Dec 22, 2014

22 desember

tidak seperti orang lain, ini adalah hari yg tidak pernah saya rayakan seumur hidup. pun sekedar ucapan saja tidak. kali ini saya juga tidak akan merayakannya... tapi ingin memberikan ucapan.

selamat hari ibu untuk mama di surga :)




















dan untuk mama-mama di seluruh dunia

Dec 2, 2014

...

Ternyata, menulis itu bisa jadi cara untuk mengatasi perasaan kesal dan marah. Ini saya rasakan di tulisan sebelumnya. Saya kesal pada seorang teman dan tidak bisa menguasai perasaan saya, bahkan saya merasa di titik sudah 'berlebihan'. Tapi setelah menumpahkan uneg-uneg saya dalam sebuah tulisan, lebih dari setengahnya perasaan kesal itu terangkat. Walau tidak sepenuhnya mengobati, tapi sangat manjur untuk membuat perasaan jauh lebih baik.

Kini, saya menulis masih dalam rangka kesal. Pada beberapa hal, pada beberapa orang dan pada diri sendiri. Beberapa hari ini saya selalu 'berjodoh' dengan orang-orang yg plintat plintut. Janji begini, lalu dia lupa. Bilangnya iya nyatanya tidak. Sialnya, tuntutan pekerjaan dan keadaan memaksa saya harus menyinyiri mereka. Mulai dari klien, orang di lingkungan kerja, hingga keluarga sendiri. Buat saya dalam kasus ini sederhana saja. Kalau tidak bisa, jangan bilang bisa, kalau iya bilang iya, dan tidak bilang tidak. Jangan repot-repot memoles 'tidak' dengan 'iya, tapi...'. 

Di luar kondisi ini, saya selalu mengingatkan diri sendiri. Jangan terlalu membuang banyak waktu untuk memikirkan orang-orang yang akan membuatmu mengumpat, kesal dan marah. Itu hanya akan menguras banyak energi dan merugikan diri sendiri. Lakukan lah sesuatu untuk mengalihkan perasaan dan pikiran negatif. Itu pesan saya untuk diri sendiri, yg kemudian menguap begitu saja. Saya sudah mencoba untuk selalu berpikir positif, tapi gagal. Juga sudah coba melakukan kegiatan yang menyenangkan seperti baca cerita lucu, dengar musik, tapi itu hanya mengalihkan sementara. Maka akhirnya saya pilih menulis. 

Oh ya, masih dalam rangka mengurangi rasa kesal, saya juga sedang berpikir untuk mendeaktifkan akun Facebook. Ah, memang saya ini gampang kesal. Makanya saya butuh me-manage emosi sendiri. Saya lihat ada yang upload foto selfie semuka-muka saya kesal, lihat foto yg diedit berlebihan saya kesal, lihat status tidak penting yg di-like oleh si empunya status saya kesal, baca status orang yg 'latah' ngomongin hot topic saya kesal. Alih-alih, saya ingin menemukan cara untuk tidak gampang kesal, ketimbang menyalahkan orang lain. Saya pikir saya harus punya anger management yang bagus. Mungkin energi untuk kesal itu bisa saya salurkan ke hal yg menyenangkan dan bermanfaat bagi diri sendiri. Hm, olahraga mungkin ya? Hunting sepatu olahraga ah... *lho :D 

Nov 24, 2014

am i the best (loser)?

sedang dalam masa-masa kesal pada seorang teman, bahkan hanya dengan melihat namanya saja saya kesal sekali. banyak hal yg melatarbelakangi ini. intinya, ini akumulasi perasaan dari sejak dulu dan yaaa sekarang saya lagi PMS.

sebagai seorang teman, saya selalu berusaha jadi yg terbaik. lakukan apapun agar teman saya merasa nyaman. sampai akhirnya saya berada di titik, "kayanya gua berusaha terlalu keras deh, dan dianya biasa aja". akhirnya ya capek sendiri. bahkan saya tidak tahu, apa selama ini saya masih menjadi diri sendiri atau malah sebaliknya di hadapan teman-teman. lalu lahirlah kesal yang menumpuk dan menumpuk.

entahlah, saya tahu konyol saja kalau tiba-tiba saya unfriend teman saya yg satu ini di FB atau unfollow di twitter hanya untuk memuaskan nafsu amarah saya, sementara dia tidak tahu apa-apa. karena sesungguhnya kekesalan ini sumbernya dari saya (ya meski dipicu oleh tingkah dan sifatnya dia juga). tapi saya lebih memilih menyalahkan diri sendiri. kalau pun saya ungkapkan kekesalan ke dia, saya tidak tahu mulai dari mana?!

jadi sekarang gambarannya seperti ini, saya kesal setengah mati di sini dan di sana dia mungkin sedang duduk manis melewati sore ditemani secangkir teh. 

ah kalau sudah bicara tentang teman, kadang saya merasa yg terbaik, tapi kadang saya merasa seperti pecundang. entahlah...

Nov 3, 2014

Saat Rindu Mama dan Rumah

Beberapa hari ini saya cukup intens mengenang Mama. Entah lah, tiba-tiba saya ingat sosoknya sedang duduk di kursi roda. Ingat suaranya di seberang telepon. Bahkan saya rindu rumah dengan Mama di dalamnya.

Jika kehilangan Papa saya merasa terpukul dan baru bisa benar-benar ikhlas setelah beberapa tahun sejak kepergiannya, maka kehilangan Mama rasanya agak berbeda. Saya ikhlas, tapi sedih. Sungguh. Apalagi jika ingat rumah. Karena Mama adalah sosok yg selalu saya dapati jika pulang ke rumah. Saat Papa ditugaskan ke luar kota, saat anak-anaknya satu per satu (termasuk saya) pergi dari rumah untuk menimba ilmu ke luar kota, lalu menikah dan melanjutkan hidup masing-masing di tempat yg berbeda, hanya Mama yang tetap ada di rumah.

