Dec 14, 2012
bodoh
ketika kau sudah melakukan segalanya dan berikan yang terbaik demi mereka yang kau sebut sahabat
tapi kau tak pernah mendapatkan apa yang sahabat lain dapatkan
tidak juga diingat sebagaimana sahabat lain diingat
bahkan namamu selalu tertulis di akhir
itu menyedihkan!
ketika kau menyadari ini sejak awal, tapi kau bertahan
itu bodoh!
May 24, 2012
67 tahun, 8 kali
Yang kedua adalah frekuensi dia merayakan ulang tahun di surga.
Angka pertama menyadarkan saya betapa dia sudah tua sekarang. Saya membayangkan jika dia ada di hadapan saya, mungkin badannya masih kelihatan gagah (seperti biasa). Bedanya sudah banyak uban di kepala, ditambah keriput sana sini. Tapi volume suaranya masih sama, gaya bercanda juga. Dan oya, dia pasti masih suka mengeluarkan istilah-istilah aneh dan tidak dimengerti (bahkan oleh dia sendiri), baik saat senang, saat kesal, saat apapun!
Dan angka kedua menyadarkan saya sudah cukup sering juga dia 'tiup lilin' di surga sana, 8 kali : 8 tahun. Artinya, sudah lama juga saya tak lagi melihatnya. Tapi suaranya masih terngiang jelas di kepala. Tawanya terekam dengan baik, dan sewaktu-waktu terputar begitu saja.
Saya penasaran. Jika dia masih ada, akan kah dia seperti ibu saya yg tiap kali menelpon menanyakan hal sama terus: 'kapan kawin?'. Kalau dia juga begitu, sepertinya saya akan lebih sering tidak mengangkat telponnya, sama seperti telpon dari ibu :D
Angka pertama menyadarkan saya betapa dia sudah tua sekarang. Saya membayangkan jika dia ada di hadapan saya, mungkin badannya masih kelihatan gagah (seperti biasa). Bedanya sudah banyak uban di kepala, ditambah keriput sana sini. Tapi volume suaranya masih sama, gaya bercanda juga. Dan oya, dia pasti masih suka mengeluarkan istilah-istilah aneh dan tidak dimengerti (bahkan oleh dia sendiri), baik saat senang, saat kesal, saat apapun!
Dan angka kedua menyadarkan saya sudah cukup sering juga dia 'tiup lilin' di surga sana, 8 kali : 8 tahun. Artinya, sudah lama juga saya tak lagi melihatnya. Tapi suaranya masih terngiang jelas di kepala. Tawanya terekam dengan baik, dan sewaktu-waktu terputar begitu saja.
Saya penasaran. Jika dia masih ada, akan kah dia seperti ibu saya yg tiap kali menelpon menanyakan hal sama terus: 'kapan kawin?'. Kalau dia juga begitu, sepertinya saya akan lebih sering tidak mengangkat telponnya, sama seperti telpon dari ibu :D
Tapi kalau bapak sepertinya lebih bisa diajak ngobrol untuk urusan yg satu ini (eh, atau tidak?!). Dulu, saat saya SMA, dia pernah bilang : kakak (panggilan saya di rumah), pacarannya jangan sekarang, nanti saja kalau sudah kuliah. Sekarang santai saja dulu.
Tapi meski saya merasa kenal dan tahu dia, tetap saja saya tidak bisa menebak apa yang akan bapak saya katakan jika melihat saya yg sekarang. Melihat saya yg memilih pekerjaan yg jelas tidak sesuai harapannya. Saya ingat, sebelum meninggal, dia pernah minta saya ambil jurusan Humas saja. Keinginan yg tidak saya penuhi, karena saya berakhir di Jurnalistik. Hehe sorry, Pa! *sungkem.
Hm, kalau dipikir-pikir, meski pekerjaan bapak sudah mengantarkan dia menjelajahi nusantara ini dan berkenalan dengan beragam macam bule, tapi untuk urusan tertentu dalam keluarga, dia tetap lah sosok yang naif (saya rasa). Dia minta saya masuk jurusan Humas, seinget otak saya yang pelupa ini, adalah karena saya perempuan. Jadi menurut hemat saya, bapak pikir karena saya cewe, ya kerja sebagai PR lah yang paling jelas dan pas.
Kesimpulannya, dia tidak suka dengan pilihan hidup yang saya ambil sekarang. Kerja sebagai jurnalis, merintis media baru pula, bukannya kerja ke media yang jelas-jelas mapan. Dan klimaksnya, saya belum nikah, bahkan eng ing enggg BELUM PUNYA PACAR!
Ya ya, sekarang saya menemukan jawaban dari pertanyaan 'kalau bapak masih hidup, dia akan berkomentar apa'.
Ya ya, sekarang saya menemukan jawaban dari pertanyaan 'kalau bapak masih hidup, dia akan berkomentar apa'.
Dia akan bilang: Kakak, kamu ini kapan dengerin omongan Papa? Disuruh jangan pacaran dulu itu pas SMA, jangan keterusan sampe sekarang juga. Trus disuruh ambil jurusan Humas, malah ambil Jurnalistik. Sekarang galau kan? Bingung kan? Menghela napas sejenak, ia pun melanjutkan: Ga perlu galau. Ni ada anak temen papa yang bule, dia juga blom nikah. Kamu mau papa jodohin? Dan singkat cerita, saya pun kawin sama bule. Oh Papaaaaaa *peluk ngarep.
Eh bentar, setelah dibaca lagi adegan di atas bukan mengharukan, tapi menyedihkan, pemirsa! Bahkan orang yg mabok rendang ganja pun tidak akan berimajinasi seperti itu. Ahhh *malu *balurin rendang ke muka.
Ya sudahlah Papa, pokoknya aku cinta dan sayang kamu. Selamat ulang tahun yaa. Aku tahu kamu juga sayang aku, apapun aku jadinya sekarang...dan nanti *peluk sayang dan kangen :)
Eh bentar, setelah dibaca lagi adegan di atas bukan mengharukan, tapi menyedihkan, pemirsa! Bahkan orang yg mabok rendang ganja pun tidak akan berimajinasi seperti itu. Ahhh *malu *balurin rendang ke muka.
Ya sudahlah Papa, pokoknya aku cinta dan sayang kamu. Selamat ulang tahun yaa. Aku tahu kamu juga sayang aku, apapun aku jadinya sekarang...dan nanti *peluk sayang dan kangen :)
May 21, 2012
Opaaa
Saya dan teman-teman biasa memanggilnya Opa. Karena (tentu saja) faktor usia. Ya relatif sih 52 tahun itu. Kalau liat kondisi fisiknya yang ringkih (ngok!), kami menafsir dia sudah terlalu tua untuk berkeliling dunia dan menjumpai penggemarnya lewat konser. Jadi sama sekali tidak saya duga jika dia akan benar-benar kemari.
Tetap saja, saya sengaja tidak ikut panik beli tiket begitu promotor mulai berjualan. Karena saya malas kalau mesti refund dsb jikalau tetiba si Opa urung ke sini. Hingga H-2 tidak saya dengar kabar pembatalan, barulah bergerilya mencari tiket. Situs yang setia saya tongkrongi adalah Kaskus.
Gila! isinya para oportunis berjualan tiket. Banyak yang menjual tiket dengan keuntungan 300-500 ribu rupiah per tiket padahal alasan ngejual karena tiket ga jadi kepake. Maan, kalau calo ngambil untung segitu, dimaklumi lah. Tapi ini bukan. Misalnya, kalau saya keburu beli tiket seharga 500 ribu, trus ternyata ga jadi atau ga bisa make, ya saya jual lagi seharga saya beli. Prinsipnya, yg penting uang kembali!
"Daripada beli ke oportunis macam begitu, mending gua beli ke calo sekalian di venue. Jelas, mereka nyari duit dari sana," sungut saya.
