Dec 6, 2010

Oh Well...

Sabtu, hari itu saya mulai dengan ngomel-ngomel seru dengan teman karena siang itu kami harus pergi ke satu lokasi acara untuk mengambil ID liputan konser yang akan diadakan malam harinya. Kami mengomel bukan tanpa sebab.

Pertama, lokasi itu bisa dibilang berada jauh di ujung sana, artinya butuh usaha lebih untuk pergi ke sana. Kedua, karena pengambilan ID ini menurut hemat kami bisa dilakukan menjelang acara saja, jadi kami tidak mesti bolak balik; siangnya ke sana, lalu pulang, terus ke sana lagi malamnya untuk liputan. Sangat tidak hemat (tenaga dan uang)!

Kami terlambat dua jam dari jadwal yang ditentukan oleh panitia untuk mengambil ID. Tak ada masalah ternyata. Mereka tidak judes, tidak sinis, tidak marah apalagi ngamuk dengan keterlambatan kami. Membuat saya dan teman berpikir, mungkin saja ID ini bisa diambil malem, ga mesti siang2 begini. Toh ternyata mereka juga ga straight sama aturan yg mereka bikin. Belum lagi aturan teknis peliputan yang tidak masuk akal yg membuat kami tertawa sekaligus marah secara bersamaan. Yasudahlah.

Kami berdua lalu janjian ketemuan di Nanny's Pavillon dengan satu teman lainnya. Cafe si nenek ini nyaman dan yang paling penting menunya ENAK2 :D Ini bagian di Hari Sabtu itu yang membuat saya sedikit terhibur setelah marah dan ngomel2 berjamaah dengan kedua teman.

Setengah 7 malam kami siap2 menuju lokasi liputan. Sementara teman saya yg lain langsung pulang. Kami turun angkot begitu melihat ada taksi yang bisa mengantar kami ke pelosok sana. Dan sebelum kaki saya menginjak aspal, angkotnya tiba2 jalan. Dalam slow motion, saya uraikan apa yg ada di benak saya saat itu.
"Kalo lompat ada resiko lagu lama terulang ; dengkul nyengsol lagi, kalo tetep seperti itu akan terseret angkot terus. Eniwei kl posisi begini yang ada malah kaya kenek :D"

Hup. Saya pilih lompat, setengah ketawa saya bilang "si bapak ga liat2 nih", itu saya ke supirnya. Tentu saja saya tidak tahu apa yang terjadi di angkot setelahnya karena saya dan teman sudah berlari menuju taksi. Tapi teman saya yang satu lagi -karena masih tertinggal di angkot dalam perjalanannya pulang- mendengar salah satu penumpang memberikan komentar brilian: "ih lagian salah si tetehnya juga". Yg dia maksud itu, saya yg salah. Temen saya spontan membalas : "Ya terus kenapa?" kurang lebih seperti itu.

Menurut teman saya sangatlah tidak ada juntrungannya penumpang ini memberikan komen brilian seperti itu. Pertama, kejadian tadi tidak ada hubungannya sama sekali dg dia, kecuali kalo pas keseret angkot tadi saya megangin dia sampai dia juga ikut keseret/jatuh. Kedua, dalam posisi tadi tentu saja saya yg dibahayakan, faktanya, saya malah ketawa2 aja, tidak menggedor angkotnya apalagi naik ke angkot terus kalap nyekek si supir. (hm, mendengar cerita teman, justru harusnya saya naik lagi ke angkot, tapi buat nyekek si teteh brilian itu :p)

Beralih ke taksi. Saya dan teman dilayani dengan baik, awalnya. Supirnya ramah, awalnya. Dia senang ngobrol. Semua kesan positif itu berubah begitu 15 menit kami di taksi. Pembicaraan dimulai dg cerita dia soal bantuan yg dia dan teman-temannya kumpulkan untuk korban bencana lalu ngoceh tentang orang kaya pelit yg ga mau nyumbang (d'oh mau nyumbang kok ya mesti ngeliat dan ngomentarin org lain toh?!).
"Neng dari mana?" pertanyaan itu lalu kami jawab begitu saja. Eh, dia kemudian bilang kalau dia tahu daerah kami berasal, bahkan ngaku pernah ke sana. BAHKAN dia bilang istrinya berasal dari daerah yg sama dg saya. What a coincidence! "Itu istri kedua saya," yg dijawab "ohh" oleh saya. Sementara istri pertamanya dia bilang sedaerah dengan teman saya. WHAT A COINCIDENCE, AGAIN.

