Minggu, 12 Oktober, pukul setengah lima pagi, saya
sudah duduk di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta. Pesawat saya masih 3 jam lagi. Dari awal saya berusaha menyibukkan diri serta mengalihkan
perhatian agar tidak memikirkan satu hal. Ngobrol dengan
teman di WhatsApp dan melihat orang yg lalu lalang sambil mendengarkan musik. Ah, untung lah jadwal terbangnya tidak delayed.
Pukul 9.30 saya mendarat di
Bandara Internasional Minangkabau. Masih 90 km lagi perjalanan darat yg harus
saya tempuh untuk sampai di rumah. Saudara memilih menjemput saya dengan motor
dengan alasan macet. Bagi saya, apapun itu yg penting saya harus segera sampai
rumah. Saya tidak mau ditunggu terlalu lama.
Dua jam perjalanan dengan motor akhirnya
saya sampai di depan rumah. Hal yg
berusaha tidak saya pikirkan sejak dari Bandung, kali ini langsung menyerbu
pikiran dan perasaan saya. Sungguh saya tak pernah bisa menerima pemandangan
seperti ini. Pemandangan yg kurang lebih sama dengan 10 tahun lalu. Kerumunan
orang di halaman rumah, tatapan sedih, bendera putih, karangan bunga. Saya
rasanya sudah tidak merasakan kaki ini menapaki tanah. Begitu sampai di pintu
depan dan melihat sekilas ke dalam rumah, saya terhenti. Ada yg sesak di
tenggorokan.
“Aku ga bisa,” ujar saya pada
Uda, saudara laki-laki tertua yg berusaha meyakinkan dan menguatkan.
Kemudian salah seorang Tante
menyambut dan menuntun saya untuk masuk. Kini saya sudah tidak bisa menahan air
mata yg langsung keluar ketika melihat sosok yg terbaring di tengah rumah,
tertutup kain dari kepala hingga kaki. Banyak hal yg berputar di kepala saya.
Banyak perasaan yg berkecamuk di hati. Hingga salah seorang kerabat meyakinkan
saya untuk membuka penutup muka dan melihat wajah itu untuk terakhir kalinya. Melihat
wajah Mama.
Meski kondisinya tidak pernah membaik sejak terserang stroke 5 bulan lalu, sungguh saya tidak
menyangka akan kehilangan Mama secepat ini. Saya terus menangis hingga
kemudian, Tante menuntun saya untuk membacakan doa. “Ayo, kita shalatkan,
Mama,” ajakan yg membuat saya segera menghapus air mata. Ya, Mama sudah
menunggu saya sejak kemarin sore untuk dimakamkan, dan itu sudah cukup lama.
Saya kembali tidak bisa menguasai
perasaan saya begitu melihat jenazah dibaringkan di peristirahatan terakhir, persis di sebelah makam Papa yg sudah berusia lebih dari 10 tahun. Konon,
beberapa hari sebelum meninggal, Mama yg sudah tidak bisa bicara dengan jelas
sejak kena stroke, tiba-tiba berpesan dengan suara cukup jelas pada perawatnya,
agar jika kelak dia pergi, dia ingin dimakamkan di samping Papa.
Saat kehilangan Papa, saya sangat terpukul karena bagi saya, hanya Papa yang menyayangi bahkan memanjakan saya. Namun dulu saya tidak pernah benar-benar bisa bercerita pada Papa, entah kenapa. Setelah tinggal jauh dari orang tua karena harus melanjutkan kuliah ke Bandung, saya justru merasa jauh lebih siap untuk bicara dengan Papa, tentang berbagai hal. Menceritakan apa yg saya rasakan selama ini, terutama tentang
alasan saya tidak pernah bisa dekat dengan Mama, seperti yg Papa inginkan.
Tentang kesedihan dan kekecewaan saya terhadap beberapa sikap dan
keputusan yg diambil Mama. Tapi, semua hanya tinggal rencana ketika kepulangan saya pada 14 April 2004 silam adalah untuk menyelenggarakan jenazah Papa. Saya bahkan sempat menyalahkan Mama atas kepergian Papa. Saya
bahkan sempat berpikir bahwa saya tidak akan sesedih itu jika suatu hari Mama
pergi. Tapi apa?!
Meski Mama baru bisa
bicara dengan nada pelan pada saya sejak 6 tahun lalu, meski dulu tiada hari tanpa marah dan bentakan
darinya, meski Mama tidak pernah menjadi tempat saya mencurahkan isi hati. Rasa kecewa, marah apapun yg pernah saya rasakan selama ini hilang begitu saya melihat Mama terbaring
kaku, sirna saat tubuhnya dibungkus kafan dan dimasukkan ke pembaringan terakhir. Yang saya ingat hanya lah suara kecilnya di seberang telepon yang terdengar semangat menceritakan banyak hal. Ya, dia suka sekali bercerita apapun. Namun tak ada lagi telepon dan cerita darinya setelah stroke menyerang. Berganti dengan bahasa isyarat seadanya yang tak jarang membuat dia tampak kesulitan dalam berkomunikasi. Yang saya ingat ekspresi
lesunya saat di kursi roda sejak terserang stroke. Dia seolah tak punya
semangat sembuh meski kami, anak-anaknya, meyakinkan bahwa banyak orang yg bisa
sembuh dari penyakit ini. Bahwa ini bukan lah akhir. Tapi tak ada yg bisa
mengembalikan semangatnya. Dia tidak nafsu makan dan enggan melakukan terapi
fisik. Mungkin, Mama sudah begitu sakit dan lelah. Namun lidahnya tak mampu menjelaskan apa yg ia rasakan.
Puncaknya, pada Sabtu, 11 Oktober kemarin. Mama sudah menunjukkan kondisi "serius" menjelang siang. Kakak saya berencana melarikan beliau ke
RS. Ambulance sudah terparkir di depan rumah. Namun, Mama tiba-tiba "diam". Semua orang panik. Kerabat dan tetangga mulai berdatangan. Rencana ke RS kemudian urung dilaksanakan. Tante dan para orang tua menyarankan Mama sebaiknya dibaringkan saja di rumah,
dan semua orang mulai membaca ayat-ayat suci. Kakak saya sempat bersikeras ke
RS, hingga akhirnya secara tersirat ada orang tua yg menjelaskan bahwa yang dibutuhkan Mama saat ini adalah keikhlasan agar bisa lebih
tenang. Di tengah kepanikan itu, rasanya keputusan terbaik yang diambil adalah mendengarkan anjuran orang tua yang lebih berpengalaman dalam menghadapi situasi serupa sebelumnya. Kemudian semua orang yg di ada di dekat Mama mulai meminta maaf, bahkan anak-anak Mama yg tidak di rumah saat
itu, dihubungi untuk bicara pada Mama. Termasuk saya.
“Maaf ya Ma, aku ga ada di sana
saat Mama begini. Ma, aku ikhlas apapun yg terbaik untuk Mama. Kami
ikhlas. Sekali lagi maaf ya Ma,” saya tidak bisa menahan tangis saat mengungkapkan
ini di jarak ribuan kilometer dari Mama. Tak ada yg bisa saya dengar kecuali
suara nafasnya yg terdengar berat. Usai menutup telepon, saya terus menangis dan
berkata bahwa saya ikhlas apapun yg terbaik untuk Mama.
Ikhlas. Mungkin itu lah yg membuat Mama akhirnya pergi dengan tenang tak lama setelah adzan maghrib berkumandang. Selamat jalan Ma, semoga bahagia
bersama Papa di atas sana dan dapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Amin.
Inna lillahi wa inna ilaihi
raaji’un.

No comments:
Post a Comment