H-1, sore hari. Saya liat ada postingan baru di Kaskus. Seseorang menjual tiket festival seharga 700ribu, artinya 15 ribu lebih murah dari harga normal. Baik sekali! Saya langsung sms si agan ini dan dia kasih respon positif. Jadi lah kami sepakat buat transaksi di venue. Kalau baca smsnya, sepertinya doi agak khawatir kalau saya tiba2 ngebatalin. Saya berusaha membalas sms kekhawatirannya dengan gaya 'cool'. Padahal aslinya mah deg2an juga takut si agan ngejual tiketnya ke orang lain :p
Tetap saja, saya sengaja tidak ikut panik beli tiket begitu promotor mulai berjualan. Karena saya malas kalau mesti refund dsb jikalau tetiba si Opa urung ke sini. Hingga H-2 tidak saya dengar kabar pembatalan, barulah bergerilya mencari tiket. Situs yang setia saya tongkrongi adalah Kaskus.
Gila! isinya para oportunis berjualan tiket. Banyak yang menjual tiket dengan keuntungan 300-500 ribu rupiah per tiket padahal alasan ngejual karena tiket ga jadi kepake. Maan, kalau calo ngambil untung segitu, dimaklumi lah. Tapi ini bukan. Misalnya, kalau saya keburu beli tiket seharga 500 ribu, trus ternyata ga jadi atau ga bisa make, ya saya jual lagi seharga saya beli. Prinsipnya, yg penting uang kembali!
"Daripada beli ke oportunis macam begitu, mending gua beli ke calo sekalian di venue. Jelas, mereka nyari duit dari sana," sungut saya.
H-1, sore hari. Saya liat ada postingan baru di Kaskus. Seseorang menjual tiket festival seharga 700ribu, artinya 15 ribu lebih murah dari harga normal. Baik sekali! Saya langsung sms si agan ini dan dia kasih respon positif. Jadi lah kami sepakat buat transaksi di venue. Kalau baca smsnya, sepertinya doi agak khawatir kalau saya tiba2 ngebatalin. Saya berusaha membalas sms kekhawatirannya dengan gaya 'cool'. Padahal aslinya mah deg2an juga takut si agan ngejual tiketnya ke orang lain :p
Dan berhubung telat, transaksi tiket akhirnya diwakili oleh teman yg lebih dulu sampai di venue. Dan jam 7, berhubung saya belum sampai juga, sementara si teman sudah hendak masuk, akhirnya saya suruh dia titipin tiket ke teman lainnya yg juga lagi di venue dan sedang menunggu tiket. Setengah 8 saya pun sampai.
"Tiket lu kok aneh sih, tulisannya cuma @50.000," kata teman sambil mengangsurkan tiket yg dia maksud ke saya. DEG! saya langsung lihat dan benar saja. "Apa mungkin salah print ya?" pikir saya dan langsung mengontak teman yang tadinya berhubungan langsung sama si agan kaskus. "Ini ga palsu kaaaan?" tanya saya bergidik mengingat uang yg sudah dikeluarin untuk tiket mencurigakan ini. Teman langsung membalas "Mestinya engga sih, kalau iya, awas aja! kita tamparin tuh orang."
Pertanyaan: "gimana nampar2innya, wong oknum-nya aja ndak adaaa".
Akhirnya saya pilih pede saja masuk gate dengan tiket aneh itu dan ternyataaa... LOLOS sodara2! "Selamat, Anda selamat," ujar teman dari belakang menepuk2 pundak saya dramatis. Ya, harus selamat! Kalau engga, bakal saya garuk2 penjaga gate-nya.
Akhirnya saya pilih pede saja masuk gate dengan tiket aneh itu dan ternyataaa... LOLOS sodara2! "Selamat, Anda selamat," ujar teman dari belakang menepuk2 pundak saya dramatis. Ya, harus selamat! Kalau engga, bakal saya garuk2 penjaga gate-nya.
Btw, mungkin saja memang harga tiketnya segitu. Biasanya itu tiket untuk kalangan terbatas. Eh, tunggu! Kalau harganya cuma GOCAP, salah sekali kalau saya pikir si agan kaskus ini BAIK karena ngejual lebih murah dari harga normal. Kalau dia beli GOCAP, dia ambil untung 650RIBU dong?!! MAK!
Ah bodo lah, yg penting saya sudah masuk dengan sakinah mawadah warohmah.
Jam 9 lebih, Opa Moz muncul. Beruntung, para cebol-ers (spt saya dan teman) dapat tempat paling depan di sisi kanan panggung. Dan cukup leluasa menikmati aksi si Opa yang malam itu pake kemeja rapi warna biru (kayanya sih berbahan satin. lha terus?!). Ternyata meski tua, si Opa masih ciamik sajoo. Katanya karena tidak makan daging dan tidak merokok yang membuat dia tetap fit dan terlihat awet muda seperti itu.
