Saya dulu punya sahabat, yang entah kenapa setahun kemudian dia malah berbalik membenci saya. Berdua dengan temannya, mereka seperti membentuk koloni dan menyemai (halah) bibit kebencian pada saya. Dan itu berlangsung selama saya di SMP. Sialnya, saya satu SMA dengan mereka. Tapi beda kelas, fiuh! Tapi kelegaan ini tidak berlangsung lama, karena saya diangkat menjadi ketua OSIS, dan harus bekerjasama dengan mereka, yang tidak lain adalah sekretaris dan bendahara OSIS. Hahahaha....mereka benci saya, dan perlahan-lahan, saya pun mulai benci mereka, tapi kami selalu berjodoh (ketemu mulu)...
Banyak sekali hal menyebalkan yang terjadi...
Mulai dari masalah kecil yang sengaja mereka besar2kan untuk menjatuhkan saya, hingga hobi mereka yang sudah berlangsung dari dulu, bergosip macam-macam tentang saya. Bahkan ini tidak hanya di kalangan teman, tapi juga guru-guru. Fiuh...
Pas udah kuliah, saya berkunjung ke temen saya di Jakarta, dan kebetulan kosannya dekat dengan "musuh" saya ini. Saya pun diajak berkunjung ke sana, dan sepanjang jalan, teman saya selalu ngeledekin,
"adeuwh, yang mau ketemu 'sohib' lama niy..."
Saya tidak menanggapi, karena saya pikir semua itu hanyalah kekonyolan jaman SMP/SMA, yg bagi saya, tidak masuk akal jika "permusuhan" itu terus dilanjutkan hingga sekarang. Konyol sekali rasanya.
Ya, dan kami pun bertemu. Seperti biasa. Sejak saya tau mereka suka membicarakan saya di belakang, kami memang tidak pernah "perang" secara terbuka. Saat berhadapan selalu saling senyum dan bercanda layaknya teman biasa. Tapi kalau di belakang, wah, udah kaya mau nelen saya bulet2 aja...Saya pun berasa mau ngegaruk muka mereka pake garukan tanah...nyeheheheheh...Berakhirlah pertemuan kami dengan sebuah pelukan dan janji untuk ketemu lagi. See? Itu hanyalah masa lalu.
Ternyata dia sama saja dengan saya.
Bahwa yang lalu biarkanlah berlalu, dan konyol saja kalo hal2 tidak penting seperti itu masih dibawa2 sampe sekarang.
Setahun kemudian,
Suatu pagi di kantor,
Saya menerima telpon dari no.tak dikenal...
"halo..." ragu2 saya mengucapkannya.
"Halo, loe udah bikin tugas statistik blom?" tanya suara di seberang tanpa basa basi. Tampak terburu2 sekali dia.
"Ha? apa?Statistik?" ulang saya lagi.
"Iya...Statistik..." ulangnya tidak sabar.
Pertama, kalau dia nanyain tugas, pasti anak kampus. Cuma, masa iya ada anak2 yang tidak tau kalau saya sudah lulus beberapa bulan lalu? Dan sekarang masih nanyain tugas statistik yang entah di semester berapa???
Kedua, dari suaranya, tidak ada temen saya yang punya suara seperti itu, tapi saya familiar dengan suaranya.
"Ini siapa?" tanya saya akhirnya.
"Putri*(bukan nama sebenarnya). Hm, ini Martha kan?" tanya-nya masih dengan nada buru-buru.
"Ya..." saya sengaja menggantungkan suara, hingga akhirnya...
"Oh...sori... martha yang itu..." ga enak sekali nada suaranya.
Lalu, tampak menyadari kesalahannya (bahwa dia salah sambung) dia buru2 nutup telpon.
Hening
Saya masih bengong...
Dan sekian detik kemudian saya langsung mengeluarkan sumpah serapah...
"Sialan. Ngapain siy dia pake salah sambung segala. Bete!"
Jelas sekali, bahwa ada beberapa nama martha di hp-nya.
Dan jelas sekali martha yang dia maksud bukan saya.
Dan jelas sekali dia tidak berniat sekedar se-hi atau basa basi dulu, walopun dia lagi buru-buru. Toh, saya bukan martha yang sama sekali tidak dia kenal. saya martha yang pernah menjadi teman, musuh dan setahun yang lalu bertemu dengannya dan -menurut saya- kami sudah menjadi teman kembali dan kami baik2 saja.
Tapi kejadian kecil ini, nada suara dia itu, cukup memberikan satu bukti ke saya, bahwa sekalipun itu sudah berlalu sekian tahun, dan sekalipun sentimen pribadi dia, saya anggap sebagai kekonyolan saja, ternyata tidak begitu dengan dia.
Masih.masih.dan masih saja sampai sekarang.
Ada hal yang dulu saya -dengan naif-nya- pertanyakan,
"kenapa mereka tidak menyukai saya, padahal saya tidak berbuat apa-apa pada mereka. Apa salah saya pada mereka?"
"mereka cuma tidak suka saja sama kamu. Dan saya yakin mereka cuma sirik," hibur teman saya waktu itu.
"tapi saya merasa tidak ada yang perlu mereka sirikin dari saya,"ujar saya lagi putus asa.
Bertahun-tahun saya mempertanyakan itu. dan hingga sekarang, saat saya merasa sudah melupakan semua itu, tiba-tiba pertanyaan itu muncul kembali.
Sekalipun saya tidak pernah tau "kenapa?" toh, pada akhirnya saya memberikan jawaban untuk diri sendiri.
bahwa,
"kadang, orang tidak butuh alasan untuk benci pada kita. ketika mereka merasa tidak suka, ya sudah, maka itu artinya tidak suka. kita tidak bisa naif berharap semua orang suka pada kita. karena bagaimanapun kita merasa sudah melakukan hal yang baik untuk semua orang, jangan bermimpi semua orang akan menyukai kita..."
itu juga yang saya katakan pada teman saya baru-baru ini.
4 comments:
temen si martha koq kocak sihh...
sms aja tha', bilang "maneh tah naha sih taun segini masih ngerjaiin statistik??geblek siah, ku aing!!"
hmmm....klo kata Bu Pur dlu...itu berarti ga ada chemistry, Mih...heuheuheu...ion dirimu dan mereka saling menolak...ahahahahahahaha....*knp mesti inget Bu Pur ya?*
buahahhahaha...tadinya mau ngomong gitu, din. Cuma keburu ditutup telponnya waktu itu...Beuh! Lagian kalo ngomong gitu, dianya ga bakal ngerti juga nyehehehhehe^_^
oh gitu ya? Hm, baru denger gua...Tau gitu kan gua ajak beli minuman yang mengandung ion. Jadi ion-nya ga bakal beda lagi..... naoooooon deuih???
Post a Comment