Saya mulai meragukan kebenaran ceritanya. Lalu dia cerita bagaimana hidup berpoligami, bahwa dia melakukannya krn permintaan istri pertama yg tidak bisa memberi keturunan, tapi kedua istrinya hidup rukun, kalo kata dia sudah seperti... SOULMATE?!

Sementara di luar sana kemacetan benar-benar membunuh karena kami harus mendengar ocehan dia yg sebenarnya bisa dijawab dengan satu kalimat saja, WE DONT GIVE A SHIT AND SHUT THE FUCK UP :D

"Neng jgn mau ya nanti dipoligami," saran brilian yang membuat saya ingin memahat kepalanya.

"ya iyalah", jawab teman saya nyolot.

Sudahlah, kepanjangan kalau nulis ocehan dia di sini.

Karena lokasi tujuan kami tidak memberikan banyak pilihan angkutan umum, akhirnya kami TERPAKSA meminta supir ini untuk nanti kembali menjemput kami usai acara dan dia menyanggupi. Dalam perjalanan pulang saya hanya berdoa mulut bapak ini sudah terlalu pegal utk ngoceh seperti tadi lagi. Tak lama ponselnya berbunyi. Meski bisa mendengar pembicaraannya, tentu saja kami tidak paham apa yg dia bicarakan dan dg siapa dia bicara. Namun, semuanya mulai jelas begitu dia menelpon temannya. "Gua tadi ditelpon, ada tamu dari Singapura nginep di hotel A, dan dia minta cewe, kalo bisa dua, krn dia juga bawa teman. Gapapalah sekalian jadi "Agen Lendir"".

WHAT...THE....FUCK?!

"Fuck" itu dia, yang mengumpat kesal krn HP-nya tiba2 mati. Dia lalu minta maaf pada kami, "Aduh maaf ya neng. Yah, gini lah kalo jadi GERMO."

Spontan, teman saya langsung mencolek saya dengan raut muka yg tidak bisa diartikan, seperti ingin tertawa sekaligus teriak AN**NG ato apa lah. Sementara saya memilih buru2 mengalihkan pandangan ke luar agar tidak tertawa. Kacau kalo si GERMO ini tersinggung, bisa2 kami yg dianter ke hotel itu, kebetulan berdua. *PLAK

Sialnya, di tengah jalan tiba2 dia berhenti untuk mengisi pulsa. Piece of Shit banget kan ni orang? Dia kira kita numpang gratis di taksinya?! Saat itulah teman saya yg duduk persis di belakang bangku supir mulai curiga dg argo yang dari sejak kami naik sudah ditutupi dengan kemasan pewangi mobil. Saya sendiri baru tahu itu. Dan begitu kemasan itu disingkirkan, kecurigaan langsung menyeruak (caelaah). Tarifnya lebih mahal dr perkiraan kami. "Kayanya dia udah masang argo sebelum kita naik deh, ato itu argo sisa dari orang lain," curiga teman, dan saya sepakat.

Tak hanya kecurigaan yang menyeruak, kekesalan pun sama ketika dia berhenti untuk KEDUA KALINYA, masih di saat ada kami (baca: penumpang) di taksinya. Kali ini dia berhenti di depan sebuah hotel dimana dia kemudian dihampiri oleh temannya yg belakangan kami tau dia adalah orang yg tadi di ujung telpon, teman sesama AGEN LENDIR (bahkan saya masih takjub dg istilah ini).

Agen Lendir 1 dan Agen Lendir 2 bicara, mengabaikan nada protes dari kami yg tentu saja sudah kesal sampai ke ubun2. Temannya ini sempat melirik ke dalam taksi beberapa kali. Tatapannya membuat saya menyesal tidak membawa garpu karatan buat ditancepin ke matanya.

Siapa sangka, meski kami merasa telah memilih taksi yg terpercaya sekalipun, tapi itu tidak menjamin apa-apa. Kekesalan kami lebih karena dia berhenti sampai dua kali untuk mengurus urusan pribadinya, artinya nyambi pekerjaan lain di saat sedang menjalankan tugasnya sebagai supir (soal dia mau jadi GERMO, MUCIKARI, AGEN LENDIR, sayangnya kami tidak peduli. SAMA SEKALI). Dan juga dg sangat mencurigakan menutupi argo!