Jam 9 lebih, Opa Moz muncul. Beruntung, para cebol-ers (spt saya dan teman) dapat tempat paling depan di sisi kanan panggung. Dan cukup leluasa menikmati aksi si Opa yang malam itu pake kemeja rapi warna biru (kayanya sih berbahan satin. lha terus?!). Ternyata meski tua, si Opa masih ciamik sajoo. Katanya karena tidak makan daging dan tidak merokok yang membuat dia tetap fit dan terlihat awet muda seperti itu.
Dia juga ternyata ga sedingin (baca: galak) bayangan saya. Dia bahkan sempat nunjuk seseorang untuk naik ke panggung cuma buat dipeluk. CUMA BUAT DIPELUK! Ya, buat dipeluk. Dan tidak seorang, tapi dua orang. Ya, dua orang! (pengulangan ditujukan agar menimbulkan efek dramatis #eaaa).
Dia bawain semua lagu andalannya, dan beberapa lagu The Smiths. Trus selama penampilan Opa juga rajin berinteraksi sama penonton. Sesekali dia ke belakang buat ambil napas, sekalian ambil baju baru, kalo baju di badan sudah basah keringat. Oya, ada adegan dia melepas dan melempar salah satu t-shirt ke penonton begitu saja. Baik ya diaaa?!
Btw, para pemain bandnya pada telanjang dada semua mamerin perut six pack. Cocok jadi "dayang"-nya Opa laah.. *eh *hush ah :D
Btw, para pemain bandnya pada telanjang dada semua mamerin perut six pack. Cocok jadi "dayang"-nya Opa laah.. *eh *hush ah :D
Morrissey benar-benar membayar tuntas kekangenan penggemarnya yg datang dari lintas generasi malam itu. Mulai dari usia yg kalau ketemu saya pengen jabat erat ala anak muda, sampai ke usia yg bawaannya langsung pengen sungkem.
Trus saking antusiasnya, ada penggemar yang melompat pagar pembatas dan dorong2an sama security karena pengen salaman dan pelukan sama Moz. Insiden ini terjadi di tengah acara, yg membuat saya sempat keder juga kalau tiba-tiba Opa liat insiden ini trus ngambek dan langsung berhentiin konser. Ok, ok saya parno suryodiningrat memang.
Let Me Kiss U, Alma Matters, That's How People Grow Up, You're the One For Me, Fatty, First of the Gang to Die, Everyday is Like Sunday, suara saya pecah menyamai sound system sekian ribu watt di depan saya, demi ikut bernyanyi bersama Morrissey. Pokonya penonton puaas. Dan saya puas! :D
Ada kecurigaan sebenarnya encore seharusnya dibawakan sebanyak dua lagu. Namun, pas lagu pertama kelar, para oknum yang sudah tak tahan ingin bersalaman dan memeluk Opa langsung menyerbu ke depan panggung membuat security kewalahan. Bahkan ada yang lolos sampai ke atas stage hingga berhasil memeluk puas si Opa. Mak! Yg bikin deg2an pas si Opa pake akting pingsan begitu dia dipeluk. Untung saya ga keburu lompat ke panggung dan kasih dia napas buatan. Kasian soalnya. Ke orang tua itu bukan dipelukin lha woy, tapi dilapin keringetnya, dipijit, dibalurin balsem, apa kek! :p
Yah, meski banyak yang merasa encore satu lagu itu sungguh tidak biasa (baca: tanggung) karena biasanya 2-3 lagu, ya sudah lah. Siapa yg tau, bisa saja memang cuma satu. Lagian judulnya tadi kan udah PUAS!
Anyway, thanks for the amazing show, Opaaa *virtual hugs :D :D
Trus saking antusiasnya, ada penggemar yang melompat pagar pembatas dan dorong2an sama security karena pengen salaman dan pelukan sama Moz. Insiden ini terjadi di tengah acara, yg membuat saya sempat keder juga kalau tiba-tiba Opa liat insiden ini trus ngambek dan langsung berhentiin konser. Ok, ok saya parno suryodiningrat memang.