Beberapa hari setelah Mama pergi dan saya bersiap kembali ke Bandung, kami sempat gotong royong membersihkan rumah. Dan ya, rasanya sepi dan kosong. Rumah itu tidak benar-benar kosong memang, karena masih ada kakak laki-laki saya yang menempati. Tapi tanpa Mama, rasanya benar-benar berbeda. Rumah ini sudah begitu lekat dengan sosoknya. Saya bahkan bisa mengingat Mama dengan jelas di setiap sudut rumah. Banyak sekali kenangan di rumah itu bersamanya.

Saya memang bukan anak perempuan yg dekat dengan ibunya. Kami bahkan tidak pernah saling mencurahkan isi hati atau sejenisnya. Kami tidak pernah benar-benar sepaham bahkan lebih sering bertengkar. Saling sayang tentu saja, hanya saja kami tidak dekat. Tapi sejak kepergiannya, semua kenangan tak menyenangkan hilang begitu saja. Syukurlah, otak dan hati saya sepakat untuk hanya mengenang masa-masa menyenangkan (kadang juga mengharukan) dengan Mama.

Pascakepergian Mama, membuat saya ingin lebih sering pulang. Sekedar menengok rumah yg di halamannya ada makam Papa dan Mama. Dan oh tentu saja menengok kakak saya yg tinggal sendiri di rumah itu (hehe). Di kampung halaman saya, kebanyakan rumah sayangnya ditinggal begitu saja terutama setelah para orang tua meninggal dunia. Karena itu saya ingin rumah peninggalan Mama dan Papa ini tetap terawat, sehingga kelak kami tetap bisa berkumpul seperti sebelumnya. Jadi Mama dan Papa tetap bisa melihat kami dari tempat peristirahatan terakhir mereka J

Oct 26, 2014

Selamat Jalan, Ma...

Minggu, 12 Oktober, pukul setengah lima pagi, saya sudah duduk di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta. Pesawat saya masih 3 jam lagi. Dari awal saya berusaha menyibukkan diri serta mengalihkan perhatian agar tidak memikirkan satu hal. Ngobrol dengan teman di WhatsApp dan melihat orang yg lalu lalang sambil mendengarkan musik. Ah, untung lah jadwal terbangnya tidak delayed.

Pukul 9.30 saya mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Masih 90 km lagi perjalanan darat yg harus saya tempuh untuk sampai di rumah. Saudara memilih menjemput saya dengan motor dengan alasan macet. Bagi saya, apapun itu yg penting saya harus segera sampai rumah. Saya tidak mau ditunggu terlalu lama.

Dua jam perjalanan dengan motor akhirnya saya sampai di depan rumah. Hal yg berusaha tidak saya pikirkan sejak dari Bandung, kali ini langsung menyerbu pikiran dan perasaan saya. Sungguh saya tak pernah bisa menerima pemandangan seperti ini. Pemandangan yg kurang lebih sama dengan 10 tahun lalu. Kerumunan orang di halaman rumah, tatapan sedih, bendera putih, karangan bunga. Saya rasanya sudah tidak merasakan kaki ini menapaki tanah. Begitu sampai di pintu depan dan melihat sekilas ke dalam rumah, saya terhenti. Ada yg sesak di tenggorokan.

“Aku ga bisa,” ujar saya pada Uda, saudara laki-laki tertua yg berusaha meyakinkan dan menguatkan.

Kemudian salah seorang Tante menyambut dan menuntun saya untuk masuk. Kini saya sudah tidak bisa menahan air mata yg langsung keluar ketika melihat sosok yg terbaring di tengah rumah, tertutup kain dari kepala hingga kaki. Banyak hal yg berputar di kepala saya. Banyak perasaan yg berkecamuk di hati. Hingga salah seorang kerabat meyakinkan saya untuk membuka penutup muka dan melihat wajah itu untuk terakhir kalinya. Melihat wajah Mama.

Meski kondisinya tidak pernah membaik sejak terserang stroke 5 bulan lalu, sungguh saya tidak menyangka akan kehilangan Mama secepat ini. Saya terus menangis hingga kemudian, Tante menuntun saya untuk membacakan doa. “Ayo, kita shalatkan, Mama,” ajakan yg membuat saya segera menghapus air mata. Ya, Mama sudah menunggu saya sejak kemarin sore untuk dimakamkan, dan itu sudah cukup lama.

Saya kembali tidak bisa menguasai perasaan saya begitu melihat jenazah dibaringkan di peristirahatan terakhir, persis di sebelah makam Papa yg sudah berusia lebih dari 10 tahun. Konon, beberapa hari sebelum meninggal, Mama yg sudah tidak bisa bicara dengan jelas sejak kena stroke, tiba-tiba berpesan dengan suara cukup jelas pada perawatnya, agar jika kelak dia pergi, dia ingin dimakamkan di samping Papa.

Saat kehilangan Papa, saya sangat terpukul karena bagi saya, hanya Papa yang menyayangi bahkan memanjakan saya. Namun dulu saya tidak pernah benar-benar bisa bercerita pada Papa, entah kenapa. Setelah tinggal jauh dari orang tua karena harus melanjutkan kuliah ke Bandung, saya justru merasa jauh lebih siap untuk bicara dengan Papa, tentang berbagai hal. Menceritakan apa yg saya rasakan selama ini, terutama tentang alasan saya tidak pernah bisa dekat dengan Mama, seperti yg Papa inginkan. Tentang kesedihan dan kekecewaan saya terhadap beberapa sikap dan keputusan yg diambil Mama. Tapi, semua hanya tinggal rencana ketika kepulangan saya pada 14 April 2004 silam adalah untuk menyelenggarakan jenazah Papa. Saya bahkan sempat menyalahkan Mama atas kepergian Papa. Saya bahkan sempat berpikir bahwa saya tidak akan sesedih itu jika suatu hari Mama pergi. Tapi apa?!