Yg jelas hari itu kami habiskan dengan membahas dan memaki2 berjamaah lagi hingga menjelang subuh. Panitia konser dengan aturan aneh, penumpang angkot dg komen mahatidakpenting, hingga supir taksi yang punya side-job sbg AGEN LENDIR (atau sebaliknya). Hey, saya melewatkan drama queen yg kami temui di konser. Begitu kami sampai di depan stage, teman saya memilih posisi persis di samping dia. Entah kenapa si cewe labil binti manja ini kemudian merintih2 ke sang pacar, seperti sedang kesakitan, seolah teman saya yg ada di sebelahnya ngegencet dia sama bata 5 ton. "Bahkan gua ga nyentuh dia!" ujar teman saya berapi2. Ahahaha..

Oh well!

Sep 23, 2010

Lebaran dan Liburan Kali Ini, Beda :)

Karena dalam kepulangan tahun ini, saya menikmati sekali momen2 bersama keluarga. Mulai dari bermain dengan ponakan2 yg mulai bawel (hehe senang sekali mendengar mereka memanggil saya "tante kakak"). Lalu menghabiskan lebih banyak waktu di rumah ketimbang bersama teman2, ngobrol banyak dengan adik, kakak, (sedikit dg ibu :p ). Daan masak2, khususnya teri medan balado yang sudah saya idamkan sejak dua tahun lalu (eh, ngomong2 soal ngidam sejak lama, saya akhirnya nyobain rasanya jadi "rubah terbang" alias flying fox, setelah ditantang sama ponakan tertua hihi). Selain masak sendiri, saya juga menjalani ritual tiap tahun, mengunjungi tempat jajanan yang citarasa-nya tidak akan saya temui di tempat lain. Oya, sempat keliling Kota Bukittinggi juga dan berpikir satu hari saya akan tinggal di kota ini saja (mengejutkan! Karena saya tidak pernah berpikir begitu sebelumnya) :))

Rasa senangnya terlengkapi oleh cuaca Bukittinggi yang selalu cerah. Hampir tiap hari saya menikmati sinar matahari pagi sambil ngopi2 di teras, lengkap dengan pakaian yg sudah rapih (untuk yg satu ini saya sempat menangkap tatapan heran si adik, mungkin karena pengalaman tahun sebelumnya; pagi hari, boro2 udh rapih, bangun aja saya belom haha)

Plus, saya juga telah merealisasikan rencana untuk mengunjungi lebih banyak keluarga tahun ini, terutama mereka yang berdomisili di Pekanbaru. Dihitung2 mungkin  lebih dari 5 tahun kami tidak bertemu. Sayang tidak sempat berziarah ke makam kakak sepupu yang meninggal tahun 2006 lalu karena Lupus :( Tapi saya sempat bertemu dengan anak almarhumah yang sudah kelas 1 SMP, membuat saya senang, terharu, sekaligus kangen pada ibunya. Malam sebelum balik ke Bandung, saya juga sempat mengunjungi adik nenek yang baru saya tahu sudah berteman dengan kursi roda. Awalnya biasa2 saja, tapi jadi berbeda ketika perempuan yang agaknya sudah menjelang 80 tahun itu terus2an menatap saya dan tiba2 meraih tangan saya lalu mengelus2nya, entah kenapa saya mendadak sedih. Tak hanya karena tatapan beliau yang entah apa maksudnya, tapi juga wajah beliau yang mengingatkan saya pada dua orang sekaligus; mendiang nenek (yang tak lain adalah kakak beliau) dan juga pada mendiang papa.

Saat benar-benar akan kembali ke Bandung, saya dipeluk erat oleh si adik semata wayang, dan saat melepaskan pelukan, untuk pertama kalinya saya lihat matanya berkaca-kaca saat kami akan berpisah, bisa saja pada perpisahan kami sebelumnya juga dia begitu, hanya saja saya baru "menangkap basah" momen itu sekarang :D "Jangan sedih doong," pinta saya, nanti kakak ikut sedih (lanjut saya lagi, dalam hati).

Well, lebaran dan liburan tahun ini memang beda, menyenangkan. Membuat saya (akhirnya) merasakan apa yang seharusnya dirasakan setiap orang ketika berada di tengah keluarga; berat untuk berpisah :)




*pagi hari di depan rumah :)

Jul 18, 2010

Sudah.

