*judulnya ada untuk diabaikan
Sebenarnya, saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat tulisan tentang ini. Tapi ya jadi terpancing juga akhirnya, setelah membaca sebuah blog berisi hasil riset kecil-kecilan seseorang pada sebuah minimarket, karena sering kali mengalami kejadian ‘aneh’.
Sebenarnya, saya berusaha menahan diri untuk tidak membuat tulisan tentang ini. Tapi ya jadi terpancing juga akhirnya, setelah membaca sebuah blog berisi hasil riset kecil-kecilan seseorang pada sebuah minimarket, karena sering kali mengalami kejadian ‘aneh’.
Bukan, bukan aneh yg berbau
mistis dan tidak bisa dijelaskan, ini justru sebaliknya, sangat bisa dijelaskan
dan bisa dibuktikan.
Hampir semua orang di perkotaan
pasti pernah belanja di minimarket. Saya sendiri terbilang sering, karena agak
malas ke supermarket yg letaknya lebih jauh, padahal harga supermarket lebih
murah dan hitung-hitungan harganya lebih jelas. Ya, jauh lebih jelas ketimbang
minimarket. Ini lah awal kekesalan saya yg rupanya dialami banyak orang.
Ada dua nama minimarket terkenal
berdiri di tempat saya tinggal sekarang, berinisial AM dan IM (haha siapa saja
bisa nebak lah yaa). Saya pakai inisial karena dalam tulisan ini saya hanya
menceritakan dan membagi apa yg saya alami, sementara buktinya sendiri sudah
tidak saya simpan. Kalau saja buktinya saya simpan, saya akan dengan senang
hati mengetik nama minimarket ini dengan huruf kapital semua.
Awalnya cuma ada AM di dekat
tempat tinggal saya, jadi tidak punya pilihan lain untuk belanja. Namun sejak
IM didirikan tidak jauh dari AM, saya jadi lebih sering ke IM karena pilihan
barang lebih banyak dan harga relatif lebih murah. Awalnya tak ada komplain,
sampai akhirnya beberapa bulan belakangan saya jadi sering merasakan hal ‘aneh’
seperti yg di awal saya sebutkan.
Pertama, seringkali menanyakan
apakah uang receh kembalian mau disumbangkan. Ini berlaku untuk kedua
minimarket. Biasanya, saya tanya ‘mau disumbangkan kemana’/ ‘buat apa’/’memangnya
ada kerjasama dg pihak atau event tertentu?‘ Pertanyaan ini ada yg dijawab
cukup meyakinkan oleh pegawai di meja kasir, ada juga yg menjawab dengan
gelagapan. Tapi pada akhirnya saya ‘ikhlaskan’ saja uangnya dengan anggapan
bahwa itu memang benar-benar untuk amal. Kalaupun oknum ini nipu, ya anggap aja
amal ke dia lah…
Saya jadi ingat zaman kuliah beberapa
tahun lalu, banyak yg komplain karena kembalian uang receh diganti dengan
permen. Sampai akhirnya ada larangan resmi dari pemerintah kepada seluruh
minimarket dan supermarket di Indonesia untuk memberikan kembalian dalam bentuk
permen. Saya juga pernah membaca blog seseorang yang dengan niatnya menghitung
matematis keuntungan ‘siluman’ yg diperoleh dalam sehari jika kembalian receh
diganti dg permen. Dan ternyata jumlahnya fantastis.
Kembali ke cerita sekarang, jujur saja saya berburuk sangka bahwa ‘sumbangan’ ini adalah ‘kreasi’ lain dari minimarket untuk mendapatkan keuntungan ‘siluman’ setelah adanya larangan pemerintah tsb. Karena jika memang sumbangan ini benar adanya, seharusnya tertera di struk pembelian, alias tercatat. Oya, saya pernah sih mendapati struk pembelian dari IM yang di dalamnya tertera sumbangan sebesar 300 rupiah. Tapiii itu TANPA SEIZIN saya. Ya, tiba-tiba uang kembalian saya dipotong untuk sumbangan. Ok, itu benar-benar sumbangan, tapi kok ya ga izin dulu? Sialnya, saya baru cek struk dan sadar setelah berjalan lumayan jauh dari minimarket itu dan malas untuk kembali. Pelajarannya, ya cek lah dengan teliti struk belanja sebelum angkat kaki dari minimarket / supermarket. Ya sih kadang malas ya, cek satu per satu apalagi kalau belanjaannya lumayan banyak.