Meski Mama baru bisa bicara dengan nada pelan pada saya sejak 6 tahun lalu, meski dulu tiada hari tanpa marah dan bentakan darinya, meski Mama tidak pernah menjadi tempat saya mencurahkan isi hati. Rasa kecewa, marah apapun yg pernah saya rasakan selama ini hilang begitu saya melihat Mama terbaring kaku, sirna saat tubuhnya dibungkus kafan dan dimasukkan ke pembaringan terakhir. Yang saya ingat hanya lah suara kecilnya di seberang telepon yang terdengar semangat menceritakan banyak hal. Ya, dia suka sekali bercerita apapun. Namun tak ada lagi telepon dan cerita darinya setelah stroke menyerang. Berganti dengan bahasa isyarat seadanya yang tak jarang membuat dia tampak kesulitan dalam berkomunikasi. Yang saya ingat ekspresi lesunya saat di kursi roda sejak terserang stroke. Dia seolah tak punya semangat sembuh meski kami, anak-anaknya, meyakinkan bahwa banyak orang yg bisa sembuh dari penyakit ini. Bahwa ini bukan lah akhir. Tapi tak ada yg bisa mengembalikan semangatnya. Dia tidak nafsu makan dan enggan melakukan terapi fisik. Mungkin, Mama sudah begitu sakit dan lelah. Namun lidahnya tak mampu menjelaskan apa yg ia rasakan.

Puncaknya, pada Sabtu, 11 Oktober kemarin. Mama sudah menunjukkan kondisi "serius" menjelang siang. Kakak saya berencana melarikan beliau ke RS. Ambulance sudah terparkir di depan rumah. Namun, Mama tiba-tiba "diam". Semua orang panik. Kerabat dan tetangga mulai berdatangan. Rencana ke RS kemudian urung dilaksanakan. Tante dan para orang tua menyarankan Mama sebaiknya dibaringkan saja di rumah, dan semua orang mulai membaca ayat-ayat suci. Kakak saya sempat bersikeras ke RS, hingga akhirnya secara tersirat ada orang tua yg menjelaskan bahwa yang dibutuhkan Mama saat ini adalah keikhlasan agar bisa lebih tenang. Di tengah kepanikan itu, rasanya keputusan terbaik yang diambil adalah mendengarkan anjuran orang tua yang lebih berpengalaman dalam menghadapi situasi serupa sebelumnya. Kemudian semua orang yg di ada di dekat Mama mulai meminta maaf, bahkan anak-anak Mama yg tidak di rumah saat itu, dihubungi untuk bicara pada Mama. Termasuk saya.

“Maaf ya Ma, aku ga ada di sana saat Mama begini. Ma, aku ikhlas apapun yg terbaik untuk Mama. Kami ikhlas. Sekali lagi maaf ya Ma,” saya tidak bisa menahan tangis saat mengungkapkan ini di jarak ribuan kilometer dari Mama. Tak ada yg bisa saya dengar kecuali suara nafasnya yg terdengar berat. Usai menutup telepon, saya terus menangis dan berkata bahwa saya ikhlas apapun yg terbaik untuk Mama.

Ikhlas. Mungkin itu lah yg membuat Mama akhirnya pergi dengan tenang tak lama setelah adzan maghrib berkumandang. Selamat jalan Ma, semoga bahagia bersama Papa di atas sana dan dapat tempat terbaik di sisi Allah  SWT. Amin.

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.


Sep 10, 2014

sweet revenge

Bagi saya, ketika disakiti seseorang maka sudah seharusnya saya membalas atau minimal beritahu dia, agar tidak mengulanginya lagi. Cara yg paling keren menurut saya untuk membuat seseorang sadar adalah dengan bicara keras padanya sambil menunjuk hidungnya hingga dia terdiam, tertunduk bahkan bila perlu menunjukkan ekspresi penyesalan. Bagi saya itu keren. 

Tapi...itu dulu.

Meski dalam enam tahun terakhir hidup saya cenderung "jalan di tempat", tak ada pencapaian, tak ada kemajuan, tak ada apa-apa, tapi setidaknya ada sedikit pelajaran yg saya bisa petik. Salah satunya ini.

Memberitahu seseorang atau bahkan membalasnya atas perbuatan yg tidak menyenangkan dengan cara yg keras (baik perkataan mau perbuatan) mungkin keren. Tapi kini saya tak peduli dg keren, saya lebih pilih elegan. Sedikit memutar otak, meramu cara untuk "mengerjai"-nya sebagai bentuk teguran/balasan ternyata jauh lebih seru dan tentu saja, elegan! Meski kebanyakan orang akan lebih cepat "merasa" jika dia ditegur secara keras, ketimbang ditegur secara halus (baca: pintar), tak masalah, yg penting saya bisa tersenyum puas :)

Jun 7, 2014

mantan sahabat


awalnya saya tidak familiar dengan istilah ini. karena bagi saya, sekali jadi sahabat ya selamanya akan begitu. tapi waktu dan pengalaman mengajarkan saya sebaliknya. sejak kecil hingga kini ada beberapa sahabat yg saya punya dan beberapa telah jadi mantan. dua sahabat saat saya kecil adalah di antaranya. 

