Sep 30, 2009

bencisukasukabenci

Saya sering mendengar kata-kata "benci dan suka itu bedanya tipiiiis sekali"...Sebelumnya saya sekedar percaya saja, tapi kini saya benar-benar percaya...Jika banyak orang yang bilang jangan terlalu benci nanti bisa jadi suka, maka kasus yang dialami seorang teman saya berangkat dari kondisi sebaliknya, awalnya suka skrg malah benci ...

Saya rasa hal ini karena ketika kita sangat menyukai seseorang, selalu ada ekspektasi bahwa kita ingin semuanya serba sempurna dari dia, baik sikap maupun ucapan. Dan ketika kita tidak mendapatkannya, kita jadi kecewa, kecewa itu menumpuk, jadilah sakit dan lama-lama benci... Hahahaha ini siy teori sederhana yang langsung terpikir oleh saya ketika sang teman curhat.

Intinya memang tidak baik bukan kalo segala sesuatu itu berlebihan? Ketika kita sampai pada titik ambang batas atau bahkan melewatinya, maka kita telah memasuki area yang kontradiktif dari sebelumnya... Bagi yg tidak masalah dengan itu yaa sebenernya juga tidak ada yang perlu dirisaukan, tapi pada kasus si teman, dia menjadi bingung sendiri dengan perasaannya. Selama ini karena satu dan lain hal, dia memang selalu berusaha keras menetralkan rasa sukanya menjadi rasa yang disebut "normal", tapi tidak menduga bahwa seiring waktu berjalan, alih-alih berhasil dengan usahanya itu, ia malah "terperosok" ke rasa yang benar-benar berseberangan dari yang ia rasakan sebelumnya.

Saya? Hanya bisa tersenyum sambil memberikannya sedikit kata2 ajaib so called advice...
Well, just be wary of such "overly" word

Sep 15, 2009

saatnya pergi sejenak...saatnya buang penyakit

Tak terasa sudah menjelang lebaran (lagi)...Saya masih ingat setahun yang lalu, detik-detik menjelang mudik ke kampung halaman, persis seperti ini, berkutat di depan komputer, menuliskan apa yang saya rasa ingin saya tuliskan sebelum akhirnya saya akan menghilang selama beberapa lama dari dunia maya ini.

Saat ini, hari-hari menjelang mudik, saat pascamenstrual syndrome pula, saya BENCI sekali dengan apa yang tengah bercokol di hati saya. Dulu saya pikir saya bisa berdamai saja dengannya, tapi lama kelamaan dia menjadi penyakit yang membuat saya tertatih-tatih...dan selama ini saya pasrah saja. Tapi sekarang tidak lagi. Saya akan memakai momen pergi sejenak ini untuk membuangnya, mengenyahkan dan mencampakkannya.

Saya kesulitan bernapas di sini, bahkan di sana sebenarnya lebih buruk. Tapi sekarang saya lebih memilih di sana untuk sementara waktu, setidaknya saya bisa memperbaiki otak dan hati saya akibat penyakit yang saya peroleh di sini, sebelum akhirnya saya kembali lagi ke sini dengan pikiran dan perasaan yang jauh lebih sehat... Hope so...

Well, happy holidays everyone... Mohon Maaf Lahir Batin ^^

Sep 3, 2009

Cerita Membosankan Tentang Teh

Lagi inget sesuatu (seperti biasa). Tepatnya pas sahur tadi, saat lagi bikin teh. 
Saya bikin teh dengan menyeduh daun teh (bukan pake tea bag) karena bagi saya rasanya lebih nikmat. Lalu apa alat utama yang diperlukan? Tentunya saringan, biar daun-daun tehnya ga ikut keminum ^^

Dan setiap kali menyeduh daun teh ini, saya selalu diingatkan saat masih kuliah. Suatu malam, demi merasakan nikmatnya air seduhan daun teh ini (karena bosen juga sama teh yang tinggal dicelup) saya dan Ipeh nekad membelinya. Kenapa nekad? Karena di kosan saya tidak memiliki saringan teh dan kita ga mikirin gimana nanti bikin teh-nya, yang penting beli aja. 

"Toh daun teh nikmat-nikmat aja koq kalo keminum juga," pikir saya.
Sampai di kosan saya dan Ipeh langsung menyeduh teh itu di sebuah gelas besar. Tapi akhirnya pertanyaan yg harusnya dari tadi kami pikirkan muncul juga.

Gimana cara nuangin air seduhan teh itu ke cangkir tanpa mengikutsertakan daun-daun tehnya yang tenyata terlalu banyak dan terlalu mengganggu untuk dicuekin?

Kami berdua sempat hampir kecewa karena terancam urung menikmati teh ini. Tapi kami memutuskan untuk tidak menyerah. Akhirnya kami berjibaku menyingkirkan daun-daun teh itu sedikit demi sedikit, lalu menuangkan airnya perlahan ke cangkir (tentu saja sedikit2 ada daun yang kebawa, tapi tidak masalah). Setelah beberapa lama berjuang menyingkirkan daun-daun teh itu, jadilah dua cangkir teh, meski tetep ada daun dan batangan teh yang tampak di permukaan teh, tapi itu sudah tidak mengapa karena yang jelas kami sudah bisa menikmatinya. 

Dan aahhhh...rasanya memang nikmat sekali, selain memang karena teh-nya nikmat dan upacara minum teh ini diselingi dengan obrolan konyol di antara kami, tapi yang paling membuat saya ingat kejadian itu adalah momen dimana kami dengan niatnya menyingkirkan daun-daun itu satu persatu saking inginnya menikmati teh ini. Dan ternyata makin berasa nikmat lagi teh itu.

Hingga kini setiap kali melihat saringan teh saya inget kejadian itu. Saya rasa seandainya waktu itu di kosan ada saringan teh tentu kami tidak perlu bersusah payah menyingkirkan daun-daun teh itu dan bisa langsung menikmatinya. Tapi jika cara membuatnya begitu mudah, tentu saya tidak akan tahu betapa besar keinginan kami berdua untuk meminum teh saat itu. Dan betapa saya masih semangat dan bergairah untuk mendapatkan apa yang saya inginkan...

Kini saya sudah punya saringan teh. Dan saya jadi lebih sering menyeduh daun teh ketimbang menggunakan tea bag, karena ga rela ngeliat saringan itu nganggur hahahahah. 

Dari cerita panjang lebar yang membosankan ini yang ingin saya katakan adalah...

Pada hal-hal tertentu dalam hidup saya saat ini, ada yang saya rasakan jadi lebih mudah ketimbang sebelumnya. Tapi seiring dengan itu saya merasa semangat saya memudar, gairah itu tidak ada lagi... Entahlah, mungkin saya sedang butuh tantangan yang bisa menjadi bensin untuk mengobarkan kembali api semangat dalam diri saya? Hahahaha bahasanya... 

Hm, sepertinya saya harus membuang saringan teh itu hihihihi....