Jul 30, 2009

ah...Bandung indah sekali hari ini :)


Saya suka moment di dalam tulisan ini. Yaaa terlihat dari judulnya yg menurut saya cukup mewakili hehehhe. Dan ini tulisan lama, yang kemudian tiba2 ingin saya posting di sini
***
jalan yang sama
waktu yang sama
angkot jurusan yang sama
macet yang sama
duduk di angkot dengan gaya yang sama

tak peduli angkotnya ngetem beberapa kali
tak peduli separah apapun macet jalanan
tak peduli supirnya nyetir dengan sangat menyebalkan (bahkan sering meludah sembarangan)
tak peduli berapa kali harus berhenti di lampu merah

duduk di pojok dan melihat dari jendela angkot ini
ditemani brandy alexander (feist), human & mr.brightside(the killers), trouble is a friend (lenka), dan sebagainya dan sebagainya...

biarkan saja orang itu melihat aneh ke arah saya,
dia juga biarkan saja,
apalagi dia...
hahahhahaha biarkan saja
mungkin mereka belum pernah melihat perempuan duduk sendiri di pojok angkot dan menggoyang2kan tangan & kepalanya sambil tersenyum sepanjang jalan
biarkan saja, karena mereka tidak merasakan hal yang sama seperti saya

"indahnya bandung hari ini"

semuanya karena cahaya senja yang menimpa setiap kendaraan (bahkan yg terjebak macet pun)
semuanya karena pohon-pohon yang bergoyang
semuanya karena angin sore yang sejuk
seperti sebuah lukisan

mungkin kemarin atau kemarinnya atau sebelumnya bandung pernah seperti ini
tapi baru sekarang saya tak henti2nya berkata
ah...bandung indah sekali hari ini:)

-bdg,301208-

Jul 27, 2009

GIMANA CARANYA??!!

Ceritanya berawal dari reunian kecil2an antara saya dengan teman SMA, yang bernama Alcha di BIP Sabtu kemarin. Kita janjian ketemuan di foodcourt dan saya telat setengah jam hehehe. Untungnya Alcha ngebawa temennya bernama Liza, jadi pas nunggu dia dan Liza sempet makan dulu di foodcourt itu, abis makan di foodcourt mereka berdua sempat jalan ke lantai bawah buat liat2.

Pukul 15.00 saya sampai di depan foodcourt dan langsung nge-sms Alcha. Mereka berdua kemudian naik lagi ke atas dan kita akhirnya masuk ke foodcourt. Kita memilih meja paling luar karena cuma itu yang kosong, dan saya hanya memesan jus, sementara mereka tidak pesan apa2. Masih kenyang katanya. Lalu dimulailah kami bernostalgia, sementara Liza yang baru saja saya kenal, memilih untuk meninggalkan kami berdua dan berkeliling sendirian.

Pukul 17.30 saya akhirnya harus mengakhiri temu kangen karena harus segera meluncur ke Sabuga buat liputan sementara Alcha dan Liza mau sholat dulu baru setelah itu pulang. Saat bangkit dari tempat duduk tiba-tiba,

"Lho, tas Alcha mana?"

Saya kaget dan saya pikir dia cuma salah taro. Tapi ternyata saya salah. Karena tas Alcha benar-benar hilang.

Menurut Liza, kronologisnya begini:

Saat mereka makan di foodcourt yang sama mereka memilih meja di pojok lain di foodcourt itu, dan kemudian selesai makan, mereka memutuskan untuk keliling2 ke lantai bawah. Liza yakin saat keluar dari foodcourt itu Alcha masih ngebawa tasnya. Dan  ga mungkin juga hilang di bawah, karena mereka hanya jalan2 dan ga mampir apalagi duduk di suatu tempat. Kesimpulannya, saat naik lagi ke lantai atas dan menemui saya di depan foodcourt pun Alcha masih membawa tasnya, meski saya sendiri ga ingat dia bawa tas atau tidak. Ga merhatiin soalnya, heu... Pas duduk bareng, Alcha naro tas plastik berisi buah di atas meja, dan tasnya sendiri di lantai dekat kaki tepatnya sedikit di bawah meja. Dan itu berarti posisinya di antara saya dan alcha. Sepanjang obrolan kami tidak kemana-mana. Jadi tidak mungkin juga kalo ada yang ngambil.

Saya pikir justru tas saya yang lebih beresiko untuk hilang, karena saya taro di atas kursi yang kosong di sebelah saya, sementara selama ngobrol pandangan saya justru ke arah yang berlawanan, tempat dimana Alcha duduk.

