Sep 27, 2017

growing up...not growing apart

Pertama kali bertemu saat berseragam merah putih. Entah kenapa wajahnya terasa familiar, hingga saya terus memperhatikan sampai dia terlihat risih (cenderung takut hehe). Ternyata itu adalah pertemuan pertama. Karena setelah itu kami bertemu lagi dalam sebuah lomba antarsekolah dan yg paling lucu, kami kembali bertemu di persiapan nikahan saudara saya yang ternyata juga saudara dia (hihi).

SMP dan SMA kami satu sekolah. Kami berteman, tapi bukan teman yang kemana-mana selalu bersama. Lalu entah kenapa ada masa dimana kami memulai kebiasaan bertemu usai sekolah. Jadi di sekolah kami sibuk masing-masing, tapi pulang sekolah kami bertemu bahkan sampai nginep (seringnya saya yang nginep di dia hehe).

Mulai kuliah kami berpisah, dia di Bogor dan saya di Bandung. Kesempatan bertemu hanya saat pulang lebaran. Itu pun dari tahun ke tahun kesempatannya mulai menipis karena berbagai hal. Pertemuan yang dulu setiap hari lalu menjadi setahun sekali, hingga akhirnya dua atau tiga tahun baru bertemu lagi.

Banyak momen penting yang terjadi tanpa kehadiran satu sama lain. Saat saya kehilangan orang tua, meski dia tidak ada tapi dia selalu memberikan dukungan. Saya juga tidak ada di momen penting dalam hidupnya, tapi saya selalu mendoakan yang terbaik. Lalu begitu saya tahu dia baru kehilangan kakak tercinta, kami pun ngobrol via telepon. Obrolan ini selain terasa haru karena masih dalam suasana berkabung, juga karena bicara dengan dia mengembalikan banyak kenangan.

Kami sadar bahwa jarak kami tidak sejauh itu. Saya masih di Bandung dan dia kini di Jakarta. Lalu kalau pulang lebaran, 15 menit berkendara saja kami sudah bisa saling berkunjung ke rumah masing-masing. Tapi nyatanya, kini sudah sekitar 7 tahun sejak pertemuan terakhir kami.

Saya sadar bahwa kami bukan lagi anak sekolahan, juga bukan lagi anak  kuliahan, kami perempuan (bahkan kini dia juga seorang ibu) dengan tanggung jawab, prioritas dan pertimbangan ini itu. Dan obrolan singkat via telepon saja sudah cukup membuat saya sadar bahwa tak peduli sudah berapa lama kami tak bertemu, apa pun yang sedang kami hadapi, sejauh apa pun jarak kami kini dan nanti, itu bukan masalah selama kami ada untuk satu sama lain...dalam ingatan dan doa.


May 9, 2017

the question

banyak langkah yg telah saya buat dalam hidup lalu saya sesali.

iya saya tahu, menyesal tiada gunanya. 

saya bukannya tidak bersyukur atas apapun yg saya dapatkan dan nikmati sekarang. tapi  jika hari-hari saya habiskan mengenang masa kecil dan ingin sekali mengulangnya seperti kata lagu (yg entah milik siapa), if i can turn back time... itu artinya saya tidak bahagia dengan hidup yg sekarang kan?!

tapi mungkin ada yg heran, memangnya ada apa dengan hidupmu yg terlihat baik-baik saja? iya, saya juga kadang suka gitu. melihat orang lain di media sosial memajang foto, saya langsung dengan mudahnya bilang "kayanya hidup dia enak, bahagia, ga ada masalah." jadi ya, saya tidak bisa salahkan orang yg berpikir sama tentang saya. rumput tetangga lebih hijau itu betul sekali. lihat orang makan enak, liburan seru, serasa hidup dia menyenangkan tiap hari, dan apalah saya?! lalu mulai menyalahkan pilihan yg dibuat di masa lalu yg menggiring saya ke titik ini.

saya sesungguhnya ingin seperti orang lain. sekolah, kuliah, lulus, kerja, nikah, punya anak, dst. saat ini saya ada di tahap 'kerja' dan sebagian bilang "wah, keren kamu punya usaha sendiri". iya, saya mengelola usaha sendiri dengan modal nol, dan itu keren bagi orang lain, tapi sakit kepala tiada akhir bagi saya. hingga sampai ada di titik, "udah ah, kerja aja ke orang lain, terima upah tiap bulan, terjamin." 

