May 14, 2014

Kini Saya Mengerti...

Dulu saya berpikir menangis itu hanya lah ungkapan untuk kesedihan, jadi saya tak mengerti jika ada yg menangis karena bahagia.

Tapi entah bermula kapan, kini saya malah begitu. Menangis karena bahagia. Salah satunya adalah beberapa hari lalu. Saya menangis ketika bersalaman dan berpelukan dengan adik saya, sesaat setelah dia menjalani prosesi Ijab Kabul. Melihatnya dari jarak beberapa meter saja, saya sudah merasa ada sesuatu di tenggorokan yg mendesak untuk keluar. Dan begitu dia berada persis di hadapan saya, sesuatu itu melompat keluar begitu saja tanpa bisa saya tahan. Berdua kami berpelukan dan menangis. "Terima kasih ya, Kak," bisiknya yang makin membuat saya terharu. Sampai kini pun, saat menulis ini, saya masih berkaca-kaca (hehe).

Sejak awal rencana pernikahan adik saya muncul, tak ada yang saya rasakan kecuali senang dan antusias. Sebisa mungkin saya bantu persiapan pernikahan sejak beberapa bulan sebelumnya. Mengurus undangan, souvenir, dan membeli pakaian seragam untuk keluarga. Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, sampai juga saatnya saya pulang ke rumah. Dalam tradisi Minang yang menganut sistim matrilineal, pernikahan anak perempuan adalah momen yang memiliki arti tersendiri, dan biasanya berujung pada perayaan yang meriah. Apalagi di keluarga saya, pernikahan adik saya ini adalah pernikahan anak perempuan pertama.

Karena pesta pernikahan dilangsungkan di rumah dan segalanya dikerjakan oleh keluarga yang juga dibantu para tetangga, jadi wajar saja jika selama seminggu menjelang hari H kondisi rumah sangat lah riuh. Waktu istirahat pun berkurang karena banyak pekerjaan yang mesti dikerjakan. Terlepas dari rasa cape dan segalanya, saya merasakan betul betapa sistim kerja seperti ini membuat kami dekat satu sama lain, dan saling memberi semangat demi lancar dan suksesnya acara. Yaa, meski setelah itu ada saja anggota keluarga yang bertitip pesan pada saya agar nanti melangsungkan pernikahan di Bandung saja, sehingga keriuhan dan kerepotan yg sama tak berulang (haha). 

Banyak sekali kejadian menarik yg terjadi selama persiapan hingga saat acara berlangsung; dari yang membuat kesal dan marah, hingga senyum bahkan tawa. Komplit! Tapi tentu momen paling berkesan adalah ketika adik saya dinyatakan sah menjadi seorang istri dan ketika melihat dia bersanding di pelaminan bersama sang suami. Dan oh ya, mereka berdua juga sempat menyanyikan lagu di hadapan para tamu.  Aww, that was sweet!

Dan ya, kini saya mengerti kenapa ada tangis bahagia :)

Jarak usia 2 tahun membuat saya dan adik menjadi teman sepermainan. Bahkan kami selalu dibelikan pakaian yang sama, punya model rambut yang sama, sehingga seringkali dianggap kembar. Keluarga dan kerabat yang mengenal kami sejak kecil, sudah melihat kami seperti satu paket. Padahal, sekalipun terlihat kompak, seingat saya kami lebih sering berantem dan ga teguran haha.. Hingga kemudian, saya pindah ke Bandung dan kami tinggal terpisah. Sejak itu, kami mulai menghargai setiap momen pertemuan dan lebih jarang cekcok tentu :D

Ketika adik saya mulai bekerja menjadi karyawan di salah satu Bank, saya mulai melihat perubahan darinya, yang terlihat jauh lebih dewasa, terutama dari segi penampilan dan gesture. Posturnya yang juga jauh lebih tinggi ketimbang saya, membuat banyak orang berpendapat saya justru lebih cocok jadi adiknya. Ah, tentu saja saya tidak keberatan :)) 

Dan pada kakak.. eh adik saya di sana (hehe), harapan terbaik saya untuk kamu dan suami. Selalu belajar menjadi sosok yg lebih baik untuk satu sama lain, ya! Saling sayang, menghargai, menjaga dan terbuka. Selamat menjalani kehidupan baru sebagai suami istri, semoga bahagia selalu.

Cheers :)



No comments: