Jun 19, 2009

pesan, dan otak yang karatan

tak apa
duduk saja di sana
diam saja
akupun akan tetap bergeming di sini
mau sampai kapan?
aku akan ikut saja

tak apa
diam saja padaku dan bicara pada mereka
aku akan tetap bergeming di sini
lakukan
lakukan apa yang otakmu katakan, untuk memberi pesan padaku
yang pasti, aku akan terima pesanmu

sayang saja...
kau tidak pernah menerima pesanku
apapun yang kulakukan

otakku sudah karatan
sehingga sudah tak mampu berpikir apa lagi yg harus kulakukan
agar kau menerima pesanku

tapi...
jika sudah selama ini, dan sudah segala cara
kau masih tak menerima pesanku
mungkin saja otakmu yang karatan!


Jun 3, 2009

comfort zone vs uncomfort zone

Ada yang berkata bahwa seseorang itu tangguh jika dia bisa bertahan di luar zona nyaman (comfot zone)-nya.

Saya awalnya percaya itu. Percaya bahwa jika kita benar-benar ingin merasa hidup, ya cobalah keluar dari comfort zone dan coba taklukkan tantangan yang ada. Tapi saya merasa belum mau beranjak dari zona itu. saya lebih memilih diam saja. Di sini, di tempat saya berada, di comfort zone saya. 

Hanya saja belakangan saya jadi berpikir lagi tentang zona ini. Bukan, bukan bertanya tentang kapan saya keluar dari zona nyaman saya lalu mencoba menghadapi tantangan hidup yang sesungguhnya? Tapi pertanyaan yang selama ini belum pernah saya pikirkan:

Benarkah ada yang namanya comfort zone?

Karena kenyataannya sekalipun saat ini saya berada di comfort zone saya, tapi saya tetap merasa bahwa selama ini (bahkan hingga kini)
dimana pun saya berada selalu ada tantangan tersendiri yang harus saya hadapi.

Dalam pekerjaan misalnya. Kenapa saya memilih kota ini bukan kota itu. Kenapa saya memilih pekerjaan ini bukan pekerjaan itu. Jawabannya, karena saya enjoy!

Kemudian ada nada sinis yang bergema di kepala saya:

Hoo berarti kamu emang mau enaknya saja karena cuma ingin berada di tempat yang membuat kamu nyaman tanpa berpikir untuk mencoba uncomfort zone kamu? Lihat donk temen-temenmu yang sudah menaklukkan berbagai tantangan di luar sana, mereka sudah mendapat banyak hal... Lalu kamu mendapat apa? Dan mau sampai kapan seperti ini?

Lalu ada yang menjawab lagi di kepala saya:

Saya tetap mendapat sesuatu koq. Dan saya akan di sini sampai saya benar-benar tidak punya pilihan lagi...

Kemudian setelah perdebatan dua suara itu saya berpikir lagi. Bahkan di dalam comfort zone saja, saya merasa tetap ada tantangan, ada kendala, ada masalah yang membuat hidup saya tetap fluktuatif. Walaupun lika liku-nya relatif tidak seekstrim orang lain yang bekerja keras di luar sana, dengan tingkat stress yang tinggi, bla.bla.bla lalu dalam waktu singkat wajah mereka tampak lebih tua dan lelah...Huffff!!!

Jika seseorang berkata: enak sekali orang yang bisa memilih tempat yang nyaman untuk mereka, sementara saya tidak punya pilihan dan harus menjalani semua yang sama sekali tidak terpikirkan.

Tapi saya yang (merasa) berada di comfort zone, tetap saja ada kalanya saya merasa stress, hopeless, bosan, bahkan terbebani. Saya pikir sama saja dengan orang lain. Lalu apa bedanya?

Kemudian saya pikir saya menemukan jawabannya.

Ya, tidak ada yang namanya comfort zone. Karena dimana pun kita berada dan se-ideal apapun kondisinya, tetap saja tidak ada tempat yang benar-benar nyaman. Selalu ada tantangan di sana yang harus ditaklukkan. Selalu ada kendala dan masalah yang harus diselesaikan. Jadi bagi saya, tidak ada lagi comfort zone!!!