ruang 2,5x3m ini tidak besar, tapi banyak sekali kenangan di dalamnya. Yah, kalau boleh memilih, saya tidak mau pindah. Tapi apa mau dikata, mengingat ada kepentingan lainnya haha..

Ini yang namanya life goes on... Sudah saatnya semua "bergerak" menjalani yg namanya H-I-D-U-P demi M-A-S-A-D-E-P-A-N... Tapi yang pasti kamar 2,5x3m lengkap dengan teman-teman yang pernah tinggal seatap adalah salah satu kenangan terbaik dalam hidup saya. Gonna missU aLL guys!!!

uang untuk bapak


Seorang bapak bertanya pada anaknya

 "kalau kamu besar nanti, berapa uang yg mau kau beri pada bapak?"

Anaknya menjawab,

"aku tidak tahu... tergantung berapa besar uang yang bisa kuperoleh,Pak!"

Si bapak hanya tersenyum...
Sementara si anak menunduk.
Dalam hati dia berjanji, saatnya nanti dia akan memberikan semua hasil jerih payahnya untuk Bapaknya. Agar Bapaknya senang...

Dia bilang,"inilah tujuan hidupku."

Tapi...
Sekarang si anak merasa tidak peduli lagi berapa uang yg dia peroleh...

Dia tidak memikirkan berapa uang yang bisa dia berikan untuk bapaknya...

Anaknya berkata,

 "Pak, aku belum menghasilkan uang sekarang. Kalaupun aku menghasilkan uang, tampaknya aku berubah pikiran. Aku tidak mungkin memberikan uang yang kudapat padamu. Meski itu cuma seribu, dua ribu, bahkan sejuta sekalipun. Aku tidak bisa memberikan padamu. Bukan karena aku pelit. Bukan karena aku ingkar janji, dan bukan karena aku tidak lagi sayang padamu. Tapi karena aku bingung, Pak. Bagaimana caranya aku memberikan uang padamu sementara kau sudah jauh di atas sana? Aku tidak bisa ke sana untuk memberikan uang yg kudapat. Kalau kau mau, tunjukkan jalan agar aku bisa ke sana dan memberikan uangku padamu. Tolonglah, aku rasa aku sudah kehilangan tujuan hidupku, sejak kau pergi..."

Kisah Seorang Teman

Saya benci saat keinginan menolong temen terhalang, saat kata-kata "stop, ini bukan urusan lu" bergema di otak. akhirnya yang saya lakukan hanya diam, dan membalas pelukannya saat dia memeluk saya dan dia pun menangis. 

setidaknya ada yang bisa saya berikan saat itu, bahu untuk dia menangis, dan tangan untuk membalas pelukannya. 

bagaimanapun, yang saya tahu tidak ada yang bisa menolong seseorang keluar dari masalah, kecuali dirinya sendiri. Tapi apa yang bisa dilakukan, jika dia sendiri menunjukkan indikasi bahwa dia tidak mampu untuk menyelesaikannya.

sementara kita terjebak oleh pikiran sendiri. di satu sisi ingin sekali membantu namun di sisi lain merasa tidak seberarti itu juga untuk mengintervensi lebih jauh masalahnya. 

tapi rasanya keadaan yang saya hadapi lebih pelik dari itu. temen saya bukannya tidak mampu menyelesaikan masalah, tapi dia tidak sadar kalo dia dalam masalah. saat ini saya hanya duduk, dan melihat teman sayadisakiti, tapi saat saya ingin membantu, si teman bilang,
"tha, gua ga apa-apa kok. Gua anggap segalanya ada hikmah dan sisi positifnya."And then, she smiled at me. Oh..God!!! How come???

semua orang melihat dia disakiti, tapi dia sendiri selalu bisa melihat hikmah di balik semuanya (who is she ,anyway? An angel??? or just another "the innocent girl?")

 tahukah dia saat dia selalu bisa melihat hikmah dari segala perlakuan yang menyakitinya, maka dia ga akan pernah merasa disakiti, dan baginya orang yg menyakiti itupun tidak akan pernah salah???
dalam konteks yang sedikit berbeda, tapi masih sedikit nyambung, jika semua orang seperti teman saya ini, maka dunia akan damai, tidak akan ada perang dalam arti sesungguhnya, tapi akan ada yang namanya perang batin... mungkinkah penjara akan kosong, dan rumah sakit jiwa mendadak penuh???