Let Me Kiss U, Alma Matters, That's How People Grow Up, You're the One For Me, Fatty, First of the Gang to Die, Everyday is Like Sunday, suara saya pecah menyamai sound system sekian ribu watt di depan saya, demi ikut bernyanyi bersama Morrissey. Pokonya penonton puaas. Dan saya puas! :D
Ada kecurigaan sebenarnya encore seharusnya dibawakan sebanyak dua lagu. Namun, pas lagu pertama kelar, para oknum yang sudah tak tahan ingin bersalaman dan memeluk Opa langsung menyerbu ke depan panggung membuat security kewalahan. Bahkan ada yang lolos sampai ke atas stage hingga berhasil memeluk puas si Opa. Mak! Yg bikin deg2an pas si Opa pake akting pingsan begitu dia dipeluk. Untung saya ga keburu lompat ke panggung dan kasih dia napas buatan. Kasian soalnya. Ke orang tua itu bukan dipelukin lha woy, tapi dilapin keringetnya, dipijit, dibalurin balsem, apa kek! :p
Yah, meski banyak yang merasa encore satu lagu itu sungguh tidak biasa (baca: tanggung) karena biasanya 2-3 lagu, ya sudah lah. Siapa yg tau, bisa saja memang cuma satu. Lagian judulnya tadi kan udah PUAS!
Anyway, thanks for the amazing show, Opaaa *virtual hugs :D :D
Feb 24, 2012
LESLIE FEIST
Bagi saya, ada yg berbeda jika bicara musisi perempuan atau band yang memiliki frontwoman. Ada rasa kagum, suka, juga iri kenapa saya ga bisa kaya mereka (Iri?! haha boro-boro bikin musik, main musik aja ga bisa, nyanyi jg fals).
Dan dia adalah perempuan yg saya kagumi pertama yang saya liat live-nya (kalimat yg ribet). Maksudnya, saya suka musisi perempuan, dan dia adalah salah satunya. Lalu dia adalah perempuan pertama yang saya lihat konsernya secara langsung (kalimat yg lebih ribet). Ah sudah berapa karakter ini yg saya habiskan untuk menjelaskan kalau dia adalah perempuan pertama yang saya suka dan lihat konsernya dan dia termasuk musisi yg saya kagumi. (Ok, cukup!)
Jadiiiii 15 Februari kemarin akhirnya saya lihat konser FEISTTTTTT! Nama aslinya hanya satu T, itu saya pake banyak saking senangnya (ya beklaah, semua aja dijelasin).
Sebelum konser, saya sempat menunggu teman yg telat karena macet, sesuatu yg memang sudah biasa di Jakarta? Tapi saya sih ga biasa. Ya ampun ya Tuhan, naik ojeg menerjang badai kemacetan warga ibukota pulang kerja, sungguh sesuatu yang...err berkeringat, berdebu plus deg2an karena abang ojeg ga tau dimana Bengkel Night Park, venuenya. Saya sempat tanya ke yg lagi duduk santai di sekitar Pacific Place, dia malah nunjukin ekspresi 'kenapa mesti nanya gua sik? Pergi lo!' Trus ada lagi satpam yg ngejawab 'aduh saya masih baru di sini' Yak, sungguh suatu kebetulan saat tengah bingung seperti ini saya bertanya pada satpam baru, padahal ga ada label lho di jidatnya. Akhirnya saya pilih memasrahkan ojeg itu pergi ketimbang memaksa dia berkeliling mencari venue konser.
Dan dia adalah perempuan yg saya kagumi pertama yang saya liat live-nya (kalimat yg ribet). Maksudnya, saya suka musisi perempuan, dan dia adalah salah satunya. Lalu dia adalah perempuan pertama yang saya lihat konsernya secara langsung (kalimat yg lebih ribet). Ah sudah berapa karakter ini yg saya habiskan untuk menjelaskan kalau dia adalah perempuan pertama yang saya suka dan lihat konsernya dan dia termasuk musisi yg saya kagumi. (Ok, cukup!)
