May 27, 2014

"masih pantas kah disebut guru?"

Bicara pendidikan sebenarnya sudah sejak lama saya ingin menulis ini, terlebih ketika mendengar pengalaman buruk dari teman atau mengingat pengalaman sendiri. Dan akhirnya keinginan untuk menulis itu tidak berakhir sebatas niat saja setelah saya membaca tulisan seorang anak yang dicap nakal dan hampir di-DO dari sekolahnya, namun berhasil mendapat nilai sempurna di Ujian Akhir Nasional untuk mata pelajaran yang jadi momok bagi kebanyakan siswa, matematika.

Jika tulisan tersebut mewakili anak yang mendapat predikat negatif dari guru-gurunya, maka bisa dibilang tulisan saya berikut ini berasal dari siswa yang pernah jadi kebanggaan, teladan dll di sekolahnya.

Kelas 1 SMP, sebagai anak baru, saya pernah mengundang perhatian guru dan orang tua murid lainnya saat terima raport dan dinyatakan tidak hanya sebagai juara 1 di kelas tapi juga juara umum di sekolah. Menginjak kelas 2 SMP, prestasi saya tidak segemilang sebelumnya tapi saya tetap menempati 3 besar di kelas.

Satu hari, salah satu guru yg juga Wakil Kepala Sekolah, datang ke kelas saya yang tengah ribut karena guru yg seharusnya mengajar saat itu absen. Kebetulan beliau masuk tepat saat pergantian jam pelajaran. Jadi ketika beliau masuk dan bertanya kelas saya diajar siapa, saat itu saya dan beberapa teman yg duduk paling depan menjawab dengan dua nama yg berbeda. Saya dan seorang teman menjawab Ibu Teti (nama guru berikutnya yg akan mengajar), dan yg lain menjawab Ibu Desna (nama guru yg sebelumnya mengajar namun absen). Karena perbedaan itu Pak Guru ini terlihat kesal lalu menyuruh siapapun yg menjawab "Ibu Teti" untuk datang menemui dia di kantor majelis guru. Perasaan saya tidak enak, tapi ya sudah saya penuhi panggilan itu bersama seorang teman lainnya. Tanpa diduga, di kantor majelis guru kami berdua dipaksa mengakui bahwa kami tidak senang dengan Ibu Desna, karena itu lah di mata pelajaran Ibu Desna kami malah bilang itu pelajarannya Ibu Teti.

Lucu ya? Iya, sekarang mengingatnya saya bisa senyum miris. Tapi tidak begitu saat kami "diadili" dan dihujat oleh Bapak satu ini di depan guru-guru lain yg alih-alih membela atau bersikap bijak, kebanyakan malah ikut menghujat kami. Ingin tahu yg lebih lucu lagi? Sebagai hukuman, kami berdua tidak diperkenankan mengikuti mata pelajaran Bapak ini. Lebih lucu lagi ketika Ibu Desna (yg jadi objek bahasan) mendengar kejadian ini malah heran kenapa hal seperti itu jadi masalah?! Kalau tadi saya bilang sekarang saya miris mengingatnya, itu lebih karena saya ga habis pikir kualifikasi pengajar macam apa yg diterapkan oleh sekolah saya selama ini? Sehingga maaf, guru seperti ini saja bisa mengajar bahkan jadi Wakil Kepala Sekolah?! Dan kesalahpahaman kecil ini tidak berhenti di sana saja, tapi membekas dalam pada kedua siswa yang benar-benar terpukul dan kecewa. Sejak kejadian itu, saya tidak bertegur sapa dengan guru ini meski pada akhirnya dia mencoba bersikap manis saat saya kelas 3, tapi sejak kejadian itu hingga hari ini, saya kehilangan rasa hormat terhadap beliau, dan juga terhadap beberapa guru yg masih saya ingat hingga kini.

Menginjak SMA. Saya masih bisa bertahan dalam posisi 3 besar di kelas. Puncaknya, ketika saya jadi salah satu siswa dengan perolehan nilai tertinggi di sekolah dan juga aktif di luar bidang akademis sebagai Ketua OSIS. Banyak guru (yg konon) menyukai saya.

Lalu di kelas 2 saya mulai pacaran. Oya saya belum bilang ya, kalau pacaran menjadi satu hal yg tidak disukai oleh para guru di sekolah saya. Jangan dulu membahas ini dari segi agama, karena saya yakin, kebanyakan dari guru yg tidak menyukai siswanya pacaran lebih menganggap ini hanya akan membuat nilai akademis siswa merosot. Saya patahkan anggapan itu dengan tetap menjadi tiga besar, meski nilai saya menurun (tapi nilai saya memang fluktuatif dari jaman saya masih jomblo lho hehe).

Singkat cerita prestasi saya di bidang akademik, aktivitas saya selama di OSIS dan perilaku saya yg 'lurus' saja, seolah tidak berarti lagi HANYA karena SAYA PUNYA PACAR. Kebanyakan guru kemudian melihat saya dengan cara yg berbeda, tidak lagi hangat seperti sebelumnya. Saya cukup terpukul. Tapi masih ada guru yg biasa-biasa saja, dan mereka justru guru yang tidak pernah saya dengar memuji atau terlibat obrolan akrab di luar kelas dengan saya. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa guru seperti ini, yg datang ke sekolah dengan tujuan mendidik/mencerahkan siswa dengan materi yg  diajarkan dan tidak 'repot' mengurus hal lain di luar itu, adalah gambaran guru ideal. Dan saya masih bersyukur karena sekolah saya masih memiliki guru-guru seperti itu. Meski tidak sedikit juga guru yg membuat saya (kembali) miris.

Ya miris, perasaan yg sama saat saya lulus SMP juga saya rasakan begitu lulus SMA. Salah satu hal yg paling saya ingat di detik terakhir saya berada di sekolah adalah ketika saya memberitakan kabar bahagia tentang kelulusan saya di SPMB. Kebanyakan guru memberikan ucapan selamat. Ada yg terlihat benar-benar tulus mengucapkannya dan ikut bahagia, ada pula yg sekedar basa basi. Bahkan salah satunya mengiringi ucapan selamat dengan pesan yg sangat mengetuk hati saya, "selamat ya, ingat kuliah di Bandung jangan pacaran mulu kerjaannya", perlu dicatat bahwa itu bukan candaan, karena disampaikan dengan nada dan ekspresi SINIS. Ya, pesan ini mengetuk hati dan pikiran saya bahwa banyak guru yg ternyata tak pantas mendapatkan rasa hormat yg tulus, setidaknya dari saya.

Lucunya setelah saya ingat-ingat lagi, guru yg bukannya membimbing, mengayomi, mencerahkan, menjadi teladan, tapi malah sibuk mengurus hal lain sampai lupa dengan tugas utama, sibuk mencari kesalahan dan hal negatif dari siswa, ternyata punya kesamaan saat berada di kelas. Cara mengajar dan penyampaian materinya susah dimengerti (setidaknya ini yang saya alami). Pertanyaan ekstrimnya kemudian adalah, "masih pantas kah disebut guru?"

1 comment:

Unknown said...

bait ke 7 dan 8 hehehe...