Well, kemalasan seperti ini lah
yg mungkin dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. Malas mengecek
struk dan belakangan (baca : telat) menyadari ada keganjilan. Malas memperdebatkan
uang ratusan perak yang katanya mau disumbangkan. Dan oh, sekarang mereka
bahkan dengan terang-terangan bisa bilang “uang 100 rupiahnya tidak ada, gapapa
kalau kembaliannya kurang?”. Biasanya
saya iyakan meski sedikit merengut menerima kembalian sisanya. Bukan apa-apa,
kalau mereka mengatakan itu pada ratusan pembeli dalam sehari, sudah puluhan
atau bahkan ratusan ribu yg mereka terima
dari alasan ketiadaan uang 100 perak itu. Saya mengalami itu baru dua
atau tiga kali sih. Biasanya saya pakai kartu debit supaya saya tidak perlu
repot-repot menerima kembalian dan mereka ga ada celah untuk memotong uang 100
perak dari saya. Kalau engga seperti itu, saya sedang pertimbangkan cara iseng.
Nanti setiap kali kembaliannya kurang 100 perak suruh si kasir tandatangan di
struk lalu kita kumpulkan struk itu minimal sampai 20 lembar, biar nanti bisa
ditukar sama sebungkus mie instan haha..
Kedua, ketidaksamaa harga di label rak pajangan dengan mesin hitung kasir. Bedanya
juga kadang tipis ratusan perak bahkan bisa ribuan. Tapi, lagi-lagi ya lumayan
kan? Dan itu bukan alasan uangnya saja, lebih kepada perasaan tertipu. Ternyata
ada juga yg komplain dan merasakan hal sama. Jadi misalnya, kita lihat label
harga yg ditempel di rak barang ini 4000, nanti pas ke kasir ternyata harganya
lebih mahal, alasannya salah taruh (label harga tsb bukan untuk barang yg kita
beli). Harusnya kan ditempatkan sesuai ya, antara jenis barang dan label
harganya. Bukan kah itu salah satu pekerjaan para karyawannya? Mungkin modus
ini menyasar ke orang-orang yg tidak teliti ya.. Ah tapi saya pernah mengalami label
harga dan barang sudah sesuai, tetap saja di kasir harganya berbeda. Ternyata
memang belum di-update harganya (helloo…). Ada juga barang yg tidak memiliki
label harga. Awalnya saya pikir sedang dalam proses, tapi beberapa hari
kemudian ke sana, item tsb masih belum memiliki label harga. Kalau ini saya kurang paham tujuanya. Yang
pasti mencurigakan sih..
Ketiga adalah kejadian terbaru yg saya alami. Item-item tertentu tidak mereka masukkan ke struk. “Mba, kalau ini tidak
masuk struk gapapa?” Lalu saya tanya balik, “kenapa?” Awalnya dia tidak
menjawab jelas sampai saya kembali tekankan pertanyaan ‘kenapa?’ dan mereka
memberikan alasan teknis dst yang membuat saya hampir mengiyakan saja. Tapi
tiba-tiba karyawan satu lagi mengatakan ‘itu juga kalau mba ga keberatan, tapi
kalau keberatan ya bisa dimasukkan struk.’ (lhaaaa, piye tho..). Saya rasa
modus ini kurang lebih sama dengan ‘sumbangan’ yg tidak tertera di struk.
Ya begitu lah. Sebenarnya gampang
ya, ga usah belanja lagi aja ke sana. Tapiii kadang itu tidak terhindarkan. Ada
beberapa barang kebutuhan yg lebih gampang menemukannya di sana. Oh ya, kemarin
saya belanja ke AM setelah sekian lama. Entah kenapa saya tidak pernah senyaman
itu sebelumnya. Pertama, barang-barang ditaruh dengan rapi di rak belanja
lengkap dengan label harga yang tertera jelas. Oh ya, tadinya ga akan belanja
banyak jadi sengaja ga bawa keranjang yg sudah tersedia di depan. Tapi setelah
melihat-lihat dan memutuskan ambil ini itu, banyak juga barang belanjaannya,
dan tiba-tiba salah seorang karyawan menghampiri dan memberikan keranjang pada
saya karena melihat tangan saya sudah penuh dengan barang. Begitu di meja
kasir, si karyawan ramah sekali menyapa dan memperkenalkan diri. Saya rasa ini
salah satu bentuk peningkatan layanan mereka, sejak IM kemudian jadi
primadona di kawasan sini dan popularitas AM jadi menurun.
Kalau pemilik minimarket peduli
pada kenyamanan pembeli, sediakan kotak saran di setiap gerai agar customer
bisa langsung menyampaikan komplain dan masukan untuk gerai yang bersangkutan
dan karyawan yang bertugas di sana. Kalau tindakan-tindakan nakal seperti yang
saya sebutkan di atas murni dari oknum karyawannya, sang pemilik bisa mengetahui
dari suara konsumen langsung dan seharusnya bisa mengambil tindakan tegas. Atau, kalau
memang tindakan oknum karyawannya dilatarbelakangi gaji yang kecil, yaa
evaluasi lah..
No comments:
Post a Comment