Oct 19, 2009

Anger Management*

*meski judulnya sama, ini BUKAN tentang film-nya Adam Sandler dan Jack Nicholson hehehe...

Saya rasa hampir setiap orang pernah kehilangan kendali. Terutama saat mereka sedang benar-benar marah, mumet ato apalah. Saya pun pernah. Meski ketika marah dan kehilangan kendali saya ga sampe guling2an ato ngamuk kaya orang gila dan membuat orang memandang kasian pada saya (jangan sampe juga hehehe). Cuma beberapa waktu lalu saya menjadi saksi bagaimana seseorang (yang masih kerabat saya) marah besar dan benar-benar tampak seperti orang yang kehilangan akal sehat ketika menghadapi masalah. Saya mengerti kenapa dia marah besar, saya bahkan tidak hanya mengerti tapi juga sangat memaklumi, hanya saja saya tetap tidak mengerti dan tidak percaya kalo dia bisa ngamuk2 seperti orang kesurupan tanpa melihat situasi dan kondisi saat itu. Marah-marah, teriak, dan menangis histeris di depan orang2 yang tidak ada hubungannya dengan masalah dia, dan di depan anak-anak yang bisa dibilang anak2nya juga, daaaannn tengah malam pula! Hufffttt...menyedihkan! Tak ada satupun orang di dekat dia saat itu yang mampu menenangkannya. Akhirnya baik saya maupun yang lain lebih memilih untuk mendiamkan dan membuatnya melepaskan semua lewat isak tangisnya. Untung saja histerianya tidak berkepanjangan, kalo iya saya udah berpikir untuk mengajak yang lain menggotong dia ke RSJ hehehe...

Saya percaya setiap orang yang baru tertimpa masalah, pasti butuh waktu untuk bisa menenangkan diri agar bisa berpikir lebih normal. Dan cara orang untuk membuat dirinya tenang juga berbeda2, ada yang lebih memilih menyendiri, mengurung diri di kamar, menangis, atau marah2 (dalam batas yang wajar tentunya). Tapi saya shock jika caranya seperti ini. Dalam kasus ini saya tidak hanya shock, tapi juga sedih melihat orang yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri memilih untuk melampiaskan kekalutannya dengan cara yang berlebihan. Dan saya yakin pada akhirnya ketika "kesadarannya" kembali dia hanya akan menyesali perbuatannya. Karena apa yang telah dia lakukan sama saja telah mempermalukan keluarga, terlebih dirinya sendiri. Saya sendiri sering mendengar dia bermasalah dengan anger management-nya (dan mungkin hampir setiap orang bermasalah dengan yang satu ini). Tapi ketika saya melihat langsung betapa parahnya kontrol emosi dia, saya jadi kasihan. Mungkin orang lain pun mengasihaninya. Bukan karena masalah yang dia hadapi, tapi karena ini bukan kali pertama dia mempermalukan diri dengan cara yang kurang lebih sama. Sesaat ketika peristiwa itu berlalu, semua rasa bercampur aduk di diri saya. Sedih, kecewa, bingung, geram dan marah. Rasa yang (saya pikir) kurang lebih sama dengan orang lain yang ada di sekitar saya saat itu. Saya tidak akan peduli kalo dia bukan siapa-siapa saya. Tapi kenyataannya dia siapa-siapa saya, jadi ini jelas mengganggu pikiran saya...

Ternyata tidak peduli sehebat apapun kita di mata orang lain, tapi kalo kita memiliki kontrol emosi yang sangat buruk seperti ini tetap saja pada akhirnya orang akan menganggap kita benar-benar MENYEDIHKAN! Jadi  ingatlah ketika emosi negatif tengah menyergap, jangan pernah kehilangan akal sehat! 

Oct 10, 2009

Niat? Siap? ya.ya..ya...

Ngomongin temen2 yg udah pada nikah, biasanya diakhiri dengan pertanyaan, "giliran lu kapan?" hahahah... Tak terkecuali beberapa waktu lalu. Lewat pembicaraan dunia maya dengan seorang sahabat sejak kecil, dia menanyakan hal yang sama setelah saya memberitahunya kalo ada salah satu temen SMU kami yang baru saja menikah.

"Belum tau... belum ada calon, belum ada duit dan BELUM SIAP"

itu jawaban saya dan dijawab dengan,

"Kalo nunggu SIAP mah ga bakal pernah siap, Tha. Tapi kalo udah NIAT mah pasti bisa"

Saya hanya manggut-manggut. Lalu pembicaraan kami berlanjut pada curhatan dia mengenai sang pacar yang baru memacarinya selama sebulan terakhir. Dan ketika maen ke rumah pacarnya, sang camer langsung "nembak" dia dengan menyuruh pasangan ini segera menikah tanpa perlu menunggu lebih lama lagi.

"Trus apa masalahnya?" itu saya.
"Hm..gua masih belum yakin siy, Tha."
"Hoo..ya mungkin lu butuh waktu lebih, berproses saja. Yg pasti jangan dipaksain, tapi dirasain dan dipikirin" hahahah apeuu si Martha.

Trus kembali kita ngobrol ngalor ngidul soal pacarnya hingga kemudian kita kembali ke pembahasan yang sama (lagi).

"Sebenernya siy gua belum siap Tha...Masi pengen maen dan bersenang-senang," katanya lagi.
"Well, apa perlu gua mengutip kembali omongan lu barusan?"
siapa tau dia mengalami apa yang dinamakan Short Term Memory?! kekekkek...
"Apaan tha?" nah nah nah tu kaaan...saya bilang juga dia STM hehehe...

Dengan senang hati saya melakukan so called copy paste omongannya barusan. Dia tertawa dan cuma bilang,
"Dasar lu, bisa aja."

Tapi saya ga puas, saya ingin respon lebih dari dia. Bukaaaaan..bukan membuat dia menarik kembali kalimatnya dan kemudian memojokkannya karena dia telah menggunakan istilah saya (tidak SIAP). Saya hanya ingin mengetahui apa yang ada di pikirannya ketika dia sudah memiliki pasangan, bahkan sudah berkenalan dengan orang tua sang pacar (meski itu bukanlah sesuatu yang WAH), tapi kali ini berbeda karena dia sudah bekerja dan berada di zona yg rawan teror "ayo kapan lu nikah..."

"Jadi ada dua hal. Ga SIAP dan Ga NIAT. Lu ada dimana?"
"Beda tipis siy ya" katanya lagi.

Saya diam sejenak, hingga akhirnya saya ketik begini,

"Mungkin kalo kasus gua, belom SIAP makanya belom ada NIAT, tapi kalo lu barangkali belum NIAT makanya ga SIAP."

Jawaban asal yang kemudian saya sadari bahwa untuk kalimat yang terakhir tampaknya akan lebih tepat begini, "tapi kalo lu barangkali belum NIAT, meski sebenernya udah SIAP."

Blaaaahhhhh...

Wat so evaaaa!!!! Yaa pokonya belum SIAP hahahaha...