Jadiiiii 15 Februari kemarin akhirnya saya lihat konser FEISTTTTTT! Nama aslinya hanya satu T, itu saya pake banyak saking senangnya (ya beklaah, semua aja dijelasin).
Sebelum konser, saya sempat menunggu teman yg telat karena macet, sesuatu yg memang sudah biasa di Jakarta? Tapi saya sih ga biasa. Ya ampun ya Tuhan, naik ojeg menerjang badai kemacetan warga ibukota pulang kerja, sungguh sesuatu yang...err berkeringat, berdebu plus deg2an karena abang ojeg ga tau dimana Bengkel Night Park, venuenya. Saya sempat tanya ke yg lagi duduk santai di sekitar Pacific Place, dia malah nunjukin ekspresi 'kenapa mesti nanya gua sik? Pergi lo!' Trus ada lagi satpam yg ngejawab 'aduh saya masih baru di sini' Yak, sungguh suatu kebetulan saat tengah bingung seperti ini saya bertanya pada satpam baru, padahal ga ada label lho di jidatnya. Akhirnya saya pilih memasrahkan ojeg itu pergi ketimbang memaksa dia berkeliling mencari venue konser.
Di depan Pacific Place, saya naik ojeg (lagi). Begitu saya sebut Bengkel, si abang langsung nyahut pertanda dia tahu. Di jalan kami sempat ngobrol. Si abang sempat curhat kalo dia dan tukang ojeg yg lain ga berani nongkrong di sekitar Bengkel meski banyak orang yg bisa saja butuh jasa mereka sepulang nonton konser. "Ga berani mbak. Kan ada taksi. Lagian yg ke sana pasti orang kaya semua, uang parkirnya aja 20ribu, kalo ga bawa mobil ya pake taksi, mana mungkin naik ojeg." Hati ini pun berkata 'nah bang, karena gua naik ojeg (bukan taksi), jadi nanti jangan narik ongkos kemahalan hihi.'
Yasudah, ga usah panjang lebar cerita ngapain aja sebelum nonton konser (lha, dari tadi?!). Menunggu sekitar 3 jam di venue tiada lah mengapa pemirsa, jika engkau melihat penampilan ciamik nan kece lagi keren dan menawan dari Mba Leslie.
Tidak seperti kebanyakan orang yg ngarep lagu favorit mereka dibawakan meski berujung kecewa, saya sih sudah menduga kalau Feist tidak akan membawakan lagu yg saya nanti. Pokonya saya bisa menerawang kalo dia tidak mungkin membawakan "We're All in the Dance" pun "Brandy Alexander" meski saya masih berharap. Ibarat orang kalo diputusin sama pacar yg masih disayang, dia selalu berharap meski tau ga mungkin balikan. Nah begitu kira2 saya malam itu. Bedanya, meski harapan saya tidak terkabul, saya tidak galau, merasa hampa dan ingin lari ke pojokan kamar lalu nangis dalam gelap sambil ngaduk racun. Lagian jauh cuy, kamarnya di Bandung.
Eniwei, Mba Leslie tahu sekali gimana bikin orang kagum dan terpukau. Tampilan dia biasa saja, sederhana. Tapi memang begitu sih orangnya, suka yg simpel2 (macam kenal). Suara bening, permainan gitar keren. Orangnya hangat dan senang berinteraksi pula. Hehe maaf ya tantee, tadinya saya kira situ galak lhooo *sungkem. Etapi bagus juga kalo malam itu dia rada galak, kaya Thom Yorke, biar penonton yg berisik waktu konser pada diusirin. Karena dari penerawangan (ya saya memang hobi menerawang), tidak sedikit mereka yang malah asik ngobrol dan rumpi sama teman-temannya selama Feist perform. Meh, ngobrol doang mah ga usah di konser Mba, di parkiran sana! *timpuk sound system.
Oya, di awal kan tadi saya bilang kalau saya punya kekaguman sendiri pada musisi perempuan. Saya suka Bjork (yang saya lewatkan konsernya di thn 2008 lalu karena waktu itu saya baru 3 hari keterima kerja, dan bisa dipastikan saya akan terima surat pemecatan sepulang nonton beliau). Yah, Bjork akan datang ke sini lagi kok, yakin saya waktu itu yg sampai tahun ini BELUM terbukti *garuk2 dinding. Dan Imogen Heap. Yg 'katanya' waktu itu tampil dg konsep panggung keren. Saya lupa kenapa saya melewatkannya. Tapi saya sempet ngarep saat teman memberikan live report kalau Imogen bilang akan kembali di penghujung tahun. Dan tidak terbukti juga sampai tahun ini *garuk2 pantat.
