Sep 26, 2011

From Where I Sit

melihat pemandangan ini, biasanya saya selalu sedih. tidak akan bisa berlama-lama menatapnya karena pasti berakhir dengan menangis. tapi hari ini berbeda. 
***
dari tadi saya duduk di balik laptop. menatap layar dengan tangan sibuk menari di atas keyboard. ahh, memboyong kerjaan saat mudik lalu berkantor di teras rumah itu ternyata menyenangkan.

mendung dari tadi akhirnya meneteskan gerimis. semakin dingin saja. sesekali mata saya beralih dari depan layar, curi pandang ke 'potret hidup' di depan saya. entah, rasanya tenang. 

kesekian kalinya saya teguk kopi dingin lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. indah ternyata. ada bukit jika saya melirik ke kiri depan. ada bukit lainnya jika saya menoleh ke belakang. sisanya, rumah-rumah tetangga, jalanan yang diguyur air hujan lengkap dengan aroma tanah yg khas. sesekali terdengar deru mesin motor berlalu lalang.

pemandangan yang sudah saya akrabi sebenarnya sejak kecil. ya, kecuali pemandangan di depan saya ini. baru hadir 7 tahun belakangan. entah kenapa, dari tempat saya duduk sekarang, saya bahkan bisa 'menikmati' pemandangan ini sembari tersenyum, seolah dia juga melihat saya dari sana, dan ikut tersenyum.

hi, dad! :)


-bukittinggi, 07/09/11-

Sep 19, 2011

c.o.w.a.r.d


berusaha itu wajib. sisanya biarkan tuhan yang atur. saya tahu, mengerti daan... kesulitan menjalankannya.

saya bosan dengan sesuatu. tapi tidak pergi mencari yang baru. tidak juga berusaha agar sesuatu ini memberi nuansa yang  baru bagi saya. kemudian mengeluh sendiri. jadinya? stress sendiri. mencoba mendengar orang lain, tetap tidak mempan. 

otak ini karatan menghadapi masalah yang sama tiap hari, membusuk membayangkan hal2 yang tidak kunjung dilakukan.

apa? ya ya saya tahu. tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang jika dia sendiri tidak berusaha. err..bahkan ini tidak memotivasi saya juga. 

marah, sedih, kecewa semua karena diri sendiri. mungkin ini yang disebut pertarungan sesungguhnya adalah dengan diri sendiri.

apa? ke laut aja? hm, mungkin harus begitu. agar si sumber masalah lenyap dari muka bumi (apalagi jika tidak bisa berenang).  

yang saya tahu, untuk mengubah atau berubah butuh keberanian, sesuatu yang saya tidak punya. 

but hey, saya punya. setidaknya barusan. saya berani mengakui bahwa saya tidak punya keberanian alias C.O.W.A.R.D.

and because "cowards die many times before their deaths", i dont really need to jump into the sea, do i?