Jan 11, 2016

kunjungan spesial

jelang tahun baru 2016 kemarin, saya menerima kunjungan spesial. berawal dari kabar bahwa tante saya sekeluarga akan melakukan trip di long weekend natal dan tahun baru. tujuan utamanya adalah ke jogja lalu sekalian mampir ke bandung dan jakarta. tanggal 28 desember pagi saya dikabari kalau mereka sudah sampai. malamnya saya temui mereka sepulang kerja untuk berkeliling bandung. puas jalan-jalan, dua tante saya ingin mampir ke kosan (yang tentu saja tidak bisa saya tolak, meski saya sudah sangat mengantuk dan saya tahu tujuan mereka tentu tidak sekedar 'berkunjung' hehe). ya, karena saat jalan-jalan saja mereka sudah mulai menyinggung soal status saya yg masih single. di jalan menuju kosan, bahasan itu makin 'panas' setelah salah seorang tante saya mulai membawa-bawa pengajian dan hukum agama. saya bergeming. sesampainya di kosan, hanya dua tante yg masuk sementara yg lain sudah sangat kelelahan sehingga memutuskan untuk tidur di mobil saja. di sini lah 'diskusi' dimulai. fyi, tante saya ini di keluarga besar memang dikenal tidak punya 'rem' kalau bicara. jadi saya sudah menyiapkan mental sejak lama jika berhadapan dengan mereka, apalagi kalau sudah menyinggung masalah pribadi. bahasan pernikahan yg dikaitkan dengan agama, tudingan mereka bahwa saya terlalu pemilih dan mencari yang sempurna, sampai cerita mereka saat dulu memutuskan menikah semuanya lengkap dibahas malam itu. saya sendiri sibuk. sibuk menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata tidak sopan, karena sebenarnya saya merasa tidak perlu menjelaskan hal-hal pribadi seperti ini pada mereka, karena kami tidak sedekat itu, meski kebetulan mereka adalah adik ibu saya. rasa kasihan dan tanggung jawab karena saya yatim piatu, jadi alasan mereka untuk mengingatkan saya soal ini. saya berhasil untuk menahan diri mengeluarkan kata-kata yg tidak seharusnya. alih-alih bilang 'ini hidup saya, jangan ikut campur!", saya akhirnya bilang "saya hargai perhatiannya dan ini jadi pengingat bagi saya. yg jelas dalam hal sepenting ini saya tidak ingin memutuskannya karena orang lain." saya sadar, bahwa kedewasaan salah satunya dinilai dari cara kita menghadapi masalah. dulu saat berumur 24-25 tahun saya hanya tertawa saja jika ada yg bertanya pernikahan. lalu di usia 27 - 29 tahun saya tidak bisa menyembunyikan kegusaran saya jika ada yg bertanya hal serupa, karena saya bosan ditanya terus. dan kini, saat menjelang 31 tahun saya mulai merasa bahwa menghadapi pertanyaan seperti itu tidak bisa dengan tertawa saja, apalagi dengan kegusaran. maka, saya coba menjelaskan kepada mereka yg bertanya. tentu dengan kalimat yg berbeda-beda tapi intinya sama. saya pernah menjelaskan pilihan saya untuk masih melajang pada salah satu abang saya, dan saya asumsikan dia paham, karena setelah itu dia tidak pernah bertanya lagi. tapi dengan para tante saya ini, saya agak kesulitan karena saya tidak cukup bagus dalam berkomunikasi dengan orang yang jauh lebih tua. tapi saya harus bisa. malam itu berakhir dengan saya meyakinkan mereka bahwa saya memang ingin menikah, tapi saya tidak bisa janjikan waktunya. dan sekali lagi, saya tekankan bahwa saya ingin mengambil keputusan penting itu ketika saya memang merasa waktunya sudah tepat, bukan karena dikejar oleh pertanyaan yg sama oleh semua orang. tante saya mengaku mengerti, tapi tetap mereka mengharapkan jawaban yg 'berbeda' nanti saat kami bertemu lagi (sigh). meski saya coba memahami mereka yang terus-terusan bertanya 'kapan menikah', saya masih saja penasaran, apa susahnya mengubah pertanyaan itu dengan "kami selalu doakan, dan kami tunggu kabar baiknya." ya maksud saya..jika saya belum menyinggung soal ini artinya ya belum. jika memang sudah saatnya, tentu saya akan bicara. tapi sepertinya mendoakan dan mendukung tanpa 'merecoki' dengan pertanyaan itu-itu lagi tampak sulit bagi mereka. jadi, apa artinya perhatian jika itu menimbulkan ketidaknyamanan?