Sabtu, hari itu saya mulai dengan ngomel-ngomel seru dengan teman karena siang itu kami harus pergi ke satu lokasi acara untuk mengambil ID liputan konser yang akan diadakan malam harinya. Kami mengomel bukan tanpa sebab.
Pertama, lokasi itu bisa dibilang berada jauh di ujung sana, artinya butuh usaha lebih untuk pergi ke sana. Kedua, karena pengambilan ID ini menurut hemat kami bisa dilakukan menjelang acara saja, jadi kami tidak mesti bolak balik; siangnya ke sana, lalu pulang, terus ke sana lagi malamnya untuk liputan. Sangat tidak hemat (tenaga dan uang)!
Kami terlambat dua jam dari jadwal yang ditentukan oleh panitia untuk mengambil ID. Tak ada masalah ternyata. Mereka tidak judes, tidak sinis, tidak marah apalagi ngamuk dengan keterlambatan kami. Membuat saya dan teman berpikir, mungkin saja ID ini bisa diambil malem, ga mesti siang2 begini. Toh ternyata mereka juga ga straight sama aturan yg mereka bikin. Belum lagi aturan teknis peliputan yang tidak masuk akal yg membuat kami tertawa sekaligus marah secara bersamaan. Yasudahlah.
Kami berdua lalu janjian ketemuan di Nanny's Pavillon dengan satu teman lainnya. Cafe si nenek ini nyaman dan yang paling penting menunya ENAK2 :D Ini bagian di Hari Sabtu itu yang membuat saya sedikit terhibur setelah marah dan ngomel2 berjamaah dengan kedua teman.
Setengah 7 malam kami siap2 menuju lokasi liputan. Sementara teman saya yg lain langsung pulang. Kami turun angkot begitu melihat ada taksi yang bisa mengantar kami ke pelosok sana. Dan sebelum kaki saya menginjak aspal, angkotnya tiba2 jalan. Dalam slow motion, saya uraikan apa yg ada di benak saya saat itu.
"Kalo lompat ada resiko lagu lama terulang ; dengkul nyengsol lagi, kalo tetep seperti itu akan terseret angkot terus. Eniwei kl posisi begini yang ada malah kaya kenek :D"
Hup. Saya pilih lompat, setengah ketawa saya bilang "si bapak ga liat2 nih", itu saya ke supirnya. Tentu saja saya tidak tahu apa yang terjadi di angkot setelahnya karena saya dan teman sudah berlari menuju taksi. Tapi teman saya yang satu lagi -karena masih tertinggal di angkot dalam perjalanannya pulang- mendengar salah satu penumpang memberikan komentar brilian: "ih lagian salah si tetehnya juga". Yg dia maksud itu, saya yg salah. Temen saya spontan membalas : "Ya terus kenapa?" kurang lebih seperti itu.
Menurut teman saya sangatlah tidak ada juntrungannya penumpang ini memberikan komen brilian seperti itu. Pertama, kejadian tadi tidak ada hubungannya sama sekali dg dia, kecuali kalo pas keseret angkot tadi saya megangin dia sampai dia juga ikut keseret/jatuh. Kedua, dalam posisi tadi tentu saja saya yg dibahayakan, faktanya, saya malah ketawa2 aja, tidak menggedor angkotnya apalagi naik ke angkot terus kalap nyekek si supir. (hm, mendengar cerita teman, justru harusnya saya naik lagi ke angkot, tapi buat nyekek si teteh brilian itu :p)
Beralih ke taksi. Saya dan teman dilayani dengan baik, awalnya. Supirnya ramah, awalnya. Dia senang ngobrol. Semua kesan positif itu berubah begitu 15 menit kami di taksi. Pembicaraan dimulai dg cerita dia soal bantuan yg dia dan teman-temannya kumpulkan untuk korban bencana lalu ngoceh tentang orang kaya pelit yg ga mau nyumbang (d'oh mau nyumbang kok ya mesti ngeliat dan ngomentarin org lain toh?!).
"Neng dari mana?" pertanyaan itu lalu kami jawab begitu saja. Eh, dia kemudian bilang kalau dia tahu daerah kami berasal, bahkan ngaku pernah ke sana. BAHKAN dia bilang istrinya berasal dari daerah yg sama dg saya. What a coincidence! "Itu istri kedua saya," yg dijawab "ohh" oleh saya. Sementara istri pertamanya dia bilang sedaerah dengan teman saya. WHAT A COINCIDENCE, AGAIN.
Saya mulai meragukan kebenaran ceritanya. Lalu dia cerita bagaimana hidup berpoligami, bahwa dia melakukannya krn permintaan istri pertama yg tidak bisa memberi keturunan, tapi kedua istrinya hidup rukun, kalo kata dia sudah seperti... SOULMATE?!
Sementara di luar sana kemacetan benar-benar membunuh karena kami harus mendengar ocehan dia yg sebenarnya bisa dijawab dengan satu kalimat saja, WE DONT GIVE A SHIT AND SHUT THE FUCK UP :D
"Neng jgn mau ya nanti dipoligami," saran brilian yang membuat saya ingin memahat kepalanya.
"ya iyalah", jawab teman saya nyolot.
Sudahlah, kepanjangan kalau nulis ocehan dia di sini.
Karena lokasi tujuan kami tidak memberikan banyak pilihan angkutan umum, akhirnya kami TERPAKSA meminta supir ini untuk nanti kembali menjemput kami usai acara dan dia menyanggupi. Dalam perjalanan pulang saya hanya berdoa mulut bapak ini sudah terlalu pegal utk ngoceh seperti tadi lagi. Tak lama ponselnya berbunyi. Meski bisa mendengar pembicaraannya, tentu saja kami tidak paham apa yg dia bicarakan dan dg siapa dia bicara. Namun, semuanya mulai jelas begitu dia menelpon temannya. "Gua tadi ditelpon, ada tamu dari Singapura nginep di hotel A, dan dia minta cewe, kalo bisa dua, krn dia juga bawa teman. Gapapalah sekalian jadi "Agen Lendir"".
WHAT...THE....FUCK?!
"Fuck" itu dia, yang mengumpat kesal krn HP-nya tiba2 mati. Dia lalu minta maaf pada kami, "Aduh maaf ya neng. Yah, gini lah kalo jadi GERMO."
Spontan, teman saya langsung mencolek saya dengan raut muka yg tidak bisa diartikan, seperti ingin tertawa sekaligus teriak AN**NG ato apa lah. Sementara saya memilih buru2 mengalihkan pandangan ke luar agar tidak tertawa. Kacau kalo si GERMO ini tersinggung, bisa2 kami yg dianter ke hotel itu, kebetulan berdua. *PLAK
Sialnya, di tengah jalan tiba2 dia berhenti untuk mengisi pulsa. Piece of Shit banget kan ni orang? Dia kira kita numpang gratis di taksinya?! Saat itulah teman saya yg duduk persis di belakang bangku supir mulai curiga dg argo yang dari sejak kami naik sudah ditutupi dengan kemasan pewangi mobil. Saya sendiri baru tahu itu. Dan begitu kemasan itu disingkirkan, kecurigaan langsung menyeruak (caelaah). Tarifnya lebih mahal dr perkiraan kami. "Kayanya dia udah masang argo sebelum kita naik deh, ato itu argo sisa dari orang lain," curiga teman, dan saya sepakat.
Tak hanya kecurigaan yang menyeruak, kekesalan pun sama ketika dia berhenti untuk KEDUA KALINYA, masih di saat ada kami (baca: penumpang) di taksinya. Kali ini dia berhenti di depan sebuah hotel dimana dia kemudian dihampiri oleh temannya yg belakangan kami tau dia adalah orang yg tadi di ujung telpon, teman sesama AGEN LENDIR (bahkan saya masih takjub dg istilah ini).
Agen Lendir 1 dan Agen Lendir 2 bicara, mengabaikan nada protes dari kami yg tentu saja sudah kesal sampai ke ubun2. Temannya ini sempat melirik ke dalam taksi beberapa kali. Tatapannya membuat saya menyesal tidak membawa garpu karatan buat ditancepin ke matanya.
Siapa sangka, meski kami merasa telah memilih taksi yg terpercaya sekalipun, tapi itu tidak menjamin apa-apa. Kekesalan kami lebih karena dia berhenti sampai dua kali untuk mengurus urusan pribadinya, artinya nyambi pekerjaan lain di saat sedang menjalankan tugasnya sebagai supir (soal dia mau jadi GERMO, MUCIKARI, AGEN LENDIR, sayangnya kami tidak peduli. SAMA SEKALI). Dan juga dg sangat mencurigakan menutupi argo!
Yg jelas hari itu kami habiskan dengan membahas dan memaki2 berjamaah lagi hingga menjelang subuh. Panitia konser dengan aturan aneh, penumpang angkot dg komen mahatidakpenting, hingga supir taksi yang punya side-job sbg AGEN LENDIR (atau sebaliknya). Hey, saya melewatkan drama queen yg kami temui di konser. Begitu kami sampai di depan stage, teman saya memilih posisi persis di samping dia. Entah kenapa si cewe labil binti manja ini kemudian merintih2 ke sang pacar, seperti sedang kesakitan, seolah teman saya yg ada di sebelahnya ngegencet dia sama bata 5 ton. "Bahkan gua ga nyentuh dia!" ujar teman saya berapi2. Ahahaha..
Oh well!