Sudah. Semuanya sudah checked. Beres. Tinggal melihat hasilnya, sambil berdoa yang terbaik. Jikalau tidak sesuai harapan, maka itu akan menjadi alarm untuk saya agar segera bergerak ke tempat lain. Bertemu yang baru. Serba baru. Ingin sekali, meski tak tahu kemana. Dan apapun hasilnya, saya mau senang. Mau bahagia. Mau tertawa. Ya tidak apa lah kadang menangis, tapi tidak boleh sering karena itu terlalu menguras tenaga.

Tapi, baiknya pikirkan saja yang saat ini jelas di depan mata, jangan terlalu risau memikirkan apa yang belum berada di 'jarak pandang'. Saatnya nanti, kita akan tiba di sana :)

Jun 17, 2010

Mungkin, saya bukan komunikator yang baik.

Saya selalu percaya bahwa apapun masalah yang dihadapi akan bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Ini bukan karena saya pernah belajar komunikasi, tapi sebelumnya pun saya sudah berpikir bahwa komunikasi bisa menyelesaikan segala bentuk kesalahpahaman dan permasalahan. Khususnya dengan orang-orang terdekat. Keluarga, rekan kerja, teman, pacar dan sebagainya.

Tapi belakangan saya merasa gagal luar biasa mengaplikasikan ini, dengan mereka yang sudah saya anggap dekat dalam konteks profesional. Saya berusaha membangun komunikasi yang baik (menurut saya) agar masalah yang ada bisa dituntaskan dan kami bisa bergerak ke level masalah yang lebih tinggi. Tapi seperti yang saya bilang tadi, saya merasa gagal. Entah kenapa. Saya coba merunut kembali apa yang salah. Bagian mana yang terlewatkan, sehingga hasilnya tidak seperti yang saya harapkan. Tapi lagi-lagi saya tidak tahu jawabannya. Dan lagi-lagi, entah.

Saya pikir berkomunikasi dengan cara straight to the point; tidak berbelit2, tidak kenal perumpamaan atau kiasan adalah bentuk komunikasi paling tepat jika tujuannya membuat pemahaman yang sama dengan lawan bicara dalam waktu singkat. Dan saya coba, ternyata tidak. Saya merasa sudah cukup straight (sesuai porsinya), se-straight 'kalau kamu begini terus kamu tidak akan kemana2, jadi harus berubah.' Straight kan? Tidak juga sangat straight dengan bilang, 'bego banget sih, melakukan kesalahan yang sama terus sementara udh dikasi tau, apa namanya kalau bukan bebal? terus skrg ngarepin perubahan? mimpi aja terus!' Otak saya sangat ingin, tapi hati saya bilang tidak perlu sampai segitunya, toh saya juga kan tidak bertele-tele seperti; 'kamu tau keledai kan? itu lho yang mirip sama kuda tapi dia mukanya lebih lucu meski lebih lamban, nah pernah juga kan dengar pepatah keledai aja ga akan jatuh ke lubang yang sama? jadi ada baiknya kalau kamu juga seperti itu.'

Saya tidak mau menghibur diri saya dengan melakukan hal yang paling gampang, menyalahkan mereka! 'ah itu salahnya di mereka aja, mereka aja yang tidak membuka pikiran, atau tidak benar-benar mendengarkan'. Saya tidak mau, saya tidak bisa, karena kalau begitu saya seolah menutupi kemungkinan lain yang lebih mungkin menjadi penyebab dibanding 'mereka yang salah'. Saya masih punya tekad menemukan penyebab dari kegagalan saya dalam berkomunikasi (hadeeeh bahasanya).

Tapi untuk sekarang saya masih stuck, tidak tahu harus berbuat apa…Saya bisa saja tinggalkan dan pergi, mudah sekali. Tapi sialnya otak dan hati saya kali ini tumben sekali bisa kompak, jangan! pasti masih ada cara untuk nyelesein ini, jangan lari!

Kesal, saya tonjok dinding. Hahaha impulsive sekali. Hasilnya? Kelingking saya terkilir *bodoh. Well, mungkin saya kesal karena menyadari saya bukan komunikator yang baik dalam hal ini *blaaah

Feb 24, 2010

Memang TIDAK MUDAH ma meeeeennn!!!

Beberapa kejadian belakangan membuat saya berpikir betapa tidak mudahnya memulai segala sesuatu dari nol. Membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada, menjadi bernilai, menjadi berguna hingga dipandang sebagai sesuatu oleh orang lain.

