Oct 2, 2011

(bukan) bocah petualang

Sebenarnya ini perjalanan yang saya nanti walau sempat ragu akan terwujud. Pertama, karena perjalanan ini pernah direncanakan namun gagal. Kedua, karena kondisi tempat tinggal kami (terutama saya) yang cukup jauh dibanding yang lainnya. Saya di Bukittinggi, butuh 2 jam untuk menemui teman-teman yang berada di Padang dan sekitarnya, sendirian pula, dengan kondisi traffic yang tidak bersahabat selama libur lebaran, membutuhkan tekad bulat untuk melalui ini. Tapi ternyata kali ini cukup bulat :D 

Perjalanan saya mulai dari Bukittinggi pukul 08.00. "Tiketnya habis,” ujar petugas travelnya. Godaan yang langsung menggelitik kebulatan saya. Hari itu, mahasiswa yang baru saja mengakhiri masa libur lebaran membludak menunggu transportasi yang jumlahnya tak sebanding. Saya tercenung sesaat hingga akhirnya muncul angkutan siluman ini, mobil yang 'mendadak' menawarkan jasa untuk mengantarkan kita ke tujuan. Tak ada yg berminat, awalnya. Tapi beberapa menit kemudian saya lihat ada yang pasrah mulai naik mobil itu. Saya, yang mungkin sama saja tiada harapannya seperti mereka, akhirnya memilih siluman ini dan membayar dua kali lipat! Sialan memang, tapi ya ‘WTH lah, yg penting saya ga balik pulang! Haha.’

Satu setengah jam kemudian saya akhirnya sampai di tempat yang sudah disepakati sebagai titik pertemuan dengan yang lain. Lima belas menit kemudian, datanglah rombongan perjalanan; Cacay, Taufik dan Azre. Perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam lagi ditempuh untuk sampai di tujuan sebenarnya, Tiku, kampung halaman Nanang yang kali ini akan menjadi guide dalam perjalanan kami. Sesampainya di Tiku sekitar pukul 13.00, oleh Nanang kami langsung diajak makan siang.

Lokan, menjadi sasaran utama acara makan kali ini. Ehm pemirsa, gulai lokan di rumah makan Edi Tanjung (eh namanya bener ga,Nang? hehe) sungguh Mak Nyusss. Top margotob! Menu yang tidak akan ditemukan di mana pun! :D

Siang yang terik, Nanang mengajak kami jalan ke pantai, bukan untuk berjemur tentu saja, hanya sekedar melongok laut lepas, dan memberi unjuk pulau yang akan kami datangi sorenya. Pulau Tengah. Ahh tak sabar!

Tapiiiii perahu yang akan membawa kami menyeberang dari Pantai Mutiara ke Pulau Tengah ternyata tidak tersedia. Manyun berjamaah. Walau sejujurnya saya sendiri melihat laut dan pantai saja sudah senang haha. 
Tapiiii (lagi) Nanang sungguh tuan rumah yang berdedikasi sodara-sodara. Kemanyunan pun tidak berlangsung lama karena kapal berhasil disediakan. And here we go! Sekitar pukul 16.00 kami berangkat. Oya, rombongan juga diramaikan oleh teman-teman Nanang dari Tiku. 

Mengingat kemampuan berenang saya tidak lebih baik dari batu, seharusnya adegan di kapal ini bikin deg-degan. Tapi yah berhubung antusias berlebih, kengerian sedikit terlupakan. Mengarungi lautan dengan kapal terombang ambing oleh ombak yang cukup besar, saya puas berteriak2 senang selama 15 menit penyeberangan.

Dan ternyata Nanang dibantu teman-temannya sudah membawa perbekalan berupa ikan yang siap dibakar, cemilan dan minuman *ihiiiiy!

Di sana, kami langsung diajak mengitari pulau yang ternyata butuh waktu sekitar 20 menit saja.

Pulau kecil + pasir putih + kerang + pecahan koral + air laut jernih + karang + sedikit pengunjung = yahooooo! 

Hanya saja mendung membuat saya cemas karena bisa batal melihat sunset

Usai mengitari pulau dan berfoto-foto, oh ya saya tidak membawa baju ganti jadi mesti menelan ludah iri setiap melihat yang lainnya berendam di air laut yang jernih. Well, karena sejauh yang saya tahu air laut itu lengket saya tidak mau pulang basah2an, apalagi perjalanan pulang cukup jauh.

Usai berkeliling kami sudah ditunggu oleh ikan bakar. Dan oh ya, ada adegan memetik kelapa muda juga saat mengitari pulau. Hidangan sederhana namun nikmat jendraaaal, apalagi makan di pulau seperti ini.

Menjelang pukul setengah enam, kami diajak meninggalkan pulau. Saya sempat protes karena ingin menunggu sunset. ‘Nanti, ada tempat bagus melihat sunset,’ kata Nanang. Yeah, siapa lagi yang harus saya percaya selain Mr.Guide ini, rite?! :p Saat akan pergi, ternyata ombak mulai besar, membuat kami cukup kesulitan menaiki kapal. Tepatnya kami, 'para turis' haha. Dan di adegan ini, menjaga badan tidak basah itu memang percuma, sodara-sodara. Tau gitu saya dari tadi berendem aja *ngok.