Hufff....

Akhirnya kami melapor ke security terdekat dan oleh security kita dibawa ke markasnya buat bikin laporan. Di perjalanan ke kantor security-nya saya sempet tanya ke Alcha ada apa aja di dalem  tas yang ilang. Untungnya dia ga nyimpen duit cash banyak di dalam dompet. Tapi atm ada di dalam tas itu berikut hape. Akhirnya kita suruh Alcha langsung blokir rekeningnya, dan untungnya bisa langsung diblokir karena jumlah duitnya lumayan banyak. *sigh*

Di markas security-nya Alcha ditanya pertanyaan standar, seperti isi tasnya dan sebagai dan sebagainya. Hanya saja kita ga tau persis kapan persisnya tas itu hilang, karena kita inget terakhir kali tas itu ada pas akan duduk dan ngobrol2, lalu nyadar ilangnya ketika kita akan pergi. Dan itu sekitar um...1.5 - 2 jam-an lah...

Sayangnya setelah dicek, tempat kita duduk tidak terpantau oleh kamera CCTV, dan akhirnya..si bos security cuma bilang,

"Yah diikhlaskan saja kalo begitu, Dek. Tapi saya yakin mereka tidak akan berani keluar dari mall ini. Nanti paling mereka buang tasnya di tong sampah tapi yang pasti tasnya udah kosong. Berhubung lapornya juga diperkirakan sejam setelah kejadian jadi yaa susah kalo kaya gitu, Dek."

Begitulah. Laporan kita ke security diakhiri dengan tukeran no telpon (ya kali aja ada perkembangan). Siapa tau tiba2 para security ini menemukan tas temen saya udah dipajang di salah satu toko tas hahahahha (kan katanya suka cepet barang curian berpindah tangan, bahkan dijual lagi...itu mah hape yak...hihihi tapi kali aja berlaku juga buat tas)  :))

Yang saya ga habis pikir sampe sekarang, koq bisa2nya ada yang ngambil tas itu tanpa kita sadari, sementara posisinya di tengah2 kita berdua? GIMANA CARANYA??!!

Jul 25, 2009

"segala dipikirin"

Saya sepertinya memang tumbuh dengan sifat seperti ini. Sifat yang pada akhirnya malah merepotkan diri sendiri. Sifat yang saya sebut "segalanya dipikirin".


Saya pernah bisa sangat sakit (dalam arti sebenarnya) hanya memikirkan sesuatu. Lalu sembuh ketika saya mulai merasa bisa menghadapi dan melewatinya. Atau di lain kesempatan malah tidak bisa tidur sama sekali akibat selalu terbangun dalam kondisi cemas berlebihan.


Sifat ini tidak diketahui orang di sekitar saya, karena sebisa mungkin saya berusaha untuk terlihat tenang di luar. 


Inginnya bisa seperti "masa bodo ah, males mikirin"...tapi mungkin itu harus dilatih lebih keras lagi, ato harus pasrah saja karena sudah bawaan? entahlah...


Otak ini rasanya tidak terbiasa memilih mana yang penting untuk saya masukkan ke otak lalu diproses...dan mana yang harusnya saya buang saja!

Jul 18, 2009

pengantin oh pengantin

Bukan, ini bukan orang yang duduk di sebelah pasangannya dan menerima banyak ucapan selamat di hari bahagia. Tapi pengantin di sini adalah istilah bagi mereka yang duduk di sebelah bom (yang siap meledak) dan menerima kecaman dari berbagai pihak karena membuat banyak orang menderita. Ini bukan pengantin biasa, karena mereka (pelaku bom bunuh diri) adalah orang2 yang bersedia berkorban nyawa untuk mencapai 'tujuan'.

Semalam saya mendengar pengakuan salah seorang pengantin di sebuah program investigasi di salah satu station TV. Nah, yang kebetulan saya dengar adalah pengakuan seorang pengantin yang pernah "beraksi" sekitar tahun 2000 di Jakarta. Dia mengaku tujuannya saat itu adalah jihad dan berpendapat bahwa melakukan tindakan kekerasan seperti itu adalah salah satu cara yang dibenarkan dan bisa disebut jihad. Saya muslim (walopun tidak bisa juga dibilang tahu segalanya soal agama), tapi saya belajar! Setahu saya yang namanya Jihad memang memerangi hal yang disebut kebatilan dan identik dengan cara mengangkat senjata (baca: perang). Intinya jika tujuan dari tindakan kita adalah menegakkan kebenaran dan memerangi kebatilan maka itu disebut Jihad.

Saya tidak akan memandangnya dari agama, tapi lebih ke perspektif yang sederhana saja. Bahwa jika kita merasa melakukan tindakan yang benar dan diridhai Tuhan, apakah itu termasuk membunuh orang yang tidak bersalah? Menurut pengantin ini mereka sangat menghindari korban salah sasaran, pergerakan mereka itu juga melihat waktu dan target yang tepat, untuk itulah mereka dilatih secara khusus... Tapi tampaknya ada yang tidak sinkron antara statement si pengantin dengan kenyataan yang ada. Mengingat aksi mereka beberapa tahun silam malah lebih banyak memakan korban salah sasaran. Pernahkah mereka membahas dan mengevaluasi ini dalam pertemuan pengantin seluruh dunia? hahahha... (yeah rite!)

Kalau kata Abu Bakar Ba'asyir,
"Saya sangat mendukung niat mereka yang ingin berjihad, tapi saya tidak setuju dengan caranya. Jika ingin memerangi musuh, pergilah ke medan perang, dan ledakkan bom di sana!"

Yes!

Saya pikir harusnya seperti itu. Kenapa mereka yang melatih para "laskar berani mati" ini tidak mengirimkan utusannya ke daerah yang memang sedang bergolak? Gaza misalnya? Kenapa di Indonesia? Memangnya ada apa di sini? Apa salah mereka yang harus terluka/cacat, depresi, bahkan tewas karena aksi mereka?

Bicara mengenai pengeboman di Ritz Carlton dan JW Marriot 17 Juli kemarin, saya sempat lihat di TV, suasana TKP sesaat sebelum terjadi ledakan. Dimana ada seorang laki-laki (yang diduga kuat sebagai pengantin) berpakaian serba hitam tertangkap kamera sambil membawa sebuah travel bag. Pembawaannya yang tenang (tentu dia sudah terlatih) tidak sedikit pun membuat orang2 di sekitar curiga. Tak lama setelah sosoknya berlalu menuju salah satu pojok ruangan, tiba2 terjadi ledakan dari arah sana.

Banyak spekulasi yang berkembang mengenai pelaku. Jika dua kasus pengeboman yang terjadi beberapa tahun silam erat dikaitkan dengan gerakan Islam garis keras, maka pengeboman kali ini salah satunya memunculkan dugaan adanya kepentingan politik (pascapilpres). Walaupun masih simpang siur mengenai TUJUAN di balik tragedi ini, satu hal yang pasti, bangsa ini kembali menangis dan awan gelap kembali bergelayut di sini...

Jul 14, 2009

hormone.hormone.hormone


Namanya Hormon Serotonin

Konon hormon inilah yang mengendalikan mood termasuk emosi kita. Jika kadar hormon ini berkurang di otak, maka biasanya seseorang jadi lebih agresive atao emosian. Nah, ini biasanya terjadi ketika menjelang menstruasi dan mungkin karena itu juga ada istilah Pre Menstruasi Syndrome, dimana salah satu gejalanya perempuan bisa menjadi jauh lebih sensitif dan rada2 labil hehehehe. Saya kadang mengalaminya justru bukan sebelum mens melainkan sesudahnya. Tapi beberapa bulan belakangan malah jadi lebih sering sebelum mens...heu!

Saya sebenarnya sudah sangat berusaha agar saat menjelang mens, bisa mengendalikan emosi. Terus terang saya sedikit tegang karena pengalaman saya sebelum2nya ketika kekurangan hormon serotonin pas PMS ini rada menyeramkan (hahahha lebay). Maksudnya saya tidak hanya jadi makan lebih banyak, tapi juga emosian, gampang marah, gampang tersinggung, dan kalo sendirian gampang nangis (D.A.M.N!). Bagi saya itu menyeramkan! Makanya bulan ini harus berubah, dan saya coba menahan terus karena saya pikir kalo otak saya bilang bisa, maka saya pasti bisa! Ternyata alih-alih ada perubahan, yang ada ketika saya tahan terus akhirnya malah meledak, iya kalau di saat yang tepat (maksudnya ketika sendirian di kamar, jadi bisa nangis sepuasnya) tapi kalo di depan banyak orang kan malu yaaaa...hehehehhe

Dan ya...saya gagal! Sekuat apapun saya bisa menahan untuk tidak terbawa emosi ketika otak saya kekeringan serotonin saya tidak bisa... Kata teman itu sangat perempuan, dan sangat wajar, jadi ya lepaskan saja. Kalau kata saya itu memang sangat perempuan dan sangat wajar, tapi tetap harus dikendalikan. Mungkin bulan depan saya akan coba lagi hahahhaha...Karena memang tidak enak sekali rasanya terlalu berlebihan dalam menghadapi apapun. Bahkan ketika suatu malam (saat seperti biasa saya tidak bisa tidur) di salah satu station tv saya liat film berjudul "Raise Your Voice". Film remaja dengan bintang Hilary Duff dan ceritanya tentang bagaimana ia bisa kembali bangkit dan punya kepercayaan diri pascakecelakaan yang menimpa dia dan abangnya. Dia trauma karena kecelakaan itu merenggut nyawa saudaranya. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa itu dan sempat tidak ingin lagi bernyanyi (padahal dia suka sekali bernyanyi).

Yaaa tidak banyak film yang membuat saya menangis dalam kondisi "normal". Tapi kembali lagi betapa menyebalkan dan menyeramkannya kekurangan serotonin ini. Film ini saja bikin saya nangis dan membuat mata bengkak besok paginya...(D.A.M.N!) ahahhahahha....

"hormone.hormone.hormone"
mendadak jadi suka mengucapkan kata itu...

Jul 3, 2009

bahwa pada dasarnya....

Berpikir bahwa pada dasarnya setiap orang itu baik dan tak ada orang yg benar-benar jahat tampaknya menjadi cara yang ampuh bagi saya untuk lebih introspeksi diri lagi ketika merasa disakiti oleh orang lain... terlebih jika saya merasa disakiti oleh teman...

Saya pernah merasa dijahati oleh dua teman semasa SMP dan SMA, untuk alasan yang saya tidak tahu (hingga kini)...

Dan belakangan peristiwa demi peristiwa semasa sekolah itu kembali berkelebat di benak saya, dan saya semakin tergelitik untuk mengingat lagi apa kira2 yang membuat mereka merasa perlu berlaku jahat pada saya (sementara selama ini saya bersikeras bahwa saya tidak pernah menjahati mereka).

"Emang dasar mereka sirik aja sama loe," begitu komentar kebanyakan teman ketika saya bercerita.

Tapi saya ga puas dengan jawaban itu, meski terkadang akan lebih gampang untuk saya bisa melupakan kejadian2 tidak mengenakkan dulu dengan berpikir bahwa "emang mereka sirik aja" (walaupun saya juga tidak tahu apa bagian dari diri saya dan hidup saya yang membuat mereka sirik). Saya pernah menulis tentang mereka setahun yang lalu dalam blog saya yang berjudul "Kadang Benci itu Tidak Perlu Alasan" dan kenyataannya
selama sekian tahun saya lebih meyakini bahwa memang tidak ada alasan yang benar2 jelas atas sikap mereka itu.

Cuma kembali lagi saya berpikir bahwa sangat aneh jika mereka tidak memiliki alasan sama sekali. Mengingat apa yang telah mereka lakukan (well..saya tidak mungkin juga cerita detailnya apa saja yang telah saya alami bersama mereka selama lebih kurang lima tahun...kepanjangan soalnya heheheh) dan itu sangat-sangat membekas hingga sekarang. Apalagi ketika baru2 ini saya tahu mereka masih menyimpan rasa benci yang sama. Hufffff....

Tapi kini saya sampai pada pemikiran bahwa mungkin dulu memang ada tindakan saya yang (tanpa saya sadari) menyakiti mereka. Entah apa itu yang jelas kalau saya sadar melakukannya saya yakin detik itu juga saya langsung minta maaf, apalagi mengingat mereka tadinya adalah teman dekat saya.

And the point is...

Tak ada satupun orang (termasuk dua teman saya ini) yang benar-benar jahat saya rasa. Karena pasti ada sesuatu yang memicu mereka untuk melakukannya, alias ada penjelasan di balik itu semua. Dan berpikir dengan pola seperti itu saya rasa jauh lebih baik. Karena saya tidak lagi terus-terusan menyalahkan mereka yang sedikit banyak telah meninggalkan trauma (hahahahha) dan mulai melihat ke diri saya sendiri....

Jadi, sebelum saya menyalahkan orang lain karena merasa disakiti, saya akan selalu mengingatkan diri saya untuk melihat ke diri sendiri dulu... Kalau memang saya tidak melakukan apa2...tapi tetap disakiti berarti emang orangnya aja yang sensi (kekkekekek) *apeu*