Proses. Tidak ada yang mudah dan cepat memang yang kemudian memberi hasil yang kita inginkan. Penolakan sudah biasa, terlupakan juga, dijadikan cadangan apalagi, tapi kami juga pernah mendapat tempat sebagai 'sesuatu' di mata orang lain. Dihargai meski oleh segilintir orang dan itu salah satu alasan kami masih bisa berjalan. Masih ada yang menghargai apa yang kami lakukan! Masih ada yang menilai kami tidak semata dari nama yang belum dikenal tapi dari apa yang kami lakukan dan seperti apa hasilnya.

Tanpa meng-underestimate media lain dan tidak juga bermaksud membanggakan media sendiri secara berlebihan, kadang saya merasa miris saat saya bersama rekan lain merasa telah membuat sesuatu sebagus mungkin, semampu kami, tapi tidak ada artinya di mata orang lain sementara media yang lebih dulu ada, dikenal, dan besar namanya meskipun dari segi konten tidak terlalu relevan dan kurang bernas lebih dihargai oleh pihak-pihak tertentu.

Saya tidak pernah memusingkan penghargaan orang dan tanggapan orang2 sebelumnya, hingga sebuah tuntutan profesional membuat saya harus berhubungan dengan orang-orang di luar sana, dan membuat saya sadar betapa banyak orang yang dengan begitu gampang dan murahannya dalam menilai sesuatu.

Hingga kini saya belum pernah (dan jangan sampai juga) menerima perlakuan baik verbal atopun non verbal yg kasar hanya karena saya membawa nama media yang tidak dikenal oleh orang banyak, oleh mereka. Bukan atau tepatnya BELUM menjadi media besar. Namun sehalus apapun penolakan tetap menyakitkan toh?! Saya tidak menulis ini ketika baru beberapa bulan berjalan, ini sudah masuk dua taun dan penerimaan dari sebagian besar orang masih sering membuat tenggorokan saya tercekat. (Awww c'mon martha get real ajaaa, shit happens dan itu udah biasaaa. Jadi tak perlu shock menghadapi hal2 bau (baca: shit) seperti ini...Kalimat yg sering saya katakan pada diri sendiri).

* "Ha? media apa tuh? Blom pernah denger" (krn tidak terkenal) biasanya cuma dpt satu freepass dan itupun kalo masih ada.

* "oh media online ya? hm skrg banyak media2 macam itu" (mgkn krn banyak media sejenis yg abal2 akhirnya media online yg bisa liputan dibatasi sementara kami sudah mengirimkan compro dan segala tetek bengek-nya ke panitia *sigh).

* "oh nama media Anda tidak tercatat tuh jadi masuk waiting list aja," dan mereka tidak peduli bahwa kita sudah mengikuti prosedur/syarat peliputan yang mereka tetapkan dari jauh hari sebelumnya.

Penolakan (bahkan yg mendadak sekalipun) bukan hal yang sulit bagi mereka terutama terhadap media kecil seperti ini. Kata orang alasan itu ada 1001 macam, atau lebih?
Meski sering juga saya menemukan orang yang kurang bermain cantik dalam beralasan sehingga jelas ketauan boongnya *haaaa

Yang jelas, hal-hal seperti ini belum sama sekali melunturkan semangat saya dan semoga begitu juga dengan mereka di luar sana yang juga berada dalam posisi yang sama. Pelajarannya?! Yaaa memulai sesuatu dari nol itu memang TIDAK MUDAH ma meeeeennn!

Feb 10, 2010

hadeuh hadeuuuhhh

Kenapa setelah melakukan kegiatan yang dipercaya ampuh menyegarkan otak dan suasana hati, so called L.I.B.U.R.A.N, kerja otak dan perasaan malah jadi ga karuan, bahkan lebih parah?! :(

Jan 11, 2010

Firasat? Nooooo...

Pagi ini saya terbangun karena sebuah sms...Hufft bangun lebih awal jadinya, tapi ya tak apa juga sebenarnya mengingat normally saya terbangun di saat matahari mulai masuk ke kamar, di saat dagangan tukang sayur udah pada abis, di saat orang2 mungkin udah sampe di mangkok bubur ayam yg kesekian saat sarapan, dan saya baru terbangun.. Meski begitu tetap saja saya memaksa untuk melanjutkan tidur pagi ini. Tapi yaa gagal hehe... Dan ini lebih karena tiba2 sesuatu masuk ke dalam kepala saya, merembes ke otak dan memutarnya ke belakang, kembali menuju masa satu dekade silam. Semuanya ter-rewind dan berhenti di satu nama. Ajaib! Nama ini berhasil membuat saya seketika disergap segala rasa. Marah, kecewa, kesal, sakit, bingung, bahagia, haru, penasaran, dan rindu.