Dan Nanang membuktikan ucapannya. Menikmati sunset di pantai, di tempat tertentu, ahh sudah pernah dilakukan. Tapi di tengah laut?! Maaan, it was definitely awesome. Awalnya saya sibuk memotret, tapi untung saya tersadar betapa meruginya melewatkan momen ini HANYA dengan mengintip di balik display digicam, ketimbang menikmati langsung :D 

Kapal merapat dan matahari pun hampir utuh bersembunyi, menyisakan gradasi warna yang indah di langit berawan. One of the lovely dusk I’ve ever seen

Puas, tentu saja. Senang, pasti. Speechless, juga. Ini salah satu pengalaman yang sepertinya akan tersimpan baik di memori otak saya.

Hey, Mr.Guide, thanks a bunch for that awesome day. And guys, let’s have another exciting trip. Soon! ;)

p.s. ohh ada yang kurang, kehabisan sate lokan untuk makan malam :|

di sini, ada beberapa foto-foto perjalanan kami (menggunakan kamera Taufik dan Cacay). Belum semuanya memang, semoga foto lain bisa segera menyusul ;)



 


Sep 26, 2011

From Where I Sit

melihat pemandangan ini, biasanya saya selalu sedih. tidak akan bisa berlama-lama menatapnya karena pasti berakhir dengan menangis. tapi hari ini berbeda. 
***
dari tadi saya duduk di balik laptop. menatap layar dengan tangan sibuk menari di atas keyboard. ahh, memboyong kerjaan saat mudik lalu berkantor di teras rumah itu ternyata menyenangkan.

mendung dari tadi akhirnya meneteskan gerimis. semakin dingin saja. sesekali mata saya beralih dari depan layar, curi pandang ke 'potret hidup' di depan saya. entah, rasanya tenang. 

kesekian kalinya saya teguk kopi dingin lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. indah ternyata. ada bukit jika saya melirik ke kiri depan. ada bukit lainnya jika saya menoleh ke belakang. sisanya, rumah-rumah tetangga, jalanan yang diguyur air hujan lengkap dengan aroma tanah yg khas. sesekali terdengar deru mesin motor berlalu lalang.

pemandangan yang sudah saya akrabi sebenarnya sejak kecil. ya, kecuali pemandangan di depan saya ini. baru hadir 7 tahun belakangan. entah kenapa, dari tempat saya duduk sekarang, saya bahkan bisa 'menikmati' pemandangan ini sembari tersenyum, seolah dia juga melihat saya dari sana, dan ikut tersenyum.

hi, dad! :)


-bukittinggi, 07/09/11-

Sep 19, 2011

c.o.w.a.r.d


berusaha itu wajib. sisanya biarkan tuhan yang atur. saya tahu, mengerti daan... kesulitan menjalankannya.

saya bosan dengan sesuatu. tapi tidak pergi mencari yang baru. tidak juga berusaha agar sesuatu ini memberi nuansa yang  baru bagi saya. kemudian mengeluh sendiri. jadinya? stress sendiri. mencoba mendengar orang lain, tetap tidak mempan. 

otak ini karatan menghadapi masalah yang sama tiap hari, membusuk membayangkan hal2 yang tidak kunjung dilakukan.

apa? ya ya saya tahu. tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang jika dia sendiri tidak berusaha. err..bahkan ini tidak memotivasi saya juga. 

marah, sedih, kecewa semua karena diri sendiri. mungkin ini yang disebut pertarungan sesungguhnya adalah dengan diri sendiri.

apa? ke laut aja? hm, mungkin harus begitu. agar si sumber masalah lenyap dari muka bumi (apalagi jika tidak bisa berenang).  

yang saya tahu, untuk mengubah atau berubah butuh keberanian, sesuatu yang saya tidak punya. 

but hey, saya punya. setidaknya barusan. saya berani mengakui bahwa saya tidak punya keberanian alias C.O.W.A.R.D.

and because "cowards die many times before their deaths", i dont really need to jump into the sea, do i?

Feb 11, 2011

Self-confidence



Baru sekarang saya sadari bahwa saya telah kehilangannya sejak lama.  Setelah dulu sekali, saat saya begitu bangga dengan diri saya, dengan pencapaian saya, saya pernah menggenggamnya, erat.  Agaknya, pada satu momen di hidup saya dia telah terlepas dari genggaman. Entah karena apa. Dan apapun yang saya hadapi kemudian, tanpa disadari saya lalui tanpanya. Mungkin itulah mengapa saya sering merasa ragu, takut, dan tidak nyaman, hingga saya menjadi terbiasa dengan kondisi itu. Ketika begitu membutuhkannya seperti sekarang, saya tiba-tiba tersadar atas kehilangan ini. Dan setelah sekian lama, saya pikir mungkin sekarang dia ada di suatu tempat yang berdebu tebal, kusam.

Lalu, dimana dia?

Bagaimana cara menggenggamnya kembali?

Gawat.

Saya tidak tahu.