dulu, saya sering sekali dibuat kesal oleh ulah bocah laki-laki di tengah itu. dia bandel, jahil dan kadang keterlaluan. saya selalu jadi korbannya. bahkan, menginjak remaja pun saya masih suka kesal atas kelakuannya.
setelah kami sama-sama sudah dewasa, 'hobi' dia menjahili saya sudah berhenti. tapi ulahnya yang bikin repot banyak orang tidak berhenti. mulai dari bawa motor lalu tabrakan, atau kena tilang atau apa lah. itu baru yang saya ketahui karena konon saat dia sudah mulai kuliah dan tinggal jauh dari rumah dia juga melakukan banyak ulah yang tak jarang merepotkan abang saya yang lain.
lucunya, kami cenderung dekat dan banyak berbagi. sementara keluarga yang lain kadang sering menganggap dia biang masalah. saya, baru sadar bahwa tak peduli sesering apapun saya dan dia bertengkar sejak kecil, nyatanya saya tidak bisa pungkiri bahwa masa kecil yang kami lalui bersama hingga kami tumbuh besar membuat kami sangat dekat.
saat semua orang menumpahkan kekesalan padanya, saya selalu melihat sisi positifnya. dia tidak pernah bermaksud merepotkan banyak orang. beberapa tahun lalu dia pernah stuck, bingung dan tidak tahu harus apa di usia menjelang 30 tahun. sebagai adik, saya semangati dia, saya yakinkan bahwa dia pasti bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. 'do something', saya bilang kala itu.
dan tahun lalu, akhirnya dia diterima kerja di sebuah bank, namun di saat yang bersamaan Mama jatuh sakit. ini membuat dia harus bisa membagi waktu untuk mengurus Mama dan bekerja. maklum, dari kami 7 bersaudara, hanya dia yang tinggal di rumah dengan Mama. kondisi ini membuat keluarga yang lain mulai melihat dia dengan cara berbeda. in a good way, of course.
saat Mama akhirnya pergi, dia terlihat tegar, tidak seperti saat Papa pergi. Mungkin karena sebelum Mama pergi, dia telah berbakti penuh dengan cara merawat Mama yang tidak bisa apa-apa karena serangan stroke.
saya senang, akhirnya dia bisa bekerja dan hidup mandiri. dan saya terharu saat tahu motivasi dia mencari penghasilan adalah untuk membayar kewajiban yang dia timbulkan atas ulahnya sendiri. saya tahu dia orang yang bertanggung jawab. tapi saya tidak tahu persis bahwa ternyata setiap langkah yang dia ambil untuk menyelesaikan masalah, malah menimbulkan masalah baru.
dan kali ini sangat serius.
karena kini dia tertimpa kasus hukum. dia bilang siap bertanggung jawab dan akan menjalani apapun hukumannya. saya dukung dia menjalani proses hukum, atas pertimbangan bahwa ini bisa jadi pelajaran baginya, sekaligus dia bisa menjalani hukuman yang adil tanpa harus mendapat 'getah' dari perbuatan 'rekannya' yang memiliki kasus hukum yang sama namun dengan bobot lebih berat.
ya, kasus ini telah menyinggung nama baik keluarga. sesuatu yang dulu sangat diperjuangkan oleh Papa. kini, atas ulah bocah laki-laki yang telah jadi sahabat saya sejak kecil itu, semuanya rusak. Papa mungkin sedih di atas sana. saya pun sedih, bukan karena memikirkan omongan orang dan lain sebagainya, tapi karena saya memikirkan kesedihan Papa.
beberapa hari lalu, saya mimpi dia menelpon saya sambil menangis, terdengar menyesal. dan selang 1-2 hari setelahnya dia benar-benar menelpon saya. bedanya, dia tidak menangis. tapi saya bisa dengar nada suaranya lesu dan sedih.
'jaga kesehatan, dan jangan tinggalkan shalat. semoga setelah ini kamu bisa jadi sosok yang baru dan lebih baik,' pungkas saya dalam obrolan malam itu.
ya, ini akan jadi lebaran pertama kami tanpa Mama dan abang saya satu ini. karena itu, saya tidak lah terlalu bersemangat. rencana kami berdua untuk piknik keluarga di libur lebaran kali ini juga harus tertunda.
ah, setidaknya libur lebaran kali ini akan berbeda, karena saya akan lebih sibuk mengunjungi dan mengantarkan makanan untuknya (hehe). anyway, saya juga ingin membelikan dia baju baru nih, kalau nanti ada rezeki :)


