Jun 17, 2010

Mungkin, saya bukan komunikator yang baik.

Saya selalu percaya bahwa apapun masalah yang dihadapi akan bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Ini bukan karena saya pernah belajar komunikasi, tapi sebelumnya pun saya sudah berpikir bahwa komunikasi bisa menyelesaikan segala bentuk kesalahpahaman dan permasalahan. Khususnya dengan orang-orang terdekat. Keluarga, rekan kerja, teman, pacar dan sebagainya.

Tapi belakangan saya merasa gagal luar biasa mengaplikasikan ini, dengan mereka yang sudah saya anggap dekat dalam konteks profesional. Saya berusaha membangun komunikasi yang baik (menurut saya) agar masalah yang ada bisa dituntaskan dan kami bisa bergerak ke level masalah yang lebih tinggi. Tapi seperti yang saya bilang tadi, saya merasa gagal. Entah kenapa. Saya coba merunut kembali apa yang salah. Bagian mana yang terlewatkan, sehingga hasilnya tidak seperti yang saya harapkan. Tapi lagi-lagi saya tidak tahu jawabannya. Dan lagi-lagi, entah.

Saya pikir berkomunikasi dengan cara straight to the point; tidak berbelit2, tidak kenal perumpamaan atau kiasan adalah bentuk komunikasi paling tepat jika tujuannya membuat pemahaman yang sama dengan lawan bicara dalam waktu singkat. Dan saya coba, ternyata tidak. Saya merasa sudah cukup straight (sesuai porsinya), se-straight 'kalau kamu begini terus kamu tidak akan kemana2, jadi harus berubah.' Straight kan? Tidak juga sangat straight dengan bilang, 'bego banget sih, melakukan kesalahan yang sama terus sementara udh dikasi tau, apa namanya kalau bukan bebal? terus skrg ngarepin perubahan? mimpi aja terus!' Otak saya sangat ingin, tapi hati saya bilang tidak perlu sampai segitunya, toh saya juga kan tidak bertele-tele seperti; 'kamu tau keledai kan? itu lho yang mirip sama kuda tapi dia mukanya lebih lucu meski lebih lamban, nah pernah juga kan dengar pepatah keledai aja ga akan jatuh ke lubang yang sama? jadi ada baiknya kalau kamu juga seperti itu.'

Saya tidak mau menghibur diri saya dengan melakukan hal yang paling gampang, menyalahkan mereka! 'ah itu salahnya di mereka aja, mereka aja yang tidak membuka pikiran, atau tidak benar-benar mendengarkan'. Saya tidak mau, saya tidak bisa, karena kalau begitu saya seolah menutupi kemungkinan lain yang lebih mungkin menjadi penyebab dibanding 'mereka yang salah'. Saya masih punya tekad menemukan penyebab dari kegagalan saya dalam berkomunikasi (hadeeeh bahasanya).

Tapi untuk sekarang saya masih stuck, tidak tahu harus berbuat apa…Saya bisa saja tinggalkan dan pergi, mudah sekali. Tapi sialnya otak dan hati saya kali ini tumben sekali bisa kompak, jangan! pasti masih ada cara untuk nyelesein ini, jangan lari!

Kesal, saya tonjok dinding. Hahaha impulsive sekali. Hasilnya? Kelingking saya terkilir *bodoh. Well, mungkin saya kesal karena menyadari saya bukan komunikator yang baik dalam hal ini *blaaah