tapi nyatanya saya masih di sini sekarang. keras kepala ya?! saya abaikan tawaran orang lain untuk bekerja jadi pegawai biasa, dan bersikeras ingin mengembangkan bisnis ini, tanpa tahu bisa dapat 'pertolongan' atau tidak. yeap! seriously, i need help. BIG HELP! pertolongan moril dan materil (tentu saja). brand yg saya kelola sudah bagus sebenernya, tapi keuangan (entah kenapa) makin suram. sudah 3 tahun, saya cuma bisa 'ya jalani aja dulu, kita lihat nanti!' dan ternyata stuck, ga kemana-mana. 

parahnya, saya sering bimbang dan tidak berani mengambil keputusan. kalaupun pada akhirnya memutuskan sesuatu, ya butuh waktu lama. lucu ya, kesannya saya ini orang yg sangat berhati-hati dalam melangkah, tapi sejak awal tulisan ini saja saya mengakui banyak langkah yg saya sesali. 

oya, kemarin saya nonton ulang film 'good will hunting'. cerita tentang anak jenius yang bekerja di bagian cleaning service sebuah kampus. kejeniusannya terendus oleh seorang dosen di kampus itu yg kemudian membawanya ke seorang terapis. will, si anak jenius ini, adalah korban dari child abuse. dan seperti kebanyakan anak yg menerima kekerasan verbal maupun fisik, will juga meng-underestimate dirinya sendiri. bahwa hidup yg  pantas untuk dia adalah bekerja serabutan, nongkrong di bar, lalu pulang ke rumah. 

hingga ada saat dimana sang terapis memberi pertanyaan sederhana dan anak jenius ini tidak bisa jawab.  "what do you wanna do?"

harusnya saya seneng sih, tahu bahwa anak jenius saja tidak bisa menjawab pertanyaan itu, apalagi saya! lalu saya ingat satu momen saat saya chat dengan seorang teman, yg kemudian membuat saya sadar bahwa masalah saya sebenarnya mungkin sama, "saya tidak tahu apa yg benar-benar saya inginkan dan apa yg ingin saya lakukan".



Mar 4, 2016

tentang mimpi

hari minggu lalu, saya ditelpon oleh salah seorang tante saya. bukan, dia bukan salah satu dari mereka yg berkunjung di cerita sebelumnya (hehe).

tante saya yg ini, adalah yang sangat membantu persiapan pernikahan adik saya dan meninggalkan keluarganya beberapa lama untuk mengurus ibu saya yg sempat terserang stroke sebelum pergi untuk selamanya.

saya, tidak begitu dekat dengan tante ini sampai akhirnya kami  bekerjasama dalam mengurus persiapan pernikahan adik saya. 

kembali ke hari minggu kemarin...

"tante mimpi sama mama, papa kamu, dan ada kamu juga."
"oya, mimpi apa?"
"mimpi pertama, tante lihat papa dan mama kamu bawa kamu sama abang kamu. trus mereka ninggalin kalian di dalam mobil. tante panggil mereka, tapi mereka cuma berlalu sambil senyum."

dari mimpi itu, menurut tante dia tidak terlalu ngeh artinya, bahkan sampe mimpi yg kedua sekali pun.

"mimpi berikutnya, ceritanya mama kamu lagi nyuapin kamu, trus tante datang dan tiba-tiba mama ngasihin piringnya ke tante nyuruh ngelanjutin nyuapin kamu. dan lagi-lagi papa kamu cuma senyum ngeliat itu."

sampai akhirnya di mimpi ketiga, tante mengaku mulai tersentak..

"jadi di mimpi ketiga, kamu itu lagi jalan dan tiba-tiba mama kamu ngedorong tante sambil setengah teriak nyuruh tante buat nyusul kamu."

dan rentetan mimpi dalam dua bulan terakhir itu ditutup dengan adegan mama, saya dan tante yg tengah duduk, dimana mama tidak bicara apapun hanya saja raut mukanya tampak sedih.

"setelah itu, tante shalat dan berdoa sambil meyakinkan mama kamu untuk tenang saja di sana sama papa. karena tante akan jaga kamu."

saya hanya diam saat tante justru bertanya pada saya, apa mungkin arti mimpinya adalah mama mengkhawatirkan saya. 

saya tidak paham soal arti mimpi dsb. tapi mendengar cerita tante, menimbulkan perasaan sendu yang saya coba tepis agar tidak sedih berlarut-larut.

entahlah. saya rasa, orang tua tetaplah orang tua. meski kita merasa sudah besar dan bisa bertanggung jawab atas diri  sendiri,  mereka tidak bisa berhenti peduli dan khawatir, meski sudah tiada..