saya lupa kenapa dulu saya dan dua orang ini bisa jadi sahabat. lucunya tidak satu pun di antara kami yg seusia. Ade, setahun lebih tua dari saya dan Ira (kalau tidak salah) 3 atau 4 tahun lebih tua dari saya. kami bertetangga dan posisi rumah saya ada di tengah-tengah. jadi kalau keluar rumah dan ingin main, biasanya saya tengok kiri dan kanan. hehe bukan mau nyeberang, tapi melihat apa di antara sahabat saya ini ada yg keluar rumah, atau kalau tidak mana rumah yg perlu saya hampiri lebih dulu. segala hal kami lakukan bertiga, kegiatan favorit saya bersepeda atau memetik daun dan bunga untuk dibikin jamu "ala-ala" haha.. pernah satu kali kami bermain di depan rumah tetangga yg punya halaman cukup luas. tiba-tiba saja kami berpikir untuk memanfaatkan area itu sebagai "panggung" untuk bermain drama. bintang drama nya hari itu adalah Ade yg berperan sebagai orang gila. aktingnya luar biasa lucu sampai saya dan Ira tak berhenti tertawa.

beranjak saya SMP, kami sudah jarang bertemu. entah lah. rasanya semua berubah begitu cepat. saya lebih suka diam di rumah, tapi sesekali masih bertemu Ira kalau dia datang dan menunggu di depan rumah. tapi Ade, tiba-tiba  jadi asing. bahkan kelihatan canggung dan hanya tersenyum tipis jika dia berpapasan dengan kami berdua. reaksi yg aneh, mengingat kami dulu melakukan segalanya bersama. intinya kami tidak tahu apa yg terjadi. tapi, perubahan Ade kemudian jadi tidak ada apa-apanya jika melihat apa yg terjadi pada Ira kemudian. ya, perubahan mendadak dan drastis berulang kembali. bayangkan saja, kemarin saya dan Ira masih mengobrol, lalu besoknya dia tiba-tiba tak lagi menegur bahkan melirik saya saat lewat di depan rumah. sama halnya dengan Ade, saya tidak tahu apa yg terjadi.

dan awal Mei lalu, di pesta pernikahan adik saya, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun saya bertemu lagi dengan Ade. ahh, saya kaget sekaligus senang. meski sangat ingin mengobrol dan bernostalgia, tapi suasana riuh pesta saat itu, ditambah kami baru bertemu saat Ade justru hendak berpamitan pulang, keharuan dan bahagia sedikit saya pendam. "sampai ketemu lagi," ujar saya saat kami bersalaman. sempat juga saya menyapa dua orang puterinya yang lucu dan mewarisi kecantikan Ade.

sementara dengan Ira, hingga kini masih jadi tanda tanya sejak hari dia tidak lagi menegur dan melirik saya. pun dengan Ade setahu saya mereka tidak berkomunikasi. Ira kebetulan memang bukan tipe yg senang bersosialisasi dengan tetangga. selain rumah saudaranya, satu-satunya rumah tetangga yg ia datangi hanya rumah saya. sikap dia yg 'dingin' dan tidak ramah ini sempat jadi omongan tetangga. bahkan kakaknya (yang juga berteman dengan kakak saya) tidak tahu alasan di balik perilaku adiknya. terakhir saya lihat Ira beberapa tahun lalu, dia tetap sama, lewat begitu saja tanpa melirik apalagi senyum atau menyapa pada orang-orang di sekitarnya, termasuk saya. sejak ibunya meninggal, Ira semakin tak kelihatan. dan kini rumahnya sudah tidak lagi dihuni oleh keluarga itu. saya tidak tahu sekarang Ira, suami dan anaknya tinggal dimana. sementara kakak-kakaknya yang kini tinggal di luar kota, sesekali masih terlihat jika mudik lebaran. 

yah, saya sedang kangen pada dua (mantan) sahabat saya ini. ingin mendengar cerita hidup mereka, terutama tentang perubahan mendadak mereka yg jadi awal bubarnya persahabatan kami. memang sekarang itu tidak lagi penting, tapi yaa namanya juga penasaran kan hehe..

May 27, 2014

"masih pantas kah disebut guru?"

Bicara pendidikan sebenarnya sudah sejak lama saya ingin menulis ini, terlebih ketika mendengar pengalaman buruk dari teman atau mengingat pengalaman sendiri. Dan akhirnya keinginan untuk menulis itu tidak berakhir sebatas niat saja setelah saya membaca tulisan seorang anak yang dicap nakal dan hampir di-DO dari sekolahnya, namun berhasil mendapat nilai sempurna di Ujian Akhir Nasional untuk mata pelajaran yang jadi momok bagi kebanyakan siswa, matematika.

Jika tulisan tersebut mewakili anak yang mendapat predikat negatif dari guru-gurunya, maka bisa dibilang tulisan saya berikut ini berasal dari siswa yang pernah jadi kebanggaan, teladan dll di sekolahnya.

Kelas 1 SMP, sebagai anak baru, saya pernah mengundang perhatian guru dan orang tua murid lainnya saat terima raport dan dinyatakan tidak hanya sebagai juara 1 di kelas tapi juga juara umum di sekolah. Menginjak kelas 2 SMP, prestasi saya tidak segemilang sebelumnya tapi saya tetap menempati 3 besar di kelas.