Berat, saya paksa mata saya untuk membuka lebar, masih dalam ritual 'mengumpulkan nyawa' saya duduk tercenung sambil menerka-nerka apa gerangan yang telah masuk ke otak saya sehingga kenangan yang sudah cukup lama tidak pernah lagi saya hiraukan itu tiba2 muncul? Dan nama itu...Blaaah! Sempat berpikir apakah ini sebuah firasat? But I'm not good at it anyway, maksudnya saya sendiri tidak pernah merasa bahwa saya punya kepekaan dalam hal2 tertentu. Firasat? hehe rasanya tidak! Kurang dari setengah jam ujung2nya saya malah mendapati diri saya kesal sendiri, "dimana siy lu sekarang? Kaya hilang ditelan bumi, gua sebel sama lu, sama dia, sama mereka, tapi lebih dari semua itu gua sebel sama diri gua sendiri," dan akhirnya saya pilih untuk beranjak dari kasur, menyambar handuk untuk selanjutnya membanjur kepala saya dengan air dingin sekalian menonaktifkan si sesuatu yang tadi tanpa permisi masuk ke otak saya dan memaksa untuk memutar ulang kenangan kompleks yg membuat awal hari ini menjadi hm....tidak begitu bagus! *sigh

Jan 6, 2010

Semoga.... dan Amiin :D

Pergantian tahun, resolusi tidaklah menjadi sesuatu yg wajib bagi saya untuk ditetapkan menjelang detik2 pergantian tahun (sama seperti tahun2 sebelumnya). Tapi tentu saja saya (seperti halnya banyak orang) tetap punya target yang disasar.

Saya tidak bisa bilang itu tujuan hidup, karena itu memang 'hanya'...target! ya sesuatu yang ingin saya wujudkan dalam jangka waktu relatif singkat. Singkat? Hahaha padahal saya tidak pernah menetapkan kapan persisnya target itu harus sudah terlaksana. Seringnya saya terlalu asik bergelut dengan niat dan mengira-ngira langkah yg harus dilaksanakan untuk mendekati target itu dan kemudian menembaknya, langkah yg (tetap) belum saya jalankan sampai sekarang. Dan ya baru sampai di sana saja. Mungkin akan terdengar mencari alasan jika saya sebutkan satu per satu pertimbangan kenapa saya masih berkutat di bab 'niat dan perancangan strategi'. Karena sesungguhnya yg terjadi adalah saya memang MALAS dan belum BULAT untuk memulainya.

Saya pernah bilang pada teman bahwa saya tahu persis semuanya hanya akan berakhir di niat saja jika saya tidak punya semangat dan keinginan yang kuat untuk melakukannya, jadi mungkin saya butuh orang untuk menyemangati dan mengingatkan hehe... Memang beda sekali rasanya ketika saya mendengar kata2 semangat dan motivasi itu dari orang lain. Efeknya hebat! Karena kemudian saya mulai kembali berpikir untuk melakukan sesuatu meski (tetap) belum sampai pada tahap 'bertindak', tapi setidaknya dorongan dari teman membuat saya kembali mengingat hal-hal yang pernah sangat saya inginkan, lalu sempat terlupa karena kesibukan dan bla bla bla yang berputar di sekitar saya selama ini.

Yang jelas, waktu yg terus berjalan tetap menjadi reminder terhebat. Ya, waktu..dan poin yg telah saya koleksi yang sebentar lagi akan bertambah satu, menggenapkannya menjadi 25!

Jadi mudah2an beberapa bulan ke depan atau satu dua tahun ke depan, saya tengah duduk membaca kembali tulisan ini sambil tersenyum mengenang betapa berat dan susahnya untuk memulai dan menyemangati diri sendiri untuk meraih target, belum lagi perjuangan serta pengorbanan untuk meraihnya. Ya, mengenangnya.. karena saat itu saya sudah berada di sana, di target itu, dan bersiap menyusun target berikutnya. Semoga dan Amiin ya Allah!