Beberapa hari yang lalu saya kedatangan teman lama. Di pertemuan yang jarang terjadi ini, kami mengobrol tentang berbagai hal, hingga ada pemikiran dia yang menarik saya.
Dia menganggap bahwa sebenernya yang namanya temen itu tidak ada. Yang ada cuma rasa saling butuh saja. "Artinya, kalau seseorang merasa butuh lu, baru dia nyamperin lu, ngebaik-baikin lu atau sok-sok asik sama lu. Ya…berlaku juga sebaliknya (lu ke orang lain)," ujarnya.
Saya sendiri punya pemikiran yang bertolak belakang dengan teman ini. Bagi saya, teman-teman itu adalah keluarga, segalanya. Terserah saja kalau si teman yang punya teori “needs” ini menganggap saya bukan teman, yang jelas saya tetap menganggapnya teman.
Dia menganggap bahwa sebenernya yang namanya temen itu tidak ada. Yang ada cuma rasa saling butuh saja. "Artinya, kalau seseorang merasa butuh lu, baru dia nyamperin lu, ngebaik-baikin lu atau sok-sok asik sama lu. Ya…berlaku juga sebaliknya (lu ke orang lain)," ujarnya.
Saya sendiri punya pemikiran yang bertolak belakang dengan teman ini. Bagi saya, teman-teman itu adalah keluarga, segalanya. Terserah saja kalau si teman yang punya teori “needs” ini menganggap saya bukan teman, yang jelas saya tetap menganggapnya teman.
Tapi beberapa kejadian belakangan, membuat pendirian saya mulai goyah di atas pemikiran ini. Saya benar-benar berharap kapok untuk memiliki harapan terlalu besar terhadap seorang teman, sahabat atau apalah namanya. Saya berharap jera menganggap bahwa teman adalah segalanya.
Sayangnya, saya tidak pernah kapok, tidak pernah jera. Ow…come on!!! Butuh berapa kejadian lagi sampe saya bener-bener kapok?
Saya mulai berpikir tentang teori “needs” ini. Apa iya, hubungan di muka bumi ini bisa disimpulkan hanya lewat kata-kata “Saling Butuh”?
Yah, setidaknya kemarin, sekarang dan besok saya punya seorang yang saya sebut “teman”, yang (saya harap) dapat selalu berdamai dengan perasaan dan keinginan saya. A friend, that I call …..MYSELF…