Satu hari, salah satu guru yg juga Wakil Kepala Sekolah, datang ke kelas saya yang tengah ribut karena guru yg seharusnya mengajar saat itu absen. Kebetulan beliau masuk tepat saat pergantian jam pelajaran. Jadi ketika beliau masuk dan bertanya kelas saya diajar siapa, saat itu saya dan beberapa teman yg duduk paling depan menjawab dengan dua nama yg berbeda. Saya dan seorang teman menjawab Ibu Teti (nama guru berikutnya yg akan mengajar), dan yg lain menjawab Ibu Desna (nama guru yg sebelumnya mengajar namun absen). Karena perbedaan itu Pak Guru ini terlihat kesal lalu menyuruh siapapun yg menjawab "Ibu Teti" untuk datang menemui dia di kantor majelis guru. Perasaan saya tidak enak, tapi ya sudah saya penuhi panggilan itu bersama seorang teman lainnya. Tanpa diduga, di kantor majelis guru kami berdua dipaksa mengakui bahwa kami tidak senang dengan Ibu Desna, karena itu lah di mata pelajaran Ibu Desna kami malah bilang itu pelajarannya Ibu Teti.

Lucu ya? Iya, sekarang mengingatnya saya bisa senyum miris. Tapi tidak begitu saat kami "diadili" dan dihujat oleh Bapak satu ini di depan guru-guru lain yg alih-alih membela atau bersikap bijak, kebanyakan malah ikut menghujat kami. Ingin tahu yg lebih lucu lagi? Sebagai hukuman, kami berdua tidak diperkenankan mengikuti mata pelajaran Bapak ini. Lebih lucu lagi ketika Ibu Desna (yg jadi objek bahasan) mendengar kejadian ini malah heran kenapa hal seperti itu jadi masalah?! Kalau tadi saya bilang sekarang saya miris mengingatnya, itu lebih karena saya ga habis pikir kualifikasi pengajar macam apa yg diterapkan oleh sekolah saya selama ini? Sehingga maaf, guru seperti ini saja bisa mengajar bahkan jadi Wakil Kepala Sekolah?! Dan kesalahpahaman kecil ini tidak berhenti di sana saja, tapi membekas dalam pada kedua siswa yang benar-benar terpukul dan kecewa. Sejak kejadian itu, saya tidak bertegur sapa dengan guru ini meski pada akhirnya dia mencoba bersikap manis saat saya kelas 3, tapi sejak kejadian itu hingga hari ini, saya kehilangan rasa hormat terhadap beliau, dan juga terhadap beberapa guru yg masih saya ingat hingga kini.

Menginjak SMA. Saya masih bisa bertahan dalam posisi 3 besar di kelas. Puncaknya, ketika saya jadi salah satu siswa dengan perolehan nilai tertinggi di sekolah dan juga aktif di luar bidang akademis sebagai Ketua OSIS. Banyak guru (yg konon) menyukai saya.

Lalu di kelas 2 saya mulai pacaran. Oya saya belum bilang ya, kalau pacaran menjadi satu hal yg tidak disukai oleh para guru di sekolah saya. Jangan dulu membahas ini dari segi agama, karena saya yakin, kebanyakan dari guru yg tidak menyukai siswanya pacaran lebih menganggap ini hanya akan membuat nilai akademis siswa merosot. Saya patahkan anggapan itu dengan tetap menjadi tiga besar, meski nilai saya menurun (tapi nilai saya memang fluktuatif dari jaman saya masih jomblo lho hehe).

Singkat cerita prestasi saya di bidang akademik, aktivitas saya selama di OSIS dan perilaku saya yg 'lurus' saja, seolah tidak berarti lagi HANYA karena SAYA PUNYA PACAR. Kebanyakan guru kemudian melihat saya dengan cara yg berbeda, tidak lagi hangat seperti sebelumnya. Saya cukup terpukul. Tapi masih ada guru yg biasa-biasa saja, dan mereka justru guru yang tidak pernah saya dengar memuji atau terlibat obrolan akrab di luar kelas dengan saya. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa guru seperti ini, yg datang ke sekolah dengan tujuan mendidik/mencerahkan siswa dengan materi yg  diajarkan dan tidak 'repot' mengurus hal lain di luar itu, adalah gambaran guru ideal. Dan saya masih bersyukur karena sekolah saya masih memiliki guru-guru seperti itu. Meski tidak sedikit juga guru yg membuat saya (kembali) miris.

Ya miris, perasaan yg sama saat saya lulus SMP juga saya rasakan begitu lulus SMA. Salah satu hal yg paling saya ingat di detik terakhir saya berada di sekolah adalah ketika saya memberitakan kabar bahagia tentang kelulusan saya di SPMB. Kebanyakan guru memberikan ucapan selamat. Ada yg terlihat benar-benar tulus mengucapkannya dan ikut bahagia, ada pula yg sekedar basa basi. Bahkan salah satunya mengiringi ucapan selamat dengan pesan yg sangat mengetuk hati saya, "selamat ya, ingat kuliah di Bandung jangan pacaran mulu kerjaannya", perlu dicatat bahwa itu bukan candaan, karena disampaikan dengan nada dan ekspresi SINIS. Ya, pesan ini mengetuk hati dan pikiran saya bahwa banyak guru yg ternyata tak pantas mendapatkan rasa hormat yg tulus, setidaknya dari saya.

Lucunya setelah saya ingat-ingat lagi, guru yg bukannya membimbing, mengayomi, mencerahkan, menjadi teladan, tapi malah sibuk mengurus hal lain sampai lupa dengan tugas utama, sibuk mencari kesalahan dan hal negatif dari siswa, ternyata punya kesamaan saat berada di kelas. Cara mengajar dan penyampaian materinya susah dimengerti (setidaknya ini yang saya alami). Pertanyaan ekstrimnya kemudian adalah, "masih pantas kah disebut guru?"

May 14, 2014

Kini Saya Mengerti...