Tapi yg jelas saya senang sekali setelah nonton Leslie Feist. Dan menunggu Bjork kembali, juga Imogen Heap, lalu ingin menyaksikan langsung performa Karen O bersama YYY's, Florence and the Machine, Mum, Adele dll lah.
Karena temanya musisi cewe, yaa saya sebutin segitu aja lah, yg lagi kepikiran. Nah kalo temanya melebar ke musisi secara keseluruhan maka akan panjang lagi, karena musisi cowo yg saya suka lebih banyak hihi. Udah ah.
Yasudah, ga usah panjang lebar cerita ngapain aja sebelum nonton konser (lha, dari tadi?!). Menunggu sekitar 3 jam di venue tiada lah mengapa pemirsa, jika engkau melihat penampilan ciamik nan kece lagi keren dan menawan dari Mba Leslie.
Tidak seperti kebanyakan orang yg ngarep lagu favorit mereka dibawakan meski berujung kecewa, saya sih sudah menduga kalau Feist tidak akan membawakan lagu yg saya nanti. Pokonya saya bisa menerawang kalo dia tidak mungkin membawakan "We're All in the Dance" pun "Brandy Alexander" meski saya masih berharap. Ibarat orang kalo diputusin sama pacar yg masih disayang, dia selalu berharap meski tau ga mungkin balikan. Nah begitu kira2 saya malam itu. Bedanya, meski harapan saya tidak terkabul, saya tidak galau, merasa hampa dan ingin lari ke pojokan kamar lalu nangis dalam gelap sambil ngaduk racun. Lagian jauh cuy, kamarnya di Bandung.
Eniwei, Mba Leslie tahu sekali gimana bikin orang kagum dan terpukau. Tampilan dia biasa saja, sederhana. Tapi memang begitu sih orangnya, suka yg simpel2 (macam kenal). Suara bening, permainan gitar keren. Orangnya hangat dan senang berinteraksi pula. Hehe maaf ya tantee, tadinya saya kira situ galak lhooo *sungkem. Etapi bagus juga kalo malam itu dia rada galak, kaya Thom Yorke, biar penonton yg berisik waktu konser pada diusirin. Karena dari penerawangan (ya saya memang hobi menerawang), tidak sedikit mereka yang malah asik ngobrol dan rumpi sama teman-temannya selama Feist perform. Meh, ngobrol doang mah ga usah di konser Mba, di parkiran sana! *timpuk sound system.
Oya, di awal kan tadi saya bilang kalau saya punya kekaguman sendiri pada musisi perempuan. Saya suka Bjork (yang saya lewatkan konsernya di thn 2008 lalu karena waktu itu saya baru 3 hari keterima kerja, dan bisa dipastikan saya akan terima surat pemecatan sepulang nonton beliau). Yah, Bjork akan datang ke sini lagi kok, yakin saya waktu itu yg sampai tahun ini BELUM terbukti *garuk2 dinding. Dan Imogen Heap. Yg 'katanya' waktu itu tampil dg konsep panggung keren. Saya lupa kenapa saya melewatkannya. Tapi saya sempet ngarep saat teman memberikan live report kalau Imogen bilang akan kembali di penghujung tahun. Dan tidak terbukti juga sampai tahun ini *garuk2 pantat.
Tapi yg jelas saya senang sekali setelah nonton Leslie Feist. Dan menunggu Bjork kembali, juga Imogen Heap, lalu ingin menyaksikan langsung performa Karen O bersama YYY's, Florence and the Machine, Mum, Adele dll lah.
Karena temanya musisi cewe, yaa saya sebutin segitu aja lah, yg lagi kepikiran. Nah kalo temanya melebar ke musisi secara keseluruhan maka akan panjang lagi, karena musisi cowo yg saya suka lebih banyak hihi. Udah ah.
