Bukan, ini bukan orang yang duduk di sebelah pasangannya dan menerima banyak ucapan selamat di hari bahagia. Tapi pengantin di sini adalah istilah bagi mereka yang duduk di sebelah bom (yang siap meledak) dan menerima kecaman dari berbagai pihak karena membuat banyak orang menderita. Ini bukan pengantin biasa, karena mereka (pelaku bom bunuh diri) adalah orang2 yang bersedia berkorban nyawa untuk mencapai 'tujuan'.
Semalam saya mendengar pengakuan salah seorang pengantin di sebuah program investigasi di salah satu station TV. Nah, yang kebetulan saya dengar adalah pengakuan seorang pengantin yang pernah "beraksi" sekitar tahun 2000 di Jakarta. Dia mengaku tujuannya saat itu adalah jihad dan berpendapat bahwa melakukan tindakan kekerasan seperti itu adalah salah satu cara yang dibenarkan dan bisa disebut jihad. Saya muslim (walopun tidak bisa juga dibilang tahu segalanya soal agama), tapi saya belajar! Setahu saya yang namanya Jihad memang memerangi hal yang disebut kebatilan dan identik dengan cara mengangkat senjata (baca: perang). Intinya jika tujuan dari tindakan kita adalah menegakkan kebenaran dan memerangi kebatilan maka itu disebut Jihad.
Saya tidak akan memandangnya dari agama, tapi lebih ke perspektif yang sederhana saja. Bahwa jika kita merasa melakukan tindakan yang benar dan diridhai Tuhan, apakah itu termasuk membunuh orang yang tidak bersalah? Menurut pengantin ini mereka sangat menghindari korban salah sasaran, pergerakan mereka itu juga melihat waktu dan target yang tepat, untuk itulah mereka dilatih secara khusus... Tapi tampaknya ada yang tidak sinkron antara statement si pengantin dengan kenyataan yang ada. Mengingat aksi mereka beberapa tahun silam malah lebih banyak memakan korban salah sasaran. Pernahkah mereka membahas dan mengevaluasi ini dalam pertemuan pengantin seluruh dunia? hahahha... (yeah rite!)
Kalau kata Abu Bakar Ba'asyir,
"Saya sangat mendukung niat mereka yang ingin berjihad, tapi saya tidak setuju dengan caranya. Jika ingin memerangi musuh, pergilah ke medan perang, dan ledakkan bom di sana!"
Yes!
Saya pikir harusnya seperti itu. Kenapa mereka yang melatih para "laskar berani mati" ini tidak mengirimkan utusannya ke daerah yang memang sedang bergolak? Gaza misalnya? Kenapa di Indonesia? Memangnya ada apa di sini? Apa salah mereka yang harus terluka/cacat, depresi, bahkan tewas karena aksi mereka?
Bicara mengenai pengeboman di Ritz Carlton dan JW Marriot 17 Juli kemarin, saya sempat lihat di TV, suasana TKP sesaat sebelum terjadi ledakan. Dimana ada seorang laki-laki (yang diduga kuat sebagai pengantin) berpakaian serba hitam tertangkap kamera sambil membawa sebuah travel bag. Pembawaannya yang tenang (tentu dia sudah terlatih) tidak sedikit pun membuat orang2 di sekitar curiga. Tak lama setelah sosoknya berlalu menuju salah satu pojok ruangan, tiba2 terjadi ledakan dari arah sana.
Banyak spekulasi yang berkembang mengenai pelaku. Jika dua kasus pengeboman yang terjadi beberapa tahun silam erat dikaitkan dengan gerakan Islam garis keras, maka pengeboman kali ini salah satunya memunculkan dugaan adanya kepentingan politik (pascapilpres). Walaupun masih simpang siur mengenai TUJUAN di balik tragedi ini, satu hal yang pasti, bangsa ini kembali menangis dan awan gelap kembali bergelayut di sini...