Dulu saya berpikir menangis itu hanya lah ungkapan untuk kesedihan, jadi saya tak mengerti jika ada yg menangis karena bahagia.

Tapi entah bermula kapan, kini saya malah begitu. Menangis karena bahagia. Salah satunya adalah beberapa hari lalu. Saya menangis ketika bersalaman dan berpelukan dengan adik saya, sesaat setelah dia menjalani prosesi Ijab Kabul. Melihatnya dari jarak beberapa meter saja, saya sudah merasa ada sesuatu di tenggorokan yg mendesak untuk keluar. Dan begitu dia berada persis di hadapan saya, sesuatu itu melompat keluar begitu saja tanpa bisa saya tahan. Berdua kami berpelukan dan menangis. "Terima kasih ya, Kak," bisiknya yang makin membuat saya terharu. Sampai kini pun, saat menulis ini, saya masih berkaca-kaca (hehe).

Sejak awal rencana pernikahan adik saya muncul, tak ada yang saya rasakan kecuali senang dan antusias. Sebisa mungkin saya bantu persiapan pernikahan sejak beberapa bulan sebelumnya. Mengurus undangan, souvenir, dan membeli pakaian seragam untuk keluarga. Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, sampai juga saatnya saya pulang ke rumah. Dalam tradisi Minang yang menganut sistim matrilineal, pernikahan anak perempuan adalah momen yang memiliki arti tersendiri, dan biasanya berujung pada perayaan yang meriah. Apalagi di keluarga saya, pernikahan adik saya ini adalah pernikahan anak perempuan pertama.

Karena pesta pernikahan dilangsungkan di rumah dan segalanya dikerjakan oleh keluarga yang juga dibantu para tetangga, jadi wajar saja jika selama seminggu menjelang hari H kondisi rumah sangat lah riuh. Waktu istirahat pun berkurang karena banyak pekerjaan yang mesti dikerjakan. Terlepas dari rasa cape dan segalanya, saya merasakan betul betapa sistim kerja seperti ini membuat kami dekat satu sama lain, dan saling memberi semangat demi lancar dan suksesnya acara. Yaa, meski setelah itu ada saja anggota keluarga yang bertitip pesan pada saya agar nanti melangsungkan pernikahan di Bandung saja, sehingga keriuhan dan kerepotan yg sama tak berulang (haha). 

Banyak sekali kejadian menarik yg terjadi selama persiapan hingga saat acara berlangsung; dari yang membuat kesal dan marah, hingga senyum bahkan tawa. Komplit! Tapi tentu momen paling berkesan adalah ketika adik saya dinyatakan sah menjadi seorang istri dan ketika melihat dia bersanding di pelaminan bersama sang suami. Dan oh ya, mereka berdua juga sempat menyanyikan lagu di hadapan para tamu.  Aww, that was sweet!

Dan ya, kini saya mengerti kenapa ada tangis bahagia :)

Jarak usia 2 tahun membuat saya dan adik menjadi teman sepermainan. Bahkan kami selalu dibelikan pakaian yang sama, punya model rambut yang sama, sehingga seringkali dianggap kembar. Keluarga dan kerabat yang mengenal kami sejak kecil, sudah melihat kami seperti satu paket. Padahal, sekalipun terlihat kompak, seingat saya kami lebih sering berantem dan ga teguran haha.. Hingga kemudian, saya pindah ke Bandung dan kami tinggal terpisah. Sejak itu, kami mulai menghargai setiap momen pertemuan dan lebih jarang cekcok tentu :D

Ketika adik saya mulai bekerja menjadi karyawan di salah satu Bank, saya mulai melihat perubahan darinya, yang terlihat jauh lebih dewasa, terutama dari segi penampilan dan gesture. Posturnya yang juga jauh lebih tinggi ketimbang saya, membuat banyak orang berpendapat saya justru lebih cocok jadi adiknya. Ah, tentu saja saya tidak keberatan :)) 

Dan pada kakak.. eh adik saya di sana (hehe), harapan terbaik saya untuk kamu dan suami. Selalu belajar menjadi sosok yg lebih baik untuk satu sama lain, ya! Saling sayang, menghargai, menjaga dan terbuka. Selamat menjalani kehidupan baru sebagai suami istri, semoga bahagia selalu.

Cheers :)



Apr 25, 2014

...and we’ll see each other sometime soon :)

KMF (Komunitas Musik Fikom). Ini adalah sebuah unit kegiatan mahasiswa di kampus saya dulu, Fikom Unpad. Setiap tahunnya komunitas ini merekrut anggota baru dan menyediakan wadah bagi mereka untuk berkegiatan dengan benang merah, musik. Kegiatannya bisa berupa manajemen band, diskusi/seminar dan yang paling populer -bahkan karenanya tak jarang KMF dicap sebagai EO- adalah penyelenggaraan event musik.

Biasanya dari sekian ratus calon anggota yang mendaftar hanya sedikit dari mereka yang bertahan sebagai anggota tetap, mungkin di kisaran 10%-30% (setidaknya saat saya masih aktif dulu). Well, yg ingin saya ceritakan sebenarnya bukan KMF. Tapi semua berawal dari sana.

Tahun 2004, tepatnya saya lupa project apa yg sedang kami kerjakan saat itu. Seperti biasa, kalau sudah ada kegiatan kami bisa sampai malam berada di kampus. Sore itu, saat semua urusan di kampus beres, saya pulang ke kosan. Saya dan Fika satu kosan dan karena kosan kami paling dekat dengan kampus, teman-teman yang lain ingin ikut ke kosan sekedar istirahat sejenak atau shalat maghrib. Dari obrolan 'ngalor ngidul' dan joke 'ntahapa' di kosan, tiba-tiba terbentuklah Keluarga Bawang (Onion Family):

Saya sbg mami
Ena sbg Bawang Merah
Yuli sbg Bawang Putih
Amy sbg Bawang Bombay
Fika sbg Daun Bawang (lho)

Haha yah begitu lah, keisengan yg hingga kini ternyata langgeng J

Satu dekade berlalu, tiba-tiba saja saya merasa melankolis sekali begitu flash back kenangan kami berlima, mulai dari masih jadi mahasiswa hingga kemudian jadi pekerja. Melankolisnya saya dipicu saat jelang pernikahan Yuli (18 April lalu).Selalu ada kado ‘wajib’ ketika di antara kami ada yg menikah. Dan saya menyiapkan kado itu. Kado ala scrapbook, tapi berupa frame yang membingkai foto-foto kenangan kami. Tiba-tiba saja saya jadi terharu. Sepuluh tahun sudah kami jalani sebagai teman, sahabat bahkan keluarga (bawang) hehe.. Ahh, how time flies.

Saya ingat betapa sering dan senangnya kami dulu menghabiskan malam di balkon kosan Ena, bahkan sampai subuh! Ditemani kopi, kuaci, kue bolu kemasan, yg selalu ada di kosan Ena karena biasanya dia dikirimi berdus-dus oleh keluarganya. Saya ingat betapa ‘sarap’ nya kami dulu jika sudah berkumpul dengan teman-teman lain di base camp KMF. Padahal dalam kondisi cape, belum tidur, harus kuliah, project belum tuntas, tapi entah kenapa itu jadi salah satu momen dalam hidup saya dimana saya bisa tak memikirkan apapun dan tertawa tanpa henti hingga keram pipi juga perut! Yaa ini jg karena biasanya ada partisipasi dari anggota KMF lain macam Arya, Alfi, Egus dan Devi serta teman-teman lain. Saya ingat betapa kami dulu senang ketika tahu Maliq n D’Essentials akan manggung di Bandung. Awalnya Yuli yg suka, hingga kami berempat akhirnya ketularan hehe..

Kini, semua tak lagi sama. Untuk bertemu saja susah, apalagi berkumpul dengan formasi lengkap. Well, sebenarnya kesulitan berkumpul berlima ini tidak saja pas kami masing-masing sudah bekerja, tapi sudah sejak Fika pindah kuliah dari Jatinangor ke Bandung, kemudian dia lulus dan langsung pindah ke Jakarta. Sementara kami berempat masih di Bandung. Alhasil, banyak sekali momen yg dijalani oleh hanya kami berempat, tanpa Fika.

Hingga kemudian mereka menikah. Saya senang dan beruntung berkesempatan menghadiri hari bahagia keempat sahabat saya ini. Sayangnya hanya di pernikahan Fika kami hadir dengan lengkap. Sedangkan di pernikahan-pernikahan berikutnya (Amy, Ena, Yuli), selalu ada saja yang berhalangan *sigh.

Jadi sejak 18 April lalu, resmi sudah semua teman saya menjadi istri. Fika dan Amy bahkan sudah jadi ibu. Saya bahagia tentu, dan sedih mengingat kesempatan bertemu akan semakin menipis dengan segala rencana dan kesibukan masing-masing. Tahun ini, Yuli akan terbang ke London untuk menemani sang suami menempuh jenjang S2 di sana selama satu tahun. Dan kabarnya, kembali dari London mereka akan menetap di Jakarta. Sementara Ena, pertengahan tahun ini tidak akan meneruskan profesinya sebagai guru di Bandung karena akan ikut suami tinggal di Jakarta juga, sambil sesekali ke Bandung untuk menuntaskan S2-nya. Dan Amy, sejauh ini saya kira dia masih akan menetap di Bandung karena memang keluarganya di sini, dan suaminya pun bekerja di sini. Saya sendiri, masih belum punya rencana apa-apa. Yg jelas saya masih suka dan betah di Kota Bandung ini. Berhubung saya masih lajang, jadi ya rasanya rencana untuk berdomisili dimana dan bekerja apa setelah menikah, masih di awang-awang :D Kalau rencana dan harapan sekarang sih tentu ada. Saya sedang mencoba menyemangati lagi diri sendiri untuk mengupayakan beasiswa S2 ke Belanda, ingin traveling ke tempat-tempat yg belum pernah saya datangi, ingin memulai bisnis sendiri, dan ya tentu saja ingin menikah :D (Amin), dan Amin juga untuk semua rencana para sahabat saya di sana :)

After all, selagi jaraknya masih Jakarta – Bandung mestinya kita masih bisa bertemu lah ya beberapa kali dalam setahun hehe.. Best wishes for all of us, my Onions.. Keep in touch and we’ll see each other sometime soon, right?!















xoxo

Mar 22, 2014

Green Canyon & Pangandaran di Suatu Selasa

Entah kenapa, Selasa selalu menjadi pilihan untuk saya dan teman-teman kantor ‘kabur’ dari rutinitas kerja. Jika sebelumnya kami pilih piknik ke kawasan air terjun di Sukabumi, kali ini pilihan jatuh ke Green Canyon dan Pangandaran. Cuaca tak bersahabat belakangan di Bandung membuat kami sempat deg-degan juga. Hujan bisa saja membuat perjalanan hampir 8 jam dari Bandung ke Green Canyon sia-sia. Tapi ya apa yg bisa dilakukan selain berdoa dan pasrah untuk urusan satu ini? :D