Jan 21, 2012
Tuesday Runaway
Berawal dari cerita soal bagusnya air terjun (Curug) Cibeureum di daerah Sukabumi, hingga akhirnya tercetus lah ide untuk benar-benar melongok ke sana. Dan pilihan jatuh pada hari kerja (Selasa) dengan alasan menghindari macet sekaligus melepaskan diri sesaat dari kerjaan :D
Keberangkatan rombongan dari Bandung direncanakan pukul 05.00 subuh mengingat kondisi cuaca Sukabumi yang tidak bersahabat belakangan ini. Perkiraan sampai di sana pukul 8 atau 9 pagi yang dirasa pas untuk menikmati hawa di sana. Konon menjelang siang justru Curug Cibeureum ini sudah keburu tertutup kabut. NYATANYA, kami berangkat pukul 7 pagi dari Bandung. Belum lagi ada acara ditilang plus muter-muter cari jalan menuju tol karena diberlakukannya jalur searah sampai siang.
Alhasil kami baru sampai Sukabumi menjelang pukul setengah 12. Dan tanpa ba bi bu, teman yang sudah menunggu di Sukabumi langsung mengajak kami ke TKP, dan sesampainya di sana, ternyata itu bukan Curug Cibeureum (haha). "Terpaksa gua ganti tujuan, karena kalian kesiangan. Jadi sekarang kita ada di Curug Sawer. Ga kalah bagus kok," kata teman tadi.
Meski berubah tujuan, yang jelas acara hiking kami (seperti yg sudah direncanakan) tetap jadi. Bedanya, kalau hiking ke Curug Cibeureum lebih jauh lagi, kata si teman.
Nah, adalah keputusan yg salah jika Anda memilih Converse untuk hiking. Karena saya sukses kepeleset berkali-kali jika melewati medan dengan tanah yang basah. Belum lagi kalau turunan. Sekitar 20-30 menit perjalanan (hiking) cukup membuat kami ngos2an, dan bermandikan keringat. Saya sendiri sedikit terbantu karena belakangan sering jalan pagi, jadi ya lumayan lah staminanya. Entah apa jadinya kalau masih suka bangun siang dan malas olah raga, saya rasa baru di tanjakan pertama sudah harus ditandu :D
Sampai sana, rombongan kelaparan yg belum makan dari pagi ini begitu buas membuka bungkus nasi timbel, menyerbu ikan asin, telor mata sapi, tahu dan sambal yg pedas. Nikmat!
Seolah didesak oleh langit yg mulai mendung, usai makan kami langsung menyerbu air terjun yang tak jauh dari tempat kami makan. Dan air terjun ini sempurna, airnya jernih dan SANGAT DINGIN SEKALI OH TUHAN, dikelilingi pohon-pohon yang menjulang tinggi besar. Kalau menengadah, terlihat langit yg terbingkai dedaunan dari pohon-pohon yg tumbuh di berbagai sisi.
Bagi yang takut berenang/berendam di dekat air terjun sama seperti saya, sebaiknya bermain air saja di sungai dan mata air yang di dekat situ. Selesai berendam air es ini, kita bisa langsung menyesap kopi hangat yang dijual oleh seorang ibu di sekitar situ.
Dari pengamatan ke sekeliling, tempat ini belum dijamah oleh banyak orang. Kebanyakan sepertinya masih penduduk di sekitar Kec.Kadudampit maupun Sukabumi.
Sekira satu jam di sana, kami langsung berkemas karena gerimis mulai terasa. Melewati jalur yang sama saat datang, kali ini kami lebih semangat untuk kembali hiking. Mungkin karena kedinginan jadi butuh pemanasan agar tubuh hangat :D
Dari sana kami langsung diajak ke sebuah warung sederhana pinggir jalan yang menjual surabi khas Tasik. Saya pilih surabi telor bebek oncom (sesuai rekomendasi) dan minumnya saya pilih menu andalan warung ini, bandrek india. Untuk surabi, telor bebeknya kurang matang jadi masih berasa agak amis, tapi overall enak :) surabi gulanya juga enak. Untuk bandrek india, bisa pakai susu atau original. Saya pilih pakai susu, dan sepertinya saya akan lebih suka yang original :D
Subscribe to:
Posts (Atom)