Kami memulai perjalanan sekitar pukul 7.30. Sempat berhenti sejenak di Banjar untuk membeli buah-buahan, kebetulan sedang musim rambutan. Pukul 12.30 kami mampir sejenak untuk makan siang di RM. Beti. Rumah makan berkonsep family resto ini memiliki cukup banyak cabang di sepanjang jalan Ciamis - Banjar. Ikan bakar cobek jadi pilihan saya dan langsung jadi rekomendasi :D

Kenyang, kami lanjutkan perjalanan ke Green Canyon, kurang lebih dua jam perjalanan. Kami sampai 15 menit sebelum tempat wisata itu tutup. Untungnya masih ‘diterima’ dan diberi kesempatan untuk berkeliling selama 45 menit dengan perahu, setelah membayar 150.000 (utk 5 orang). Menurut guide-nya, sudah 4 hari ini cuaca di sana cerah sehingga airnya pun berwarna hijau (sesuai namanya), sayang terlihat masih banyak sampah yg mengapung sepanjang perjalanan dengan perahu. "Kalau dulu saya ke sini sepanjang rute ini airnya jernih banget," cerita teman yang membuat saya langsung menatap sebal sampah-sampah yang merusak keindahan warna hijau air di sini. Tapi yaa setidaknya airnya masih terlihat hijau, masih bagus. Ga kebayang kalau hujan, air  di sini pasti berwarna keruh. Makin ke ujung, sudah tidak ada sampah. Air semakin terlihat jernih. Perahu kemudian berhenti sejenak, memberi waktu pada kami untuk menikmati pemandangan sekeliling. Suara derasnya aliran air di antara bebatuan, tebing dan pohon yang mengepung air hijau nan jernih, juga suhu yang sejuk. Eksotis!

Sayangnya, sudah terlalu sore untuk berenang. Lagipula tak ada satu pun di antara kami yg prepared untuk berenang. Kalau saya sih bukannya ga prepared,  tapi emang ga bisa :p

Usai berkeliling di Green Canyon, kami bergegas menuju Pantai Pangandaran, demi sunset. Sayang, dalam perjalanan hujan rintik mulai terlihat membasahi kaca mobil. “Tapi sensasinya beda lho, hujan-hujan trus duduk di pantai,” celetuk teman. Jadi lah kami pacu kendaraan ke salah satu obyek wisata kebanggaan Jawa Barat itu. Selang satu jam, kami sampai. Sama dengan Green Canyon, tempat wisata ini sepi (yah, ini lah kenapa kami pilih weekday hehe). Meski gerimis, tapi kegiatan minum-minum di pantai tetap nikmat karena masih ada lembayung indah menghiasi langit Pangandaran.

Saat gelap, lampu mercusuar menyala dan laut hanya menyisakan suara ombak, kami pun beranjak. Saya sendiri, pikirannya sudah melayang ke semangkok baso H.Oding yg terkenal dengan Mie Golosor nya di daerah Ciamis. Khawatir kami tidak sempat makan di sana. Jadi, rencana untuk ngopi sejenak di rumah seorang teman di Banjar pun terpaksa dibatalkan mengingat waktu.  Bahkan rasa lapar yg mulai menghantui setiap perut kami abaikan demi mengejar Mie Golosor. Pukul 22.00 kami sampai di depan warung yg dimaksud dan ternyata…sudah tutup! (belakangan saya baru tahu dari teman kalau warung ini tutup pkl 20.00 karena daerah sana sudah sepi jam segitu).

Alhasil kami hanya bisa mengelus-elus perut yg berontak sambil membujuknya dengan cemilan seadanya. Teman yg di belakang setir kemudian memutuskan untuk memacu kendaraan pulang menuju Bandung. Dengan kondisi jalanan Banjar-Bandung yg tetap saja macet meski malam hari, serta kondisi fisik yg sudah lelah, akhirnya kami sampai pukul setengah 2 dini hari. Cape, lapar tapi SENANG tentu saja. Cuaca yg bersahabat benar-benar jadi penyelamat. Tak sabar untuk ‘kabur’ lagi di hari yg cerah berikutnya J



Jan 6, 2014

Ketika Sederhana Lalu Bahagia

Sebenarnya banyak hal sederhana yang akan membuat kita bahagia. Tapi...

Semuanya tak akan terlihat jika kita terlalu sibuk melihat hidup orang lain, kesuksesan dan kebahagiaan orang lain. Karena ini akan membuat kita berpikir "kenapa hidupnya bisa sebahagia itu, sesukses itu, sementara saya HANYA seperti ini?" Bisa ditebak kan selanjutnya? Kita akan mengeluh tentang hidup sendiri. Tentang apapun yg kita lalui, yg kita punya saat ini dan yg ada di sekitar kita. Padahal..

Tak ada yg sempurna. Jika kita iri pada orang maka ketahui lah bahwa hidup nya pun tidak sesempurna itu. Ketahui lah bahwa dia pun punya masalah, keluhan dan sebagainya yang membuat dia sama saja dengan kita. Dan...

Kita juga tak akan bahagia jika terlalu risau dengan penilaian orang lain terhadap kita. Terlalu berusaha membuat orang lain terkesan hingga kita tak lagi jadi diri sendiri. Di titik ini, hidup akan terasa semakin kompleks. Jadi..

Tak perlu risau orang lain menilai kita buruk selama kita tidak menyakiti siapa pun. Tak perlu risau melihat orang lain mendapat ini dan itu, jika kita sebenarnya sudah bahagia dengan secangkir kopi di sebelah kita, buku yg sedang kita baca, makanan yg sedang kita makan, musik yg sedang didengarkan atau orang-orang terdekat untuk berbincang. Nikmati lah, tersenyum lah dan bersyukur lah! Sederhana ya? :)

Oh, ini adalah catatan untuk diri sendiri. Atau bisa juga untuk